AZIMAT CINTA (Bagian 2)
Surat Sang Kiai Irfan bertipe pemalu, namun cerdas dan berbudi luhur. Berbudi bahasa yang santun. Tak hendak menyakiti hati orang lain, terlebih pada orang yang sangat berjasa baginya. Tapi itulah kelemahannya, canggung bila berhadapan dengan lain jenisnya. Terlebih dengan yang seusianya. Tak ayal lagi, dalam usia yang menapaki dua puluh lima tahunan belum ada seorangpun yang akan dipersiapkan untuk menjadi pendamping hidupnya. Ada benarnya juga, apabila ayahnya sendiri pernah mengatakannya, "Jangan-jangan si Irfan itu tak lelaki tulen ya. Masak seusia itu belum ada reaksi apapun," ujarnya suatu ketika kepada Ibu Irfan. "Sudahlah, Yah. Sebagai orang tua harus yakin, anak kita itu lelaki tulen. Pasti suatu waktu akan menemukan jodoh untuk dia. Kita doakan saja yang terbaik," jawab ibu Irfan perlahan. Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, mereka berdua sore itu sudah tiba di dekat rumah gadis yang dituju. "Itu dia!" Ais menunjuk seseorang yang telah dikenal...