SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA 
Karya Ahmad Rasyid 

Langit mulai temaram, semburat jingga tersisa di ufuk barat. Angin sore berhembus lembut di halaman pesantren Mathali'ul Anwar, Sumenep. Suara azan maghrib telah usai sejak beberapa menit lalu. 

Aku, Ahmad Rasyid, tergesa-gesa melangkah menuju musholla. Nafasku masih tersengal, baju kokoku sedikit kusut karena terburu-buru dari pondok utara, Pangarangan yang cukup jauh dengan berjalan kaki menuju pondok selatan, Kepanjin.

Gerbang pondok masih terbuka, lampu-lampu dalam mushalla menyala temaram, menghadirkan keteduhan yang menenangkan. Suasana hening. 

Jamaah telah berdiri dalam shaf, takbirpun telah berkumandang. Dan di sana, berdiri sejajar dengan para santri, sosok yang senantiasa menghadirkan wibawa dalam setiap geraknya: Syaikhona Abus Suyuf Ibnu Abdillah, guru besar kami di Pondok Pesantren Matholiul Anwar, panutan ruhani, cahaya dalam kepekatan zaman.

Yang menjadi santri senior malam itu adalah Ustadz Ahmad Busri, Gapura yang diberi tugas menjadi imam shalat kala waktu maghrib. 

Maklum saja pabila aku dan atau santri lain sedikit menjaga jarak dari Syaikhona, khususnya pada saat beliau menjadi makmum terlebih berdiri di shaf belakang. Hal indah sebagai bagian dari sikap ketawadhuan para santri terhadap guru. Kebetulan malam itu, aku yang sejajar dengan beliau. 

Sebagai santri, aku tahu itu jika Syaikhona sudah memulai salat. Maka aku tak menyela, bahkan berani memposisikan agak renggang walaupun dalam shaf salat. Aku melangkah perlahan ke sisi kanan, menunduk dalam diam, bermakmum dengan penuh khidmat.

Tak kusangka, tangan kanan Syaikhona bergerak. Beliau julurkan perlahan, menarik lengan bajuku lembut. Isyarat halus itu seolah berkata: Dekatlah, rapatkan shaf. Aku pun melangkah setapak mendekat. Tak berani menatap wajah beliau, tapi hangat teladannya menyusup ke dada.

Salat pun berlangsung khusyuk, rakaat demi rakaat terlewati dalam keheningan penuh khidmat. Setelah salam di akhir salat, Syaikhona berpaling ke arahku. Wajah beliau bersinar tenang, matanya menatap lembut, namun dalam dan tegas.

“Anak-anakku...,” ucap beliau pelan namun menggema di dada aku dan para santri lainnya, “...dalam salat berjamaah, rukun fi'liyah itu sama pentingnya dengan rukun qauliyah. Rapatkan shaf, jangan biarkan ruang kosong. Sebab di ruang kosong itulah setan mengintai, mengganggu kekhusyukan dan mengurai kekuatan.”

Semua menunduk, menyimak. Tak terkecuali. Baru kemudian Ustadz Ahmad Busri menegaskan, “Betul, yang didawuhkan Syaikhona. Kadang kita mengabaikan celah-celah itu. Padahal dalam hadis disebutkan, shaf yang rapat bagian dari kesempurnaan salat.”

Syaikhona mengangguk. “Dan ketika kalian menunjuk seseorang menjadi imam,” lanjutnya, “pastikan ia orang yang fasih dalam bacaan salat, paham tentang rukun fikli dan syarat-syarat sahnya salat. Jangan karena sekadar senioritas atau kebiasaan. Salat itu amanah. Seorang imam memikul keabsahan salat seluruh makmumnya.”

Aku menunduk makin dalam. Kata-kata beliau menyentuh nurani. Betapa selama ini aku hanya mengikuti alur, tanpa benar-benar mengamati siapa yang layak menjadi imam. Syaikhona melirik ke arahku, lalu tersenyum.

“Ahmad Rasyid,” panggil beliau lembut. Aku terkejut, tapi segera menjawab, “Na‘am, ya Syaikhona.”

“Langkahmu tadi benar. Tapi ingat, saat engkau masuk dalam jamaah, pastikan yang menjadi imam adalah orang yang memahami fikih. Jika tidak, lebih baik tunggu atau bentuk jamaah sendiri.”

Aku mengangguk dalam. Malam itu, pelajaran tentang salat berjamaah tak hanya terucap dalam kata, tapi juga terasa dalam gerakan dan keteladanan. Dari tarikan lembut lengan beliau, dari senyum tipis yang meneduhkan, dari dialog singkat yang mengakar kuat.

*****

Seusai salat, para santri berkumpul di serambi musholla. Obrolan ringan mengalir, tapi semua masih terpantul pada nasihat Syaikhona.

“Beliau sepertinya tahu kapan harus bersuara, dan kapan cukup dengan isyarat,” gumam Ustadz Busri.

“Tarikan tangan itu,” sahutku lirih, “lebih kuat dari seribu kata. Aku merasa bukan hanya disuruh mendekat secara fisik, tapi juga secara ruhani.”

Salah satu santri lain menambahkan, “Dan beliau tak sekadar memberi nasihat, tapi menunjukkannya. Itu yang membuat hati ini tunduk.”

Malam menebar kesejukan. Angin lembut menyentuh dedaunan, seolah ikut menyimak perbincangan kami. Di langit, bintang mulai bermunculan. Dan di bumi pesantren ini, cahaya ilmu dan adab terus menyala—melalui sosok Syaikhona yang diamnya mendidik, geraknya menuntun, dan ucapannya membawa kita pada makna yang dalam.

Padangdangan, 19 Mei 2025


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI