WASIAT SYAIKHONA SYUHAIL IMAM DALAM MIMPIKU

WASIAT SYAIKHONA SYUHAIL IMAM DALAM MIMPIKU
@hmad Rasyid 


Malam itu terasa panjang, seolah waktu berjalan lebih lambat dari biasanya. Tubuhku terbaring lemah, diselimuti rasa gamang dan ketakutan akan keadaanku yang saat itu mendapati ujian nikmat sakit stroke. 

Setiap helaan napas seperti membawa beban, dan setiap gerak kecil terasa menguras tenaga. Dalam sunyi itu, aku mulai memahami bahwa sakit bukan sekadar penderitaan - ia adalah panggilan halus dari Allah agar hamba-Nya kembali menunduk.

“Ya Allah…,” bisikku lirih, “jika ini nikmat yang tersembunyi, ajarkan aku cara mensyukurinya.”

Di luar, angin malam berbisik pelan. Langit tampak redup, seakan turut merasakan rapuhnya tubuh ini. Aku memejamkan mata, membiarkan diri tenggelam dalam keheningan. Entah kapan tepatnya, antara sadar dan tidak, aku pun memasuki sebuah mimpi yang begitu nyata.

Aku sedang duduk-duduk di sebuah tempat yang terang namun menenangkan. Tidak ada rasa sakit, tidak ada kegelisahan. Hanya ketenteraman yang meresap hingga ke dalam jiwa. Di hadapanku, tampak seorang sosok mulia - wajahnya teduh, sorot matanya penuh kasih, dan kehadirannya menghadirkan rasa hormat yang dalam.

Hatiku bergetar. Aku mengenal beliau.
Syaikh waliyullah Syuhail Imam Ambunten, guru kami.

Aku menunduk, tak kuasa menatap terlalu lama. Ada rasa haru yang tak terbendung, seolah aku sedang dipertemukan dengan cahaya yang selama ini sering kudengar dalam kisah-kisah bahkan sesekali dalam dunia nyata.

Beliau tersenyum lembut.

Beliau memandangku dengan penuh kasih, seakan melihat lebih dalam dari sekadar tubuh yang lemah.

“Sakit ini adalah nikmat,...” lanjutnya, “...karena dengannya Allah mendekatkanmu.”

Air mataku menetes. Kata-kata itu sederhana, namun terasa menembus ke relung hati yang paling dalam.
Kemudian beliau berkata, dengan suara yang lebih pelan namun penuh makna, “Istiqomahlah mendoakan kebaikan bagi orang lain.”

Hanya itu. Singkat. Namun terasa luas seperti samudera.

Perlahan, sosok itu mulai memudar. Cahaya di sekitarnya pun ikut menghilang.

Aku terbangun.

Aku terdiam, mencoba memahami. Dalam keadaan lemah seperti ini, justru aku diminta untuk memikirkan orang lain?

Hatiku bergetar hebat.

“Doa untuk orang lain,..." pikirku saat aku terbangun. "...Ia adalah jalan keikhlasan. Di situlah Allah melihat kebersihan hati hambanya,” benakku.
Aku menangis dalam diam. Selama ini, betapa sering aku hanya memohon untuk diriku sendiri. Jarang sekali aku mendoakan orang lain dengan tulus, tanpa harap balasan.

Sejak kehadirannya aku memulai dari hal yang sederhana. Satu doa yang ikhlas… dan harus dijaga dengan istiqomah.

*****

Mataku terbuka, kembali pada kamar yang sama, tubuh yang masih lemah. Namun ada sesuatu yang berbeda dengan hatiku terasa lebih lapang.

Aku teringat wasiat itu.

Dengan suara lirih, aku mulai berdoa,

“Ya Allah… bahagiakan orang tuaku… mudahkan urusan sahabat-sahabatku… sehatkan di antara mereka yang sedang sakit... dan berikan kebaikan bagi siapa pun yang pernah menyakitiku….”

Air mataku jatuh, namun kali ini terasa hangat.

Dalam doa untuk orang lain, aku menemukan ketenangan yang selama ini kucari.

Sejak malam itu, aku belajar satu hal bahwa di balik sakit, ada cahaya.

Dan di balik doa untuk orang lain, Allah sedang diam-diam menyembuhkan hati kita sendiri.

AmbuEnten, 25 Maret 2026 
#MuhasabahDiri
#BerbagiItuIndah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI