RAJAB DI BERANDA RUMAH KAKEK ACIT
Cerpen Cahaya Dhuha #22
RAJAB DI BERANDA RUMAH KAKEK ACIT
@hmad Rasyid
Sore itu angin berembus pelan di beranda rumah kayu milik Kakek Acit. Langit berwarna jingga keemasan, burung-burung pulang ke sarang, dan suara azan Asar dari masjid kampung terdengar samar namun menenangkan.
Kakek Acit duduk di kursi rotan kesayangannya, bersarung kotak-kotak dan berpeci hitam yang sudah mulai pudar warnanya. Di tangannya, tasbih kayu berwarna cokelat tua bergerak perlahan.
Dua cucunya duduk bersila di lantai beranda. Daffa, si kakak yang kritis dan suka bertanya, sedang memainkan batu kecil. Nadifa, adiknya, sibuk menggambar bulan sabit di buku tulisnya.
“Kakek,” tiba-tiba Daffa bersuara, “kata Ustaz di masjid, sekarang sudah masuk bulan Rajab ya?”
Kakek Acit tersenyum, keriput di wajahnya semakin jelas. “Iya, Nak. Alhamdulillah… Allah masih kasih kita umur buat ketemu bulan mulia.”
Nadifa mengangkat kepalanya. “Bulan mulia itu maksudnya apa, Kek? Bulannya pakai mahkota?”
Daffa langsung tertawa.
“Bulan mana bisa pakai mahkota, Difa. Nanti jatuh!”
Kakek Acit ikut terkekeh kecil. “Kalau bulan pakai mahkota, mungkin langit jadi panggung raja, ya.”
Nadifa nyengir puas.
“Rajab itu termasuk Al-Asyhurul Hurum,...” lanjut Kakek Acit dengan suara lembut. “...yaitu bulan-bulan yang Allah muliakan.”
Daffa mengernyitkan dahi. “Itu yang empat bulan itu kan, Kek? Aku lupa urutannya.”
Kakek Acit mengangguk pelan. “Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Rasulullah ï·º yang mengajarkannya.”
Nadifa menepuk tangannya pelan. “Berarti Rajab itu bulan spesial dong! Kita puasa terus ya, Kek!”
Daffa menimpali cepat,
“Puasa satu bulan penuh, terus sholat malamnya tiga kali lipat!”
Kakek Acit tertawa kecil, lalu menggeleng perlahan.
“Nah, ini yang harus Kakek luruskan.”
Kedua cucunya langsung diam, memasang wajah serius—meski Nadifa masih sedikit cemberut.
“Rajab memang mulia,...” kata Kakek Acit, “...tapi tidak ada ibadah khusus yang Allah atau Rasulullah ï·º perintahkan secara khusus di bulan ini. Tidak ada puasa Rajab tertentu, tidak ada sholat malam Rajab tertentu.”
Nadifa mengedipkan mata.
“Lho… terus Rajab ngapain dong, Kek?”
Daffa menyenggol bahu adiknya. “Paling disuruh rajin aja, Difa.”
Kakek Acit tersenyum bangga. “Betul. Rajab itu bukan soal menambah yang aneh-aneh, tapi memperbaiki yang sudah ada.”
Ia menatap langit yang mulai gelap. “Di bulan mulia, pahala kebaikan dilipatgandakan, dan dosa pun lebih berat timbangannya.”
Nadifa langsung menutup buku gambarnya. “Berarti nggak boleh marah-marah ya, Kek?”
Daffa nyengir. “Termasuk marah sama kakak?”
Nadifa manyun. “Kakak kan nyebelin.”
Kakek Acit tertawa cukup keras sampai bahunya berguncang. “Nah, itu latihan pertama di bulan Rajab: menahan diri.”
Daffa mengangguk pelan. “Jadi yang pertama itu memperbanyak amal shalih secara umum ya, Kek?”
“MasyaAllah,..." kata Kakek Acit. “...Kamu dengar betul.”
“Yang kedua apa?” tanya Nadifa cepat.
“Memperbanyak istighfar dan taubat,...” jawab Kakek Acit lembut. “...Rajab itu waktu membersihkan hati. Seperti menyapu rumah sebelum tamu besar datang.”
Daffa tersenyum. “Tamu besarnya Ramadhan?”
“Betul,” jawab Kakek Acit. “Kalau rumahnya kotor, tamu datang pun kita nggak nyaman.”
Nadifa mengangguk-angguk serius. “Berarti Rajab itu bulan sapu-sapu hati.”
“Dan jangan lupa,...” tambah Kakek Acit, “...menjaga diri dari maksiat. Rajab bukan cuma soal rajin ibadah, tapi juga menahan diri dari dosa.”
Daffa terdiam sebentar, lalu berkata pelan, “Berarti main HP kebangetan juga harus dikurangin ya, Kek?”
Kakek Acit tersenyum bijak. “HP itu alat, Nak. Kalau dipakai baik, jadi pahala. Kalau berlebihan, bisa jadi lalai.”
Nadifa tiba-tiba berseru,
“Kek! Kata ustadzah, Rajab itu bulan menanam!”
Kakek Acit mengangguk mantap. “Para ulama salaf berkata: Rajab bulan menanam, Sya’ban bulan menyiram, dan Ramadhan bulan memanen.”
Daffa tersenyum lebar.
“Berarti sekarang kita lagi jadi petani iman.”
“Petani yang rajin,...” tambah Kakek Acit, “...bukan yang cuma foto sawah tapi nggak nanam.”
Nadifa dan Daffa langsung tertawa.
Azan Maghrib berkumandang, mengakhiri obrolan sore itu.
Kakek Acit berdiri perlahan. “Yuk, kita sambut Rajab dengan ilmu, bukan cuma tradisi. Dengan sunnah, bukan sekadar kebiasaan. Dan dengan niat memperbaiki diri.”
Daffa meraih tangan kakeknya. “Semoga kita ketemu Ramadhan ya, Kek.”
Nadifa ikut menggenggam tangan mereka. “Dan jadi petani iman yang panennya banyak!”
Kakek Acit tersenyum haru. “Aamiin… semoga Allah memberkahi usia kita, menguatkan amal kita, dan menuntun langkah kita. Sebelum ditutp berdoa dulu ya. Doa yang Rasulullah ajarkan. Allahumma bariklana fi Rajaba Wasya'bana waballighna Ramadhan. Aamiin.”
Langit semakin gelap, namun beranda rumah Kakek Acit terasa hangat—dipenuhi ilmu, tawa, dan harapan yang tumbuh di bulan Rajab yang dimuliakan.
AmbuEnten, 22 Desember 2025
#CahayaDhuhaAsaKeluarga
#CerpenBuatCucunda
Komentar
Posting Komentar