NISFU SYAKBAN DI UJUNG MADURA: TRADISI SALLIMAN DAN TUTUP BUKU AMAL
NISFU SYAKBAN DI UJUNG MADURA: TRADISI SALLIMAN DAN TUTUP BUKU AMAL
@hmad Rasyid
Malam Nisfu Sya’ban di Sumenep selalu punya denyutnya sendiri yang terbilang unik. Udara Kota Sumenep terasa lebih hangat, bukan karena cuaca, melainkan karena sebuah tradisi yang membudaya saling menghangatkan hati. Dari pusat kota hingga pinggiran Manding, seperti Lalangon dan Kasengan lampu-lampu rumah menyala lebih awal, pintu-pintu terbuka lebih lama, dan senyum terasa lebih murah dibagikan.
Bagi masyarakat yang menamakan diri Jam’iyah Ahlussunnah, malam pertengahan bulan Sya’ban bukan sekadar tanggal di kalender hijriah.
Malam itu diyakini sebagai saat diangkatnya catatan amal manusia, laporan resmi malaikat Raqib dan Atid ke Hadirat Allah SWT. Maka, sebelum “buku lama” ditutup dan “buku baru” dimulai, mereka ingin membersihkannya dengan doa dan maaf. "Nolganol" mereka istilahkan.
Sejak awal Maghrib masjid-masjid dan mushola penuh. Masyarakat hadir memadatinya tempat-tempat suci terdekat tersebut.
Sehabis salat berjamaah mereka membaca tiga kali Alquran Surah Yasin dibaca bersama yang dipimpin oleh seorang imam.
Membaca Yasin dengan niat yang berbeda, yaitu: a) memohon rezeki yang berkah; b) memohon umur panjang yang mendekatkan diri kepada Allah; dan c) memohon akhir kehidupan yang husnul khatimah.
Suara bacaan itu mengalun pelan, serempak, dan mantap, seperti ombak kecil yang tak pernah lelah menyentuh pantai iman.
“Setiap tahun rasanya tetap sama, tapi juga selalu baru,” bisik Fikri pada temannya, Hamdan, usai doa penutup.
Hamdan mengangguk. “Karena yang diperbarui bukan acaranya, tapi hati kita.”
Selepas dari masjid, denyut malam justru semakin terasa. Para pemuda dan pemudi berkelompok rapi ada yang bertiga hingga lebih dari lima orang. Mereka kerangkat ke rumah-rumah, tak ada yang duduk lama di satu rumah.
Mereka bertandang, bersua, lalu berpamitan. Satu rumah ke rumah lain, bahkan lintas desa. Dari Kasengan ke Lalangon, dari Lalangon ke kampung sebelah. Atau kalau di perkotaan ada yang dari desa Kolor hingga Pamolokan dan begitu sebaliknya.
“Assalamu’alaikum, kami minta maaf lahir batin, Bu/Bapak,” ucap mereka serempak, penuh takzim, tanpa perlu duduk.
Para tetua rumah menyambut dengan wajah berbinar. “Iya, Nak. Sama-sama. Semoga Allah mengampuni kita semua.”
Tangan-tangan tua itu lalu menyodorkan bungkusan kecil: rengginang, kue cucur, tape ketan, atau sekadar permen dan biskuit. Bahkan ada ikhlas menyiapkan angpaw untuk mereka dengan suka cita.
Bukan soal isinya, tapi maknanya yaitu wujud syukur dan ikatan persaudaraan.
Di jalan desa yang sempit, tawa ringan terdengar di sela langkah. Kantong plastik di tangan para pemuda kian penuh.
“Kalau begini, pulang-pulang bisa buka warung,” canda Hamdan sambil mengangkat bawaannya.
Fikri tertawa. “Yang penting berkahnya, bukan jumlahnya.”
Di sepanjang perjalanan, doa terus dilantunkan, kadang lirih, kadang berlagu bersama:
Allahumma bariklana fi Rajaba wa Sya’ban, wa ballighna Ramadhan, wa hasshil maqasidana.
Doa itu mengalir di jalan-jalan, di antara langkah kaki dan cahaya lampu rumah, menyatu dengan napas malam Nisfu Sya’ban.
Hingga sekitar pukul sebelas malam, rombongan mulai berpencar. Ada yang pulang ke rumah, ada pula yang kembali ke masjid untuk menginap, membawa hasil silaturahmi mereka. Di rumah, sebagian bungkusan dimakan bersama keluarga, sebagian lagi dibagi ke tetangga, bahkan ada yang dijual murah ke teman. Bukan untuk mencari untung, tapi untuk kebersamaan.
“Yang penting semua kebagian,” kata seorang ibu di Kasengan sambil tersenyum.
Di situlah keindahan salliman terasa utuh. Dosa-dosa, terutama yang menyangkut hak sesama manusia diharapkan luruh.
Silaturahmi menguat, hati terasa ringan, dan kenangan pun tercipta. Kenangan yang kelak akan diceritakan ulang, ketika rambut mulai memutih dan langkah tak lagi secepat malam itu.
Tradisi ini mungkin hanya terjadi di wilayah-wilayah tertentu di Madura, dengan caranya yang khas. Daerah lain tentu punya sambutan Nisfu Sya’ban yang berbeda.
Namun bagi kecamatan Kota Sumenep dan desa-desa di Manding, salliman adalah warisan rasa: rasa iman, rasa persaudaraan, dan rasa bahagia yang sederhana.
Dan setahun sekali, rasa itu kembali mengetuk pintu untuk dibuka, diterima, dan dikenang sepanjang usia.*)
AmbuEnten, 3 Pebruari 2026 (15 Syakban 1447 H)
*) Catatan Kecil: Pak Acit
Komentar
Posting Komentar