KISAH OASE PAGI
Cerpen Cahaya Dhuha #32 KISAH OASE PAGI @hmad Rasyid Sore itu, langit berwarna jingga keemasan. Matahari perlahan turun, seolah sengaja melambat agar manusia sempat merenung. Angin sore berembus pelan di halaman rumah tua bercat hijau pucat. Di beranda, Kakek Acit duduk di kursi kayu panjang, sambil memijat lututnya yang mulai sering protes jika cuaca berubah. Daffa duduk di lantai beralas tikar pandan, memainkan batu-batu kecil. Nadifa bersandar di tiang beranda, menggoyang-goyangkan kakinya sambil memegang segelas kopi pahit yang sudah cukup dingin untuk kakeknya. “Sabtu sore gini enaknya ngapain, Kek?” tanya Nadifa, matanya menerawang ke langit. Kakek Acit tersenyum. “Kalau menurut Kakek, paling enak itu… diam.” Daffa langsung protes, “Hah? Diam doang? Itu mah kayak patung di museum, Kek.” Kakek Acit terkekeh. “Nah, patung itu mahal, Nak. Kamu jangan meremehkan.” Nadifa ikut tertawa. “Kalau Daffa jadi patung, pasti patung yang lagi manyun.” “Heh!...” Daffa mendengus. “......