AZIMAT CINTA (Bagian 2)
Surat Sang Kiai
Irfan bertipe pemalu, namun cerdas dan berbudi luhur. Berbudi bahasa yang santun. Tak hendak menyakiti hati orang lain, terlebih pada orang yang sangat berjasa baginya. Tapi itulah kelemahannya, canggung bila berhadapan dengan lain jenisnya. Terlebih dengan yang seusianya. Tak ayal lagi, dalam usia yang menapaki dua puluh lima tahunan belum ada seorangpun yang akan dipersiapkan untuk menjadi pendamping hidupnya.
Ada benarnya juga, apabila ayahnya sendiri pernah mengatakannya, "Jangan-jangan si Irfan itu tak lelaki tulen ya. Masak seusia itu belum ada reaksi apapun," ujarnya suatu ketika kepada Ibu Irfan.
"Sudahlah, Yah. Sebagai orang tua harus yakin, anak kita itu lelaki tulen. Pasti suatu waktu akan menemukan jodoh untuk dia. Kita doakan saja yang terbaik," jawab ibu Irfan perlahan.
Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, mereka berdua sore itu sudah tiba di dekat rumah gadis yang dituju. "Itu dia!" Ais menunjuk seseorang yang telah dikenalnya. Seorang gadis muda berkacamata tebal dengan wajah yang anggun penuh keibuan.
Perkenalan dengan Irfan pun terjadi. Walau baru pertama kali berkenalan dengannya, keduanya tampak akrab. Tak tampak canggung sebagaimana dugaan sebelumnya. Perkenalan itu menggiringnya pada sebuah persahabatan dan perjanjian untuk menjalin hubungan yang intens.
Entah berapa lembar surat telah saling berbalas untuk semata mengungkapkan perasaan masing-masing. Ada saja kurir yang ikhlas dan setia menyampaikannya. Media hape belum ada. Intelcom atau handy talkie, media komunikasi yang cukup efektif kala itu, tapi Irfan tak menyukainya.
Secara berkala walau tak harus terjadwal sebagaimana jadwal pelajaran di sekolah, kopi darat pun sering berlangsung. Umumnya wakuncar dilakukannya saban malam Minggu. Tidak dengan si Irfan. Ia menggunakan waktu Jumat sore dalam merajut cinta indah bersemi. Aneh bukan? Namun begitulah yang dilakukan olehnya. Tiada seorangpun yang menyelanya, apalagi hendak melarangnya.
Kira-kira dua bulan pertemanan itu sudah berlangsung. Berjalan mulus. Tak ada sandungan, walau sebesar kerikilpun. Hati keduanya berbunga-bunga. Irfan ingin memperkuat hubungan dengannya. Mengikat ujung dengan simpul yang kuat sehingga tak terberai. Melamarnya baik-baik tanpa menunggu waktu lama lagi.
Kedua orang tua Irfan mencoba arabas pagar. Mereka yang datang sendiri ke rumahnya. Namun, apalah daya gayung pun tak bersambut indah. Ibu si Ira ingin menjodohkan anaknya dengan keponakannya sendiri.
Masyaallah, Irfan merasa terpukul dengan keadaan yang demikian itu. Ira positif, ibunya yang negatif. Andai saja iman tak menguasainya, jalan akan buntu.
"Hadeh, ibu Ira itu telah merendahkanmu. Bawa kawin lari sajalah! Bukankah ia masih mencintaimu?" saran Jusa ketika bersamanya di warung kopi biasa mereka ngaso.
"Atau hayo kamu kuantar ke orang pintar, permalukan dia, balas juga dong!" ajak Jusi, kembaran Jusa.
Sudahlah, kamu kan tahu. Bagiku tabu hal yang demikian. Jikalau saran kalian kulakukan, lalu bagaimana kata dunia. Aku ini pendidik. Irfan mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan argumennya. Bersabar bagiku yang terbaik. Kemudian ia beranjak pergi menenangkan jiwanya.
Tertatih, kuasa untuk bangkit. Ia bersemangat untuk melanjutkan amanah kakeknya. Dunia tak selebar daun kelor. Ia mau membangun cinta yang mampu membawa kedamaian hatinya. Dirinya yakin dengan kesabaran dan kebesaran Ilahi.
Gayung pun bersambut. Tak berapa lama, Irfan akan diperkenalkan oleh seseorang yang telah mengenal dirinya dengan seorang wanita. Rumahnya tak jauh dari rumah Ira, yang cintanya terhempas kelabu. Tetangga, sahabatnya pula. Ifah namanya.
Bukan hanya akan dikenalkannya, melainkan ia yang akan meminangnya melalui surat untuk wanita itu. Ia salah seorang tokoh yang masyhur di mana keduanya berdomisili. Seluruh keluarga Irfan sangat berterima kasih karenanya.
Surat itu diterimanya oleh Ifah dari pamanya sendiri. Disodorkannya surat itu padanya di rumahnya. "Ini dari Kiai. Baca dan ikuti hatimu!" Petunjuknya singkat. Tanpa berlama-lama kembali.
Perlahan dibukanya surat tanpa amplop itu. Hanya dilipat lalu disteples. Secarik kertas bergaris yang mungkin disobeknya dari buku agenda. Selembar kertas yang cukup tebal berisi pesan singkat dan harapan indah.
"Saya hadiahkan untukmu seorang lelaki yang berakhlak baik. Dia bernama Irfanul Hakim. Insyaallah cocok untukmu. Terimalah dia, sebab saya yang meminangnya untukmu."
Dagdigdug, jantung Ifah berdetak keras. Tangannya gemetar. Dibacanya berulang-ulang sehingga tiga kali. Bagaimana ini? Aku tak mengenalnya. Masak akan menerimanya begitu saja. Mungkin saja ibu sudah tahu keadaan ini. Tapi menggunakan paman menghantarkannya. Surat ini dari guruku. Adakah ini akan menjadi azimat untukku? Ya, Allah. Berilah jalan keluar yang terbaik. Aamiin! Gumam Ifah, begitu usai membacanya.
Isi pesan surat yang ditujukan untuknya sungguh menikam. Didekapnya surat itu lalu cepat-cepat pula dilipat dan disimpan di buku hariannya.
Benar saja kata ibu Irfan bahwa keindahan itu akan terbangun dengan doa, sabar, dan ikhtiar yang ikhlas. Namun, belumlah Ifah menjawabnya, si kakek itu menghadap ke hadirat Ilahi dengan senyuman yang mengembang.
(Bersambung)#Ambunten, 14 April 2020
Komentar
Posting Komentar