ZIARAH KATA DI BAWAH MENARA
ZIARAH KATA DI BAWAH MENARA
Karya Ahmad Rasyid
Sinar rembulan menebar cahaya lembut di halaman Masjid Agung Sumenep. Menara masjid menjulang, menatap langit biru dengan takzim, seakan mengantar doa-doa yang melangit dari setiap hati yang datang. Di bawahnya, kerumunan kecil mulai terbentuk. Mereka datang satu per satu, mengisi ruang-ruang kosong di teras marmer yang mengkilat.
“Assalamu’alaikum, Gus Nur!” seru Kak Ruki sembari melambaikan tangan.
Gus Nur, lelaki bersorban dengan wajah bersahaja, menoleh dan membalas salam dengan senyum hangat. “Wa’alaikumussalam, Kak Ruki. Alhamdulillah, semua hadir ya.”
Bu Nanik menyusul di belakang, membawa dua kotak nasi bungkus dan kopi sachet. “Untuk jaga-jaga di perjalanan. Siapa tahu rest area-nya tutup,” ucapnya ringan.
Damar Kambang, komunitas penggiat bahasa Madura, hari itu tak sekadar berwisata. Mereka menggelar “Ziarah Kata”—sebuah agenda menyusuri situs budaya sambil menimba ilham untuk menulis. Tur kali ini juga diikuti oleh tiga penulis buku BTQ, lima orang dari unsur Dinas Pendidikan bagian Pendidikan Dasar, dan Mas Edy, manajer penerbit Erlangga kawasan Madura.
“Eh, itu Kak Acit sama Kak Wawan udah datang tuh!” teriak Kak Aziz, semangat seperti bocah hendak studi tour.
Rombongan riuh, penuh sapaan dan tawa. Sebuah bus pariwisata dengan tulisan “Menulis Adalah Ziarah Rasa” terparkir tak jauh dari pintu gerbang masjid.
“Bapak Ibu sadar nggak sih, betapa indahnya bisa ngumpul kayak gini?” tanya Mas Edy setelah semua berkumpul. Ia berdiri di tengah rombongan, mengenakan batik lengan panjang dan sepatu kasual. “Di luar sana, banyak penulis yang sibuk mengejar tenggat, tapi kita... bisa menulis sambil menghirup udara pantai dan suasana baru hutan kota, menjamah situs sejarah, dan tetap menyentuh hati pembaca.”
Semua terdiam sejenak. Hanya angin yang berbisik di sela-sela pepohonan rindang halaman masjid.
“Saya selalu percaya...,” lanjut Mas Edy, “...bahwa penulis itu bukan hanya pengisi halaman, tapi penjaga nurani zaman. Dan refreshing seperti ini penting. Bukan untuk lari dari dunia, tapi untuk kembali dengan cerita yang lebih bermakna.”
Gus Nur mengangguk. “Betul, Mas Edy. Dalam sastra Madura pun, penyair dulu sering keliling kampung, berdialog dengan alam dan manusia. Baru setelah itu menulis. Seperti biarlah "Agai' Bintang Gaggar Bulan", mendengar dan menampung rasa sehingga "pekkeran ta' dhandhan, atamba tegges.”
“Seperti Damar Kambang, ya Gus...,” celetuk Kak Wawan, “...meski terombang-ambing di laut, tapi tetap menyala. Kita juga begitu, menulis dalam gelombang, tapi tetap bermanfaat.”
Tawa pecah. Simbol komunitas itu memang damar kambang—lampu terapung yang jadi filosofi mereka.
“Eh, ngomong-ngomong, bukunya Bu Nanik yang ‘Merenda Huruf di Langit Pagi’ itu keren banget, lho. Saya baca malam-malam, sampai nangis,” ujar Kak Acit.
Bu Nanik tersipu. “Aduh, saya cuma menulis dari pengalaman pribadi, kok. Tapi iya, saya percaya setiap pengalaman itu bisa jadi kisah yang menyentuh. Asal jujur.”
“Makanya penting ikut kegiatan kayak gini,” timpal salah satu penulis BTQ, Pak Hanif. “Bertemu teman sejiwa itu menyuburkan ide. Dan kadang dari satu obrolan santai bisa lahir satu buku.”
“Kalau saya,...” tambah Ibu Tatik dari Bakeyong, “...baru kali ini merasa kayak penulis beneran. Biasanya ngurus siswa tok atau cari solusi ketika siswa bermasalah. Tapi ternyata... nulis itu healing juga ya.”
Mas Edy tertawa pelan. “Itu baru satu manfaatnya, Bu. Nulis bisa jadi terapi, bisa juga jadi ladang dakwah, atau pintu rezeki. Tinggal bagaimana kita memposisikan buku kita. Apakah hanya untuk dibaca, atau untuk mengubah cara orang berpikir?”
Bus mulai menyalakan mesin. Sopir memberi isyarat bahwa waktu keberangkatan sudah tiba.
“Waduh, belum sempat foto di depan masjid nih!” kata Bu Lilik. Semua pun spontan berdiri, berjejer di depan masjid. Salah satu pegawai dari Diknas memotret dengan ponsel, mengabadikan wajah-wajah penuh semangat.
“Lihat tuh,” kata Kak Aziz menunjuk layar kamera, “Itu wajah-wajah yang siap menulis sejarah baru.”
Dan mereka pun naik ke bus satu per satu. Di dalam bus, percakapan terus bergulir.
“Ada yang tahu destinasi pertama kita apa?” tanya Kak Acit.
“Kita ke Mojokerto dulu mandi-mandi, esok lanjutkan game lah. Katanya Kak Acit mau bacakan puisi di sana,” jawab Gus Nur sambil melihat rundom kegiatan.
“Wah, cocok banget!” sahut Bu Nanik. “Puisi di atas tanah leluhur. Seperti menyulam kembali sejarah.”
“Mas Edy,...” sapa Pak Zainal, “...kalau boleh tanya, bagaimana sih cara agar buku kita sampai ke tangan pembaca yang tepat? Soalnya banyak teman saya nulis, tapi bukunya numpuk di kardus.”
“Ah, pertanyaan bagus,” jawab Mas Edy. “Kuncinya ada di tiga hal: kenali pembaca, bangun jaringan, dan konsisten berbagi nilai. Jangan jual isi, jual makna. Buku yang menyentuh hati, akan dicari orang.”
Kak Ruki menambahkan, “Dan promosi juga penting. Saya dulu kirim buku ke radio lokal, minta dibacakan. Eh, malah ada yang minta beli satu dus.”
Tawa lagi-lagi pecah. Tapi kali ini dengan rasa kagum dan motivasi yang lebih kuat.
Di tengah perbincangan, langit mulai memunculkan awan malam tipis. Jendela bus menampakkan jalan berkelok, hamparan sawah, dan langit Madura yang seolah mengantar setiap langkah mereka.
“Bayangkan, suatu saat...,” kata Gus Nur pelan, “...kita buat antologi bersama. Tentang perjalanan ini. Tentang ziarah kata yang kita lakukan bersama-sama.”
Semua mengangguk. Seolah mendapat ilham serentak.
Dan di dalam bus itu, tak ada lagi yang sekadar menjadi penumpang. Mereka adalah penulis yang sedang menziarahi makna. Menyerap waktu, menampung rasa, lalu mengukirnya menjadi huruf yang tak akan pernah lapuk.
Sumenep, 28 Mei 2025
Selamat sampai lagi ke rumah. Semoga perjalanannya dapat membuahkan ide2 yg lebih cemerlang dan manfaat lg amin....
BalasHapus