KISAH OASE PAGI

Cerpen Cahaya Dhuha #32

KISAH OASE PAGI 
@hmad Rasyid 


Sore itu, langit berwarna jingga keemasan. Matahari perlahan turun, seolah sengaja melambat agar manusia sempat merenung. Angin sore berembus pelan di halaman rumah tua bercat hijau pucat. Di beranda, Kakek Acit duduk di kursi kayu panjang, sambil memijat lututnya yang mulai sering protes jika cuaca berubah.

Daffa duduk di lantai beralas tikar pandan, memainkan batu-batu kecil. Nadifa bersandar di tiang beranda, menggoyang-goyangkan kakinya sambil memegang segelas kopi pahit yang sudah cukup dingin untuk kakeknya.

“Sabtu sore gini enaknya ngapain, Kek?” tanya Nadifa, matanya menerawang ke langit.

Kakek Acit tersenyum. “Kalau menurut Kakek, paling enak itu… diam.”

Daffa langsung protes, “Hah? Diam doang? Itu mah kayak patung di museum, Kek.”

Kakek Acit terkekeh. “Nah, patung itu mahal, Nak. Kamu jangan meremehkan.”

Nadifa ikut tertawa. “Kalau Daffa jadi patung, pasti patung yang lagi manyun.”

“Heh!...” Daffa mendengus. “...Aku lagi mikir masa depan, tahu.”

Kakek Acit menoleh, matanya berbinar. “Nah, itu. Mikir masa depan berarti kamu masih punya satu hal penting.”

“Apa?” tanya Daffa dan Nadifa bersamaan.

“Harapan.”

Angin sore mengibaskan ujung sarung Kakek Acit. Suasana mendadak terasa tenang, seperti ada sesuatu yang sengaja turun bersama senja.

“Kek,...” kata Daffa pelan, “...kalau orang capek sama hidup, masih bisa bahagia nggak?”

Kakek Acit tak langsung menjawab. Ia mengambil napas panjang, lalu berkata lembut,
“Engkau masih bisa bahagia selama masih punya harapan.”

Nadifa mengernyit. “Harapan itu kayak apa, Kek? Kayak berharap dapat nilai bagus?”

“Itu salah satunya,...” jawab Kakek Acit. “...Tapi harapan yang paling kuat adalah ketika di dadamu masih berdenyut satu nama… Allah.”

Daffa berhenti memainkan batu. “Kalau masih ingat Allah, berarti belum runtuh?”

Kakek Acit mengangguk. “Betul. Selama kamu masih menyebut nama-Nya, hidupmu belum pernah benar-benar hancur.”

Nadifa menggigit bibirnya. “Tapi kadang doa kayak nggak didengar.”

Kakek Acit tersenyum penuh pengertian. “Harapan itu bukan sekadar mimpi. Ia bisikan langit di tengah gelapnya takdir. Tanda bahwa Allah belum melepaskanmu.”

Daffa mengangkat alis. “Kayak sinyal wifi?”

Kakek Acit tertawa terbahak. “Nah! Tepat sekali. Sinyalnya kadang lemah, tapi selama belum putus, kamu masih bisa tersambung lagi.”

Nadifa ikut terkekeh. “Berarti doa itu paket datanya?”

“Dan salat itu chargernya,” tambah Kakek Acit cepat.

Daffa menepuk tangan. “Wah, analogi Kakek makin modern.”

Kakek Acit tersenyum bangga. “Kakek ini tua, bukan ketinggalan zaman.”

Lalu suasana kembali hening. Burung-burung pulang ke sarang.

“Kek,...” ujar Nadifa lirih, “...kalau dunia kayak nutup semua pintu, gimana?”

Kakek Acit menatap langit yang mulai keunguan. “Kalau dunia menutup pintu, Allah membuka jalan.”

“Tapi kalau orang-orang pergi?” tanya Daffa.

“Allah tetap tinggal,” jawab Kakek Acit mantap.

Nadifa menunduk. “Kalau doa belum terkabul?”

Kakek Acit menepuk dada cucunya dengan lembut.
“Selama hatimu masih berkata, ‘Ya Allah, aku percaya pada-Mu,’ kamu adalah orang paling kaya di dunia.”

Daffa terdiam. “Padahal nggak punya apa-apa.”

“Justru itu,...” kata Kakek Acit. “...Orang yang berharap kepada Allah tidak pernah benar-benar miskin, tidak pernah benar-benar kalah, dan tidak pernah benar-benar sendirian.”

Angin sore terasa semakin sejuk, seperti ikut mengamini.

“Kek,...” Daffa menghela napas, “...berharap itu capek nggak sih?”

Kakek Acit tersenyum kecil. “Harapan adalah ibadah paling sunyi. Nggak ada yang lihat, nggak ada yang tepuk tangan. Tapi Allah tahu.”

Nadifa menatap Kakek Acit dengan mata berkaca. “Berarti berharap itu tauhid?”

“Iya,” jawab Kakek Acit. “Tauhid yang hidup. Pengakuan bahwa tiada penolong selain Allah.”

Daffa mengangguk pelan. “Kalau berharap ke manusia?”

“Kamu belajar kecewa,” jawab Kakek Acit jujur.

“Kalau berharap ke dunia?” tanya Nadifa.

“Kamu belajar hancur,” lanjutnya.

Daffa menghela napas panjang. “Kalau berharap ke Allah?”

Kakek Acit tersenyum hangat. “Kamu sedang memeluk keabadian.”

Senja hampir habis. Azan magrib terdengar samar dari kejauhan.

“Kek,...” kata Nadifa sambil tersenyum kecil, “...jadi ini Kisah Oase Pagi?”

Kakek Acit mengangguk. “Iya. Oase itu bukan cuma di padang pasir. Kadang ia hadir di hati yang hampir kering.”

Daffa tersenyum. “Dan paginya bukan besok, tapi saat kita ingat Allah.”

“Pintar,” kata Kakek Acit sambil mengacak rambut Daffa.

Ia berdiri perlahan. “Ingat, cucu-cucuku. Mungkin hari ini kalian terluka. Mungkin jatuh berkali-kali. Tapi Allah tidak pernah menunda tanpa hikmah.”

Nadifa bangkit, memegang tangan Kakek Acit. “Allah juga nggak pernah diam tanpa cinta.”

Daffa tersenyum. “Dan nggak pernah lupa sama hamba yang sabar dan rajin salat berjemaah.”

Kakek Acit tersenyum lebar. “Nah, itu baru cucu Kakek.”

Matahari benar-benar tenggelam. Namun di dada mereka, sebuah oase baru saja tumbuh—tenang, jernih, dan penuh harapan.

*) Oase adalah
tempat singgah yang menyegarkan di tengah perjalanan yang melelahkan.


AmbuEnten, 31 Januari 2026
#CahayaDhuhaAsaKeluarga 
#CerpenBuatCucunda

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI