Postingan

Menampilkan postingan dengan label Novel

AZIMAT CINTA (Bagian 2)

Surat Sang Kiai Irfan bertipe pemalu, namun cerdas dan berbudi luhur. Berbudi bahasa yang santun. Tak hendak menyakiti hati orang lain, terlebih pada orang yang sangat berjasa baginya. Tapi itulah kelemahannya, canggung bila berhadapan dengan lain jenisnya. Terlebih dengan yang seusianya. Tak ayal lagi, dalam usia yang menapaki dua puluh lima tahunan belum ada seorangpun yang akan dipersiapkan untuk menjadi pendamping hidupnya. Ada benarnya juga, apabila ayahnya sendiri pernah mengatakannya, "Jangan-jangan si Irfan itu tak lelaki tulen ya. Masak seusia itu belum ada reaksi apapun," ujarnya suatu ketika kepada Ibu Irfan. "Sudahlah, Yah. Sebagai orang tua harus yakin, anak kita itu lelaki tulen. Pasti suatu waktu akan menemukan jodoh untuk dia. Kita doakan saja yang terbaik," jawab ibu Irfan perlahan. Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, mereka berdua sore itu sudah tiba di dekat rumah gadis yang dituju. "Itu dia!" Ais menunjuk seseorang yang telah dikenal...

AZIMAT CINTA (Bagian 1)

Kakek Inspirator Malam itu wajah rembulan tersenyum malu. Azan isya' sayup-sayup terdengar dari beberapa  corongan  penjuru masjid. Takbir,  Allahu Akbar  mengalun berirama, mendayu-dayu. Menelusuri ruang-ruang rohani yang nampak kerontang, beku dan dipenuhi keluh kesah. " Cong , kamu mau ke mana? Jangan tinggalkan aku!" Suara itu terdengar parau. Memelas, penuh iba. Terdengar dari sosok kakek tua yang tak sekekar dahulu lagi. Desah nafasnya memecah kesunyian malam. Ia terlentang kaku, tiduran di atas  lencak . Terhampar di atasnya sebuah alas kasur kapas, sudah memadat. Entah berapa bulan tiada tersentuh radiasi matahari. Kepalanya berat bersandar pada dua bantal yang lusuh. Benar-benar renta. Namun, kerutan di dahinya menandakan sisa-sisa kesemangatan hidup yang tinggi. "Kapan kamu akan kawin?" tanyanya lirih. "Usiamu sudah cukup dewasa. Kakek ingin melihatmu bahagia sebagaimana yang lainnya. Bawalah calon istrimu ke hadapanku yang mungkin aku tak kan ma...

AZIMAT CINTA (Bagian 3)

Mimpi yang Indah? Irfan belum bisa bernafas lega. Sekalipun akan dikenalkan pada seorang wanita, hatinya dirundung duka. Kakek yang sangat menyayanginya kini tiada. "Kek, mengapa hal ini seolah begitu cepat untukku? Saya belum melaksanakan amanahmu. Apalagi boro-boro membahagikanmu?" sesal Irfan dalam hatinya. Ia merenung sendirian di belakang rumah. Keningnya tampak mengerut. Sesekali ia menarik nafas dalam-dalam. Saat itu pula tangan kanannya memegangi keningnya. Lalu mengurutnya perlahan ke arah dahi beberapa kali. Alhasil, beban puyengnya sedikit mereda. Irfan seolah-olah menyesali apa yang terjadi. Batinnya merasa terpukul. Bagaimana tidak? Kakek yang berjiwa besar itu selalu hadir kapan saja. Terlebih saat dirinya merasakan kegalauan, kakek menyemangatinya.  Harokah  hidup selama bersamanya sangat menginspirasi diri Irfan. Seluruh keluarga kini berkabung. Irfan tak mampu membendung tangisnya. Air matanya mengalir deras. Matanya sembab, memerah. Sesekali ia mengambil tis...