LISAN JENDELA KEPRIBADIAN

Cerpen Cahaya Dhuha #34

LISAN JENDELA KEPRIBADIAN 
@hmad Rasyid 


Senja merayap perlahan di ufuk barat. Langit memerah lembut, seolah menyapa bumi dengan hangatnya akhir Ramadan. Di teras rumah sederhana itu, Kakek Acit duduk bersila sambil mengipasi dirinya dengan kipas bambu. Di sampingnya, dua cucu kesayangannya, Daffa dan Nadifa, tampak sibuk dengan dunia kecil mereka - satu menggambar, satu lagi mengganggu kakaknya.

“Aduh, Nadifa! Jangan diwarnain kumisnya jadi ungu dah!” protes Daffa sambil menutup gambarnya.

Nadifa terkekeh. “Biar lucu, Kak. Masa kakek-kakek kumisnya hitam terus. Sekali-sekali ungu biar kayak artis.”

Kakek Acit tertawa kecil. “Lho, kalau kumis Kakek diwarnai ungu, nanti orang kampung bilang Kakek ikut lomba badut lebaran.”

“Wah, Kakek menang pasti!” seru Nadifa.
“Menang jadi apa? Badut teraneh?” sahut Daffa cepat.

Mereka bertiga tertawa. Dari dapur, aroma kolak pisang dan gorengan mulai menyusup, mengundang perut yang sejak siang menahan lapar.

Di dalam, Nyek Ulfa dan Bunda Anisa sibuk menyiapkan hidangan berbuka.

“Anisa, tolong cicipi gulanya cukup belum,” kata Nyek Ulfa sambil mengaduk kolak.

Bunda Anis meminta Daffa untuk bantu mencicipinya sedikit. “Hmm… manisnya pas, Nyek. Seperti nasihat Kakek Acit, ini tidak berlebihan.”

Nyek Ulfa tersenyum. “Semoga yang makan juga jadi manis lisannya.”

Di teras, Kakek Acit mulai mengusap janggutnya pelan. Wajahnya berubah sedikit lebih serius, meski matanya tetap hangat.

“Daffa, Nadifa… kalian tahu tidak, kenapa puasa itu disebut madrasah?”

Daffa mengangkat bahu. “Karena belajar nahan lapar, Kek?”

Nadifa menimpali, “Sama nahan marah kalau Kak Daffa nyebelin!”

“Eh!” Daffa menoleh kesal.

Kakek Acit tertawa pelan. “Betul, tapi bukan hanya itu. Puasa itu madrasah karena mengajarkan kita banyak hal. Salah satunya adalah menjaga lisan.”

“Lisan itu mulut ya, Kek?” tanya Nadifa polos.

“Iya. Tapi bukan cuma mulut, tapi juga apa yang keluar darinya.”

Daffa berpikir sejenak. “Maksudnya, ngomong yang baik-baik?”

Kakek Acit mengangguk. “Nah, itu. Orang yang benar-benar berilmu, bukan hanya pintar bicara, tapi tahu kapan harus bicara dan apa yang harus diucapkan.”

Nadifa tiba-tiba menyela, “Kalau orang yang suka ngomel-ngomel itu berarti tidak berilmu ya, Kek?”

Kakek Acit tersenyum bijak. “Bukan begitu. Bisa jadi dia punya ilmu, tapi belum mampu menjaga lisannya. Ilmu itu harus menerangi hati. Kalau hati bersih, kata-kata juga akan bersih.”

Daffa mengangguk-angguk. “Seperti kata yang sering Kakek bilang, hati bersih keluar kata baik?”

“Betul,” jawab Kakek Acit. “Kalau hati kotor, yang keluar juga kata-kata yang menyakiti.”

Nadifa menatap kakaknya sambil menyeringai. “Berarti Kak Daffa tadi hatinya agak kotor, soalnya ngomel ke aku.”

Daffa langsung protes, “Lho, kamu yang mulai duluan!”

Kakek Acit tertawa lagi, lebih lepas kali ini. “Nah, ini contoh kecil. Puasa itu mengajarkan kita untuk menahan diri, termasuk menahan lisan dari membalas.”

Daffa terdiam, lalu berkata pelan, “Berarti aku harusnya tidak marah ya tadi?”

“Bukan tidak boleh marah,” jawab Kakek Acit lembut. “Tapi belajar mengendalikan. Orang berilmu itu terlihat dari ucapannya. Kalau dia marah pun, kata-katanya tetap baik.”

Nadifa mengangguk-angguk, lalu berkata, “Kalau aku marah, aku bilangnya ‘Kak Daffa menyebalkan tapi aku tetap sayang’.”

Daffa tertawa kecil. “Itu bukan marah, itu manja.”

Dari dalam, suara Bunda Anisa terdengar, “Anak-anak, sebentar lagi azan. Siapkan gelas kalian.”

Nadifa berdiri cepat. “Aku duluan!” Ia berlari kecil ke dalam.

Daffa mengikuti, tapi sempat berhenti dan menoleh ke Kakek Acit. “Kek, berarti orang yang banyak ngomong tapi suka menyakiti orang lain itu bukan orang berilmu?”

Kakek Acit menghela napas pelan, lalu berkata, “Bisa jadi dia punya banyak pengetahuan. Tapi ilmu yang sejati adalah yang membuat seseorang semakin lembut lisannya.”

Daffa mengangguk pelan, seolah memahami sesuatu yang lebih dalam.

Di dapur, suasana hangat terasa. Nyek Ulfa menyusun gorengan, sementara Bunda Anisa menuangkan kolak ke mangkuk.

“Anak-anak, duduk yang rapi,” kata Bunda Anisa.

Nadifa sudah duduk manis, tapi matanya terus melirik gorengan. “Bunda, boleh satu dulu?”

“Belum azan, Nak.”

“Cuma dicium boleh?” tanyanya polos.

Nyek Ulfa tertawa. “Kalau dicium nanti malah tambah lapar.”

Kakek Acit masuk perlahan dan duduk bersama mereka. “Nah, ini juga bagian dari madrasah puasa. Menahan diri dari yang halal sampai waktunya tiba.”

Daffa tersenyum. “Ternyata puasa itu banyak pelajarannya ya, Kek.”

“Banyak sekali,” jawab Kakek Acit. “Dan salah satu yang paling penting adalah menjaga lisan. Karena dari situlah orang lain mengenal siapa kita.”

Nadifa tiba-tiba berkata, “Berarti kalau aku ngomong baik, aku termasuk orang berilmu dong?”

Kakek Acit tersenyum. “Itu tanda kamu sedang belajar menjadi orang berilmu.”

“Kalau Kak Daffa?” tanya Nadifa lagi.

Daffa cepat menjawab, “Aku juga dong!”

“Kadang-kadang,” goda Nadifa.

Semua tertawa.

Tak lama kemudian, suara azan magrib berkumandang. Suasana seketika menjadi khusyuk. Mereka semua terdiam sejenak, lalu membaca doa berbuka dipandu oleh Kek Acit.

"اللهم لك صمت وعلى رزقك افطرت ذهب الظما ء وابتلت العرق وثبت الاجر برحمتك يا ارحم الراحمين."

Seteguk air terasa begitu nikmat. Kolak pisang yang hangat menyusul, menghapus lelah dan lapar sepanjang hari.

Di sela-sela makan, Kakek Acit berkata pelan, “Ingat ya, Nak. Puasa bukan hanya menahan lapar, tapi juga mendidik hati dan lisan. Orang yang lisannya baik, itulah tanda hatinya telah disentuh oleh ilmu.”

Daffa dan Nadifa mengangguk bersamaan.

Di luar, langit mulai gelap, namun hati di dalam rumah itu terasa terang. Tiga hari lagi lebaran akan tiba, tapi pelajaran Ramadan terasa ingin mereka simpan lebih lama.

Nadifa bersandar pada Kakek Acit. “Kek… nanti kalau lebaran, kita tetap jaga lisan ya?”

Kakek Acit mengelus kepalanya. “Bukan hanya saat lebaran, tapi selamanya.”

Daffa menambahkan, “Supaya kita jadi orang berilmu yang benar, bukan cuma kelihatan pintar.”

Kakek Acit tersenyum bangga. “Itulah hakikat puasa sebagai madrasah. Ia tidak hanya mengajar kita sebulan, tapi membimbing kita seumur hidup.”

Dan di antara tawa kecil, candaan ringan, serta hangatnya keluarga, pelajaran itu diam-diam tumbuh mengakar dalam hati, dan suatu hari akan berbuah dalam lisan yang penuh kebaikan.

AmbuEnten, 18 Maret 2026
#CahayaDhuhaAsaKeluarga 
#CerpenBuatCucunda

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI