KALAM CINTA SESESAP KOPI

KALAM CINTA SESESAP KOPI 
Oleh. Ahmad Rasyid

“Mo, dhimma?” suara itu terdengar agak serak, sedikit keras. Walhasil terasa kasar di telinga pendengarnya. Nada tinggi yang terbawa amarah akan menyisakan kesan sedikit kurang ramah. Suara itu terlontar dari seorang lelaki tua yang sedang berbaring di atas lencak. Posisinya di balik pintu. Ia segar-bugar, tidak sakit. Kebiasaanlah yang membawanya demikian. 

Jikalau usai salat subuh ia buka sarungnya dan dijadikannya sebagai selimut sehingga matahari menyingsing. So pasti untuk merajut sisa-sisa mimpi yang terserak. Yang nampak lencak itu berselimut seprei lusuh juga kumal. Entah berapa bulan seprei itu telah lupa tak digantinya. Mungkin bukan tiada seprei ganti, melainkan faktor usialah yang membuat sikap enggan terhadap yang dianggap kurang mendesak. 

Siapapun akan mengalaminya. Perubahan demi perubahan pada seluruh organ akan meninggalkannya sebagai masa lalu. Kulit yang kencang dengan warna kecoklat-coklatan darinya, kini keriput serta menua. Kulit pada kelopak matanya mulai lembek menggantung. Pandangan matanya kian rabun. Semua terlihat lemah dan sayu. Rambut lurusnya yang selalu tipis semakin bersemarak memutih. Dipangkasnya sekali dalam sebulan secara rutin. Dari raut wajahnya menyisakan segi-segi kebersahajaan selama perikehidupannya. 

“Nape? Antos gallu!” sahut nenek tua yang dipanggilnya Mo. Ia menyorong kayu bakar di dapur. Sedang merebus air dalam tempayan berukuran sedang di atas tungku yang terbuat dari tanah liat buatannya sendiri. Airnya yang mendidih lalu dituangkan ke dalam cangkir besar yang terbuat dari seng berelif batik berwarna biru tua. Cangkir itu dapat memuat penuh sehingga empat gelas air minum sekaligus. 

Nenek itu nampak cekatan sekali dalam mengadoni kopi. Dimulai dari memasang bubuk kopi sehingga melarutkan gulanya. Gula yang dipasang sedikit sekali, hanya sesendok. Sedangkan bubuk kopi yang dimasukkan membutuhkan tujuh sehingga delapan sendok. Kemudian ia mengambilnya sedikit untuk dirasai manis-pahitnya. Terlihat seolah-olah tak ada penghalang apapun baginya. Padahal sudah lama ia tak menikmati warna-warni alam raya ini. Cacat mata yang dideritanya sudah hampir tiga puluh tahun. Sejak usia empat puluh lima tahunan kejadian itu dialaminya. 

Konon saat itu ia sedang menonton wayang orang. Ia, berikut kakek tua sangat menggemarinya. Bisa jadi sehingga semalam suntuk. Apalagi wayang topeng baru akan digelar sekitar jam sepuluh malam. Saat itu kebetulan pergelaran dekat dengan rumahnya. Sudah dua hari matanya terkena iritasi. Berasa malas, perih, dan gatal-gatal. Tiba-tiba saja sudah ada seorang perempuan yang menghampirinya. Ia sangat mengenalinya. 

“Kenapa matamu merah, Le’ ?” tanya orang itu yang masih saudara dua pupu dengannya. 

“Sedikit sakit, Buk,” jawabnya. 

“Coba kulihat!” pintanya. 

“Le’, coba kamu beri setetes minyak goreng yang asli. Biasanya cepat sembuh,” petunjuknya.

Tanpa berpikir panjang ia pulang dan mencari minyak dimaksud. Berhasil ditemukan lalu dipasangnya sendiri pada kedua matanya. selanjutnya ia kembali lagi ke pergelaran topeng dan menontonnya sampai usai. Semalaman dirasakan hal yang nyaman. Tapi, naif. Ketika selesai mandi untuk sembahyang subuh lambat laun pandangan matanya mulai kabur. Dua hari kemudian keindahan pernak-pernik warna alam raya semakin menjauh dan tak bersahabat lagi. Berobat pada tabib pun tak menampakkan hasilnya. 

Namun, begitulah. Kebutaan baginya tak menyurutkan semangat hidup dan cinta di antara mereka berdua. Ia tetap melakukan pekerjaan, termasuk memasak makanan untuk suami dan anak-anak tercinta mereka jikalau bertandang.

“Ini diminum mumpung panas!” si nenek membawa dan meletakkannya atas nampan di sisi tempat pembaringan si kakek. “Baramma masih belum mau bangun, Mo?” lanjutnya.

Mo merupakan sebutan untuk bertutur sapa di antara mereka. Mo tak lebih dari kependekan sebuah nama dari anak mereka yang pertama. Anak yang telah lama meninggal dunia sejak masa indahnya bermain. Ia meninggal ketika berusia sekitar tujuh tahunan. Ya, Mupa’at. Dari dua huruf yang pertama itulah mereka bertutur tentang cinta sehidup semati sehingga mengukir kakek-nenek. 

“Ya, sebentar.” Timpal si kakek sambil melonjorkan lalu meregang-regangkan kedua tangannya di atas kepala. Senam peregangan itu dilakukannya di atas kasur. “Aih... matahari sudah menyingsing, saya pikir belum terbit,” sangkanya. Ia turun dari peraduannya sambil menggulung-gulung sarung di perut sehingga menutupi pusarnya. 

Ia hampiri cangkir besar itu dan meminumnya tiga teguk. “Mo, tiada keraguan yang menyelimuti hati para pejuang saat-saat kusesap kopi pagi ini, karena hitamnya serupa matamu yang telah menenggelamkan aku ribuan kali ke dasar hatimu." Sambil tersenyum, ia melirik isterinya yang sedang duduk di atas garubuk. 

Garubuk, sejenis tempat menyimpan barang-barang yang terbuat dari kayu berbentuk segi empat dan berukuran besar. Panjangnya seukuran tinggi manusia dewasa umumnya. Lebarnya bisa hampir satu deppa. Pintu atau tempat membuka ruangan penyimpanan berada di bagian atas. Gerobok itu ditopang oleh keempat kakinya yang kuat. Biasanya dibuat untuk tempat menyimpan makanan dan biji-bijian, termasuk pula barang berharga semisal emas permata. Berikut dapat dijadikannya tempat tidur sehingga sangat aman sebagai tempat penyimpanan barang.

Si nenek asyik saja meracik pena’an, yaitu selembar daun sirih, sedikit gambir, dan seulas kapur yang kemudian ditumbuk di lesung batu yang berukuran agak kecil. Bila sudah halus, diambilnya untuk dikunyah. Padahal saat itu ia belum makan apapun, kecuali dengan daun sirih yang disiapkannya. Wajar saja bila seusia nenek itu geriginya masih kuat dan tak ada satupun yang tertanggal.

"Kalau boleh _ sebenarnya, ijinkan kuseduh kerapuhanmu dalam cangkir renta yang sudah separoh umurku ini. Lalu hendak kusajikan sehangat senyum untuk mengaduk murung di wajah manismu. Sebab bagiku dikau adalah sejatiku yang Tuhan titipkan. Ayolah binarkan hatimu sehangat kopi yang kau adonkan untukku sepagi ini!" rayu si kakek penuh mesra. Kopi pahit, namun terasa legit baginya. Sangatlah berbeda auranya saat kopi belum terhidangkan.

"Jadi, Mo. Yang namanya pahit pada rasa kopi itu memang tak sepahit harapan yang pernah diikrarkan olehku padamu tempo dulu, yang sehingga kini serasa tiada terwujudkan. Kopi tak sepahit itu, tak sepahit kerasnya lika-liku kehidupan kita. Tapi yakin kuucapkan bahwa aroma cintamu masih selekat adonan kopi ini yang pasti tak akan pernah lekang apalagi hambar," ucap kakek semesra rayuan gombal. 

“Ai, maksa. Ayo sapimu tu di kandang sedang bernyanyi untukmu. Jangan lupa kayu bakar walau beberapa potong kamu bawa. Kalau tidak, mungkin kita tak bisa masak lagi,” ucap si nenek tak kalah sedikit mengancam. 

“Ya,” jawab kakek singkat. Lalu ia beranjak ke kandang bagian belakang mengambil garunju dan sebilah arit untuk menyabit rumput di tegalan samping timur rumahnya. Ia mengasahnya sebentar. Saat kemudian dicobakan ketajamannya pada kuku jempol kirinya. “Wis, tajem la.”

Siapa menduga jikalau kakek setua itu masih memelihara sapi walau hanya seekor. Alasannya praktis dan simpel. Untuk mengusir kebuntuan dan kesepian. Pabila tak beraktifitas seharian, ia merasakan belulangnya sakit atau hendak lumpuh. Kini usia si kakek sudah sekitar delapan puluh tahunan lebih. Terpaut lebih sekitar lima tahunan dengan usia nenek. Tapi mereka sangat optimis mengarungi derasnya ombak kehidupan ini. 

Panas matahari saat itu sudah memanggang alam raya. Termasuk pada kulit si kakek yang sedang nyabit. Teriknya matahari malah pemompa semangatnya. Derasnya kehidupan ini bagaikan air mengalir nan tenang, bukan seperti gerak air bandang yang dianggap akan senantiasa memporak-porandakan. Mereka tegar, tak menginginkan air bah yang menghunjam jeram.

Setiap kali filosofi itu ia tanamkan pada anak-cucu mereka. Ia utarakan di saat ada yang beranjangsana ke rumahnya. Seperti di suatu waktu ia melukiskan jalan hidupnya, “Nak, hidupku, hidup kami ini adalah muatan kopi. Semua yang kurasa hanyalah bahagia dan sudah dinikmati rasanya. Dan tak baik menyesali diri. Biarkan terkenang tanpa air mata berlinang. Langkahkan kaki, sambutlah pagi dengan segelas kopi kesemangatan. Apalagi saat malam yang semakin larut, adalah kopiku yang makin surut. Keniscayaanku hanyalah untuk bersyukur bahwa masih sempat tersenyum setiap hari dan bahagia dengan pilihan hidup kini. Hidup ini bukan untuk membebani, dan jangalah merasa terbebani." Hal yang demikian itulah menjadikannya tak terlalu merisaukan hidup, apalagi hanyalah seterik matahari. 

Bagi si kakek, boleh jadi pikiran yang berkelana, namun tangannya dengan gesit bergerak mencari arah rumput hijau bergoyang bersenandung. Alhasil, dengan tanpa mengalkulasi waktu, keranjang rumput itu sudah penuh. “Alhamdulillah,” gumamnya beranjak pulang. Dan tak lupa dengan seikat pelepah kering beserta daun kelapa. 

Seutas senyum menua untuk nenek yang sedari tadi di dapur. Kakek tebarkan bersama rumput sepenuh keranjang, walau ia sadar jikalau si nenek tak kan melihatnya. Tapi ia yakin dengan hatinya. "Mo, ketika kau tinggalkan secangkir kopi yang masih panas, saat itu rinduku semakin membara. Kepulan asapnya pun seolah mengikutimu. Bahkan sebelum detik mulai terasa pahit, pagi ini satu cangkir kopi rasa alami yang kusesap, pahitnya ada sedikit terkenang. Tapi tidak untuk kembali membuka luka, biarkan tertinggal kelana. Begitu kan, Mo?" kenang si kakek. 

Ia letakkan keranjang rumputnya pada tataan kayu balok yang berada di samping kiri kandang sapi. Kemudian diambilnya dari keranjang itu beberapa rangkul rumput dan ditempatkannya di depan sapi yang menyambutnya dengan hormat. 

“Ni, makan yo!” seru Kakek pada sapinya yang telah sigap berdiri. Barangkali, andai mereka mengerti apa kata hatinya, sapi itu pasti hendak berucap terima kasih sebelum memamahnya. Maa.... Ya, suara itu yang biasa terlontar dari bibirnya yang monyong.

"Kak Mo, ...” panggil si nenek yang telah siap dengan hidangan nasi jagung tanpa beras putih, dilengkapi dengan sayur daun kelor, ditambah ikan asin yang dikeringkan. Dihidangkannya di atas ranjang bambu tak bertikar, sehingga tak satupun terlihat yang tertutupi. Terbuka. Terbuka seperti kehidupan yang kakek-nenek arungi. “Dihangatnya kebersamaan, memang akan ada pahitnya titik kecemburuan. Namun, tak kusempatkan bertumbuh. Selama ini ku biarkan beserta adukan rindu dalam setiap detik dengan lembut sepenuh kasih sayang. Itulah cinta di segelas racikan kopi yang aku suguhkan tadi, dari dahulu sehingga nanti. Kau pasti merasakannya bukan?" lanjutnya.

"Ya, benar. Ketika kuhirup kopi hangat tadi telah mengajariku untuk berpikir sehat. Untuk bisa aku nikmati perlahan dan menjaga bahagia untuk tidak berasa hilang. Bahwa kau benar-benar cinta dan sayang. Bahkan kau tak akan lupa sehingga mana dan kapan harus berpulang," jawab si kakek. "Kopi dan kamu, bagaikan pagi bersama mentari, rindu yang makin menjadi dalam setiap tegukan, kan datang menanti dengan pasti setiap hari. Juga tak kan kubiarkan aroma kopi tersapu angin, menjadi dingin apalagi akan mengendapkan segala ingin. Tak adalah artinya pergantian musim," sambut si kakek. 

"Mo, begitu sederhananya rindu kali ini dikaitkan, cukuplah dengan keharuman kopi ori, sebait puisi akan melekat indah di lembut pipiku, lalu mewarnai detik waktu kita," sambut nenek tak kalah romantisnya. Betapa mesranya. "Mo, yang kutakutkan hanyalah sajak-sajak peretas cinta, sehingga seberapa kapan ampas kopi mampu kuaduk. Aku takut dengan dengan perihnya rasa rindu jika secangkir kopi itu jadi yang terakhir di malam nanti. Sungguh aku dalam suara ketakutan, takut bila senyummu yang kuaduk di dalamnya, tak akan lama kunikmati sampai kopi berikutnya." Hati dan lidah nenek tersengal kelu. Tak mampu bersuara lagi. Diburu oleh bayang-bayang kepastian ajal. Tapi, entahlah.

“Mo, sudahlah. Jangan kau buat rindu meradang, lalu hendak menenggelamkan pagi sehingga satu persatu kenangan akan sepat ke dasar kopiku. Biarlah! Jangan kau hambari rasa yang kusesap ini. Sebab kau adalah bahagian tulang rusukku," nasehat dan pinta si kakek. 

"Ayo nikmati kopi beraroma masa lalu dengan tegar menapaki masa depan. Pandangi matahari pagi yang semakin angkuh dengan duduk manis berpeluk rindu tanpa mengeluh. Mo, belajarlah hal terhebat dari kopi yang menghapus tangis tanpa pelukan, mencipta canda tawa tanpa gurauan, dan sigap menjawab resah tanpa kata-kata. Bisa kan, Mo?" 

Keduanya lalu memakan nasi penuh cinta dalam sepiring berdua. “Mo, ternyata hidup ini untuk dinikmati, serasa cukuplah untuk berdua saja.” 

“He...eh.” 

#Ambunten, 24 September 2020



Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI