PAGI HARI DI SERAMBI KEK ACIT

PAGI HARI DI SERAMBI KEK ACIT 
Karya Ahmad Rasyid 

Mentari baru saja menembus celah dedaunan jambu di halaman belakang. Embun masih menggantung di ujung daun, dan suara cericit burung-burung ulat berpadu dengan desir angin yang menyejukkan hati. 

Di serambi kayu rumah tua yang masih kokoh berdiri, duduklah seorang lelaki paruh baya berjanggut putih, Kek Acit, ditemani secangkir kopi hitam pahit dan suara khas kayu yang berderit bila bergeser.

Tiba-tiba terdengar suara kecil mendekat, diselingi bunyi “dor-dor!” dan teriakan penuh semangat.

“Dor! Aku tentara! Aku tangkap penjahat!” seru Daffa, cucu pertama Kek Acit, sambil mengacungkan pistol mainan plastiknya.

Kek Acit tersenyum. Ia meletakkan kopinya dan merentangkan tangan, menangkap tubuh mungil cucunya yang melompat ke pangkuannya.

“Wah, Daffa mau jadi tentara, ya?” tanya Kek Acit sambil mengusap kepala cucunya yang lebat rambutnya.

“Iya, Kek! Kalau besar nanti Daffa mau jadi tentara biar bisa jaga negara dan tembak yang jahat-jahat!”

Kek Acit tertawa kecil, lembut dan penuh kasih. “Bagus cita-citamu, cucuku. Tapi boleh Kek Acit kasih tahu satu rahasia penting?”

Daffa mengangguk, matanya bersinar.

“Kalau Daffa mau jadi tentara hebat, atau apapun nanti, harus mulai setiap aktivitas dengan doa.”

“Doa? Seperti apa, Kek?” tanya Daffa polos.

Kek Acit menatap cucunya dengan lembut. Suaranya perlahan tapi penuh wibawa.

“Kita berdoa begini, Nak: ‘Yaa Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal dan amal yang diterima.’ Doa ini bukan cuma buat belajar, tapi juga main, makan, bekerja, semua aktivitas. Supaya Allah berkahi langkah kita.”

Daffa menunduk sejenak, seolah mencoba menghafal kalimat indah itu.

“Ilmu yang bermanfaat?” tanyanya kemudian, “itu yang seperti apa, Kek?”

Kek Acit mengangguk, senang dengan pertanyaan itu.

“Imam Syafi’i pernah bilang, ilmu yang bermanfaat itu bukan sekadar yang dihafal, tapi yang diamalkan. Artinya, kita belajar bukan hanya supaya pintar, tapi supaya bisa berbuat baik dan menolong orang lain.”

Tiba-tiba dari balik pintu, muncul Ayah Daffa, Malthufah, anak pertama Kek Acit. Ia menyimak sejak tadi.
“Itu maksudnya seperti kalau Daffa tahu cara membantu orang jatuh, terus langsung ditolong, bukan cuma tahu saja ya, Kek?” kata Malthufah.

“Betul, Nak,” jawab Kek Acit sambil tersenyum. “Sekarang zaman media sosial. Ilmu tersebar di mana-mana, semua orang bisa bicara, bisa menulis, bisa mengutip ayat dan hadits. Tapi… berapa banyak dari kita yang benar-benar mengamalkan yang sudah kita tahu?”

Malthufah mengangguk pelan,. Daffa pun terdiam sejenak.

“Jadi kalau Daffa tahu harus bantu teman, terus Daffa bantu, itu namanya ilmu yang bermanfaat, ya Kek?” ulang Daffa untuk memastikan.

“Persis sekali,” kata Kek Acit, menepuk-nepuk punggung cucunya. “Kakek bangga sama Daffa.”

Dari arah dapur, nenek muncul sambil membawa baki kecil berisi goreng pisang yang kemarin dipetik dari kebun sendiri dan masih serasa hangat. “Wah, pagi-pagi sudah berbicara soal ilmu dan amal, ya? Semoga anak-anak kita semua tumbuh dalam keberkahan.”

Daffa menyambut kue itu sambil duduk di antara ibu dan kakeknya. Ia mengangkat tangannya, meniru gaya berdoa Kek Acit.

“Yaa Allah… aku mau jadi tentara yang baik dan rajin doa, aamiin,” gumamnya.

Mereka semua tertawa kecil, bahagia. Pagi itu, serambi tua tak hanya menyambut cahaya matahari, tapi juga menjadi tempat turunnya cahaya ilmu dan hikmah. Nasehat Kek Acit bukan sekadar petuah biasa. Ia adalah warisan hidup yang akan terus berdenyut di hati Daffa, dan siapa pun yang mau mengamalkannya.

Di penghujung pagi itu, dengan langit yang mulai menghangat, Kek Acit berkata pelan namun tegas, “Sebarkanlah nasehat yang baik, walau hanya satu kalimat. Karena kebaikan, sekecil apapun, bisa jadi sebab hidayah untuk banyak jiwa.”

Slopeng, 27 Mei 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI