ILHAM, ANAK YANG MENGUATKAN
Anak Inspiratif #02
ILHAM, ANAK YANG MENGUATKAN
@hmad Rasyid
Namaku Matrasit, kepala SDN Padangdangan I. Sejak Oktober lalu, kakiku belum bisa memakai sepatu. Aku hanya bisa memakai sandal gunung, sandal yang mengikat erat kedua kakiku ketika aku kemana-mana, termasuk ketika ke sekolah.
Aku masih menjalani ujian sakit. Setiap hari aku diantar sepeda oleh Pak Risqon, guru olahraga kami yang tinggal sedesa denganku. Beliau guru olahraga, ia yang sering mengingatkanku untuk banyak istirahat.
Pagi itu, seperti biasa, sepeda berhenti di depan gerbang sekolah. Aku turun perlahan. Belum sempat aku berdiri tegak, sebuah suara kecil menyapaku.
“Assalamu’alaikum, Pak…”
Aku menoleh. Ilham, siswa kelas IV, sudah berdiri rapi di depanku. Tangannya terulur, matanya bening, senyumnya tipis tapi hangat.
“Wa’alaikumussalam,” jawabku sambil menjabat tangannya.
Ilham menundukkan kepala. Aku pun refleks mencium keningnya. Kadang kening, kadang ubun-ubunnya. Ilham tidak pernah menolak. Bahkan sering kali ia lebih dulu menunduk, seolah sudah tahu kebiasaanku.
“Pak… kaki bapak masih sakit?” tanyanya polos.
Aku tersenyum. “Masih dikit, Ham. Kamu doakan bapak, ya.”
Ia mengangguk pelan. “Saya selalu doa, Pak.”
Tak lama, Pak Risqon turun dari sepeda.
Di waktu yang lain ia bertanya, “Pak, kakimu kenapa? Masih sakit?” tanyanya sambil bercanda, tapi matanya penuh perhatian.
Aku pura-pura manyun. “Kamu sih, Ilham, nggak mendoakan kesembuhan Bapak, kan?”
Ilhampun tersenyum indah penuh keluguan. “Lho! Saya juga doa tiap habis shalat.”
"Kamu shalat di rumah," selidikku.
"Iya lah,..." jawabnya tegas. "...Kan aku salat bersama teman setiap Dzuhur di sini. Bapak lama sudah tak ngimami kan?"
"Ya, kan Bapak masih salat isyarah, jadi nggak boleh jadi imam, Ham," jelasku.
Ilham tersenyum kecil lagi. Ia memang jarang tertawa lebar, tapi senyumnya selalu menenangkan.
Ilham adalah anak istimewa. Sejak masuk kelas I, ia dikenal sebagai anak yang berbeda. Ia sering diam, jarang berbicara, dan sulit bergaul. Guru-guru tahu, Ilham termasuk anak disabilitas mental. Namun satu hal yang membuatku kagum, ia sudah bisa membaca dengan lancar, bahkan lebih cepat dari beberapa temannya.
Bagiku, Ilham adalah anak yang sangat peka. Aku sering menyebutnya, dalam hati, sebagai anak indigo, bukan karena hal mistis, tapi karena kepekaan rasa, intuisi, dan kebijaksanaannya yang tidak biasa.
Jam istirahat tiba. Anak-anak berlarian ke kantin. Aku duduk-duduk di kursi luar bersama guru lainnya. Tak lama kemudian, Ilham datang lagi. Tangannya membawa sebungkus jajanan.
Ia berdiri di depanku, lalu berkata singkat, “Pak… mau?”
Aku tertawa kecil. “Nggak lah, cuma segitu. Nanti kalau bapak minta, kamu mau makan apa?”
Ilham berpikir sebentar. “Apa saja, Pak.”
Aku mengelus kepalanya. “MasyaAllah, sederhana sekali.”
Ilham lalu berkeliling ke guru-guru lain. “Bu… mau?” dan “Pak… mau?”
Semua guru tersenyum. Mereka menolak dengan bercanda. Ilham tak pernah kecewa. Wajahnya tetap sama: tenang dan tulus.
Suatu hari, Ilham tidak datang menghampiriku. Aku merasa ada yang kurang. Hatiku gelisah.
“Aneh,” gumamku. “Ilham ke mana, ya?”
Aku pun berjalan pelan menuju kelas IV. Di sana, aku bertanya pada teman-temannya.
“Ilham ke mana ya?”
“Ilham nggak masuk, Pak,” jawab salah satu murid.
Dadaku terasa sesak. “Sakitkah?”
“Iya, Pak. Katanya pusing.”
Aku mengangguk. “Kalau besok masuk, bilang bapak mencarinya.”
Keesokan harinya, Ilham datang lagi. Seperti biasa, ia langsung menghampiriku dan bersalaman. Kali ini ia menunduk lebih dalam. Aku tak lupa mencium ubun-ubunnya.
“Pak…” katanya pelan, “cepat sembuh ya.”
Aku terdiam. Kata-kata itu keluar dari anak yang selama ini dianggap pendiam, bahkan sering disalahpahami.
“Aamiin,...” jawabku lirih. “...Kamu juga sehat selalu, Ilham.”
Aku sadar, dalam sakitku, Allah mengirimkan penyemangat kecil bernama Ilham. Ia tidak pandai berbicara panjang. Ia tidak banyak tertawa. Tapi kehadirannya selalu menyegarkan hatiku.
Setiap salaman dengannya, aku merasa dikuatkan. Setiap senyumnya, aku merasa disemangati. Aku selalu bersyukur, karena lewat Ilham, aku belajar bahwa anak istimewa bukanlah anak yang lemah, melainkan anak yang mengajarkan kita tentang ketulusan dan kasih sayang.
Dan sampai hari ini, aku tidak pernah lupa satu hal:
mencium kening atau ubun-ubunnya, sebagai tanda cinta, hormat, dan syukur kepada Allah.
AmbuEnten, 8 Pebruari 2026
Komentar
Posting Komentar