MATORON TANAH — SYUKUR DI BAWAH LANGIT PAGI

Cerpen Cahaya Dhuha #12

MATORON TANAH — SYUKUR DI BAWAH LANGIT PAGI 
@hmad Rasyid 

Suara ayam jantan baru saja berhenti bersahutan ketika halaman rumah Nyek Ulfa mulai ramai. Tikar pandan digelar, nampan-nampan disusun rapi, dan aroma daun pandan yang direbus bersama gula aren menyebar lembut dari dapur. Hari itu bukan hari besar, bukan pula hari yang ditetapkan siapa pun. Tapi bagi keluarga kecil Nyek Ulfa, pagi itu adalah hari yang istimewa—hari diadakannya "Matoron Tana" untuk Nadhifa, putri kecil dari Bunda Anisa atau cucu kedua dari Nyek Ulfa, putri yang baru belajar duduk dengan tenang.

“Sudah siap semua, Nisa?” tanya Nenek Ulfa sambil menatap halaman yang bersih.

“InsyaAllah siap, Buk,” jawab Bunda Anisa dengan senyum bahagia. “Hari ini kita pilih sesuai hari lahirnya Nadhifa. Semoga membawa berkah.”

Di tengah halaman sudah terletak sebuah nampan besar di atas tikar pandan lipat berwarna merah hijau kusam, berisi tujuh jenis benda yang disusun melingkar: Al-Qur’an kecil, alat tulis berupa buku dan bolpen, cermin kecil berbingkai kuning, sisir kayu, biji jagung, kacang tanah, dan kacang hijau. Semuanya telah disusun rapi oleh Bunda Anisa, tetangga yang turut membantu sejak pagi.

“Wah, udah lengkap ini, Nyek?” ujar Bunda Anisa sambil menepuk-nepuk tangannya. 

Nyek Ulfa men jawabnya dengan senyum dan anggukan. “Nanti tinggal tunggu siapa yang diundang datang.”

“Sudah dikabari semua?" tanya Nyek Ulfa. 

“Ada Daffa, Bilqis, Riski, Nadira, dan Aisyah. Mereka yang sudah bisa berlari dan bermain. Biar acara makin ramai. Sebentar lagi mereka datang.” jawab Bunda Anisa.

Tak lama kemudian, suara langkah kecil terdengar dari jalan kampung.
“Kami datang, Bunda!” teriak teman-teman Daffa sambil bergandeng tangan.

Nyek Ulfa menyambut mereka dengan senyum. “Masya Allah, cepat sekali datangnya. Ayo, duduk di atas tikar sana, nanti kalian makan bubur hijau bareng ya.”

Anak-anak itu duduk melingkar, wajah mereka berseri. Di tengah mereka sudah disiapkan nampan kecil berisi 'tajin sanapora', bubur manis berwarna hijau dari daun pandan betawi, harum dan aromanya menggoda.

“Hmm... aromanya enak sekali, Bunda,” bisik Bilqis.

Bunda Anisa tersenyum. “Nanti ya, Nak. Setelah adik Nadhifa selesai ambil barangnya baru kalian boleh makan.”

Sementara itu, Nenek Ulfa duduk di kursi bambu, memegang sapu lidi baru yang telah disiapkan.
“Ini nanti buat apa, Nek?” tanya Aisyah penasaran.

“Buat ngusir kalian kalau sudah waktunya lari,” jawab Nenek sambil tertawa kecil.

Matahari mulai naik perlahan, menebarkan cahaya lembut ke halaman rumah. Semua orang duduk melingkar. Nadhifa diletakkan di tengah-tengah, di atas tikar pandan kecil, menghadap nampan besar yang berisi benda-benda tadi.

Nenek Ulfa mengangkat tangan. “Mari kita mulai dengan doa. Ini bukan sekadar adat, tapi tanda syukur. Allah sudah memberi kehidupan, memberi kekuatan pada cucu kita yang kini bisa duduk dengan tenang.”

Suara doa mengalir lembut. Semua menunduk, khusyuk. Bunda Anisa menatap bayinya dengan mata yang sedikit berkaca. “Ya Allah, terima kasih Engkau telah menjaga anakku...” gumamnya dalam hati.

Selesai doa, Nenek Ulfa berkata pelan, “Nah, sekarang waktunya Nadhifa memilih. Biarkan tangannya yang menentukan jalan hidupnya nanti.”

Bunda Ulfa menurunkan Nadhifa perlahan ke depan nampan. Si bayi tampak antusias, matanya berkilat melihat benda-benda di depannya. Semua menahan napas.

Pelan-pelan, tangan mungil itu bergerak. Pertama, ia meraih Al-Qur’an kecil yang bersampul hijau muda. Orang-orang berseru lirih.

“Masya Allah...” bisik Bunda Anisa. “Pilihan pertama sudah indah.”

Kemudian, Nadhifa berpindah tangan, meraih bolpoin dan buku kecil. Ia memegangnya erat, lalu menepuk-nepuk dengan senyum.

“Wah, mungkin nanti jadi orang pandai,” celetuk Daffa, kakaknya sambil tertawa kecil.

Tapi belum puas, Nadhifa menggoyang tubuhnya, tangannya meraih ke arah biji jagung yang berjatuhan sedikit dari nampan. Ia menggenggamnya erat.

“Sudah tiga,” kata Nenek Ulfa dengan senyum lebar. “Al-Qur’an, alat tulis, dan biji jagung. Pertanda baik — kelak semoga jadi anak berilmu dan gemar memberi manfaat bagi orang lain.”

Kini giliran anak-anak yang diundang. Mereka mulai menyuap tajin sanapora dengan sendok kecil yang telah disiapkan. Suasana menjadi ramai dan ceria.

“Enak sekali, Bunda! Manisnya pas,” ujar Bilqis sambil menjilat sendoknya.
“Kalau enak, tambah lagi,” jawab Bunda Anisa.

Namun belum sempat suapan berikutnya, Nenek Ulfa berdiri sambil membawa sapu lidi. “Sekarang waktunya lariii!”

“Waaa!” jerit anak-anak bersamaan. Mereka berhamburan, berlari kecil mengelilingi halaman. Nadira bersembunyi di balik kursi, Daffa menjerit sambil tertawa keras, sementara Riski hampir menabrak kendi di sudut dapur.

Semua tertawa, termasuk Nyek Ulfa yang menahan perutnya karena geli melihat mereka.
“Sudah, sudah, cukup, nanti pada jatuh,” katanya sambil menepuk tangan.

Nenek Ulfa menancapkan sapu lidi ke tanah. “Hahaha, ini bagian yang paling disukai anak-anak. Tapi maknanya tetap ada — tanda bahwa setiap manusia, setelah mendapat rezeki, harus berjuang, harus bergerak. Tidak diam saja.”

Bunda Anisa mengangguk. “Indah sekali filosofi 'matoron tana' ini. Tradisi yang sederhana tapi penuh doa.”

Setelah semua kembali duduk, Nyek Ulfa memeluk Nadhifa yang mulai mengantuk. “Nenek, silakan pimpin doa penutup,” pintanya lembut.

Nenek Ulfa mengangguk. Ia menengadah, suaranya pelan tapi bergetar oleh haru: “Ya Allah, Engkau yang menumbuhkan dan menghidupkan. Jadikanlah Nadhifa anak yang sholehah, lembut hati, kuat iman, luas ilmunya, dan penuh kasih sayang. Jadikan ia penerang rumah dan penerus amal kebaikan.”

Angin sore berhembus, membawa aroma pandan dan gula aren yang masih tersisa. Semua mengaminkan doa dengan tulus.

Setelah itu, anak-anak yang diundang diberikan "berkat", bungkusan kecil berisi jajanan kesukaan mereka: apem, rengginang, dan permen warna-warni.

“Terima kasih, Nyek Ulfa!” seru mereka bersamaan sebelum berlari pulang.

Nyek Ulfa tersenyum, menatap langkah kecil mereka yang menjauh. “Indah ya, Nyek... tradisi seperti ini membuat rumah terasa hidup.”

Nyek Ulfa menatap cucunya yang tertidur di pangkuan. “Nak, selama manusia masih mau bersyukur, selama masih mau berdoa di bawah langit dengan hati bersih, tradisi ini akan tetap lestari.”

Matahari sore turun perlahan. Di tikar pandan yang mulai digulung, masih tercium wangi tajin sanapora. Nyek Ulfa menatap halaman rumahnya yang tenang, bibirnya berbisik pelan, “Alhamdulillah, ya Allah... Engkau beri kami kesempatan bersyukur dengan cara yang indah.”

Dan di tengah keheningan itu, tradisi Matoron Tana kembali hidup — bukan sekadar adat, melainkan doa yang turun dari langit, menyentuh tanah, dan tumbuh menjadi harapan baru di hati setiap keluarga yang bersyukur. 


#CahayaDhuhaAsaKeluarga 
#CerpenBuatCucunda
AmbuEnten, 2 November 2025



Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI