SEDEKAH YANG TUMBUH DI ANTARA KEBUN CABE JAMU
Cerpen Cahaya Dhuha #20
SEDEKAH YANG TUMBUH DI ANTARA KEBUN CABE JAMU
@hmad Rasyid
Sore turun perlahan di ladang itu. Matahari menggantung rendah, memercikkan warna jingga ke daun-daun cabe jamu yang berbaris rapi serupa tinggi pohon inangnya yang menjulang yang bersiap menyambut panen. Angin menggeser pelan aroma tanah basah sisa hujan siang tadi. Di sanalah Kakek Acit berdiri, ditemani dua cucunya: Daffa dan Nadifa menyiangi gulma yang tumbuh di sela-sela tanaman.
“Daffa… yang dicabut itu rumput, bukan calon hutan lindung,” ujar Nadifa sambil menahan tawa.
Daffa mengangkat rumput yang baru saja ia cabut. “Lho, ini kan hijau juga. Kukira bakal tumbuh jadi cabe rasa rumput laut.”
“Kalau itu jadi cabe, orang-orang makan seblak pakai rumput,” sahut Nadifa cepat.
Kakek Acit tertawa pelan. Keriput di sudut matanya ikut bergerak. “Kalau rumput bisa jadi cabe jamu, Kakek sudah buka pabrik cabe jamu terbesar se-kecamatan.”
Daffa nyengir. “Berarti Kakek bakal jadi juragan cabe jamu dong?”
“Juragan capek,” balas Kakek Acit santai.
Mereka melanjutkan pekerjaan. Nadifa mencabuti gulma dengan cekatan. Daffa masih saja sesekali salah sasaran. Di kejauhan, burung pipit hinggap di pagar bambu, turun mematuk tanah, lalu naik lagi ke dahan randu tua.
“Kek,...” kata Daffa sambil menarik napas panjang, “...kenapa sih rumput ini tumbuhnya lebih cepat dari cabenya?”
Kakek Acit menghentakkan cangkul kecilnya perlahan. “Karena yang mengganggu memang selalu lebih rajin datang.”
Nadifa tersenyum kecil. “Seperti rasa malas, ya Kek?”
“Persis,” jawabnya. “Kalau dibiarkan, dia makan jatah yang seharusnya untuk yang baik.”
Daffa terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Berarti malas itu maling?”
“Bisa dibilang begitu,” sahut Nadifa.
Daffa pura-pura kaget. “Wah, pantas saja nilai tugas matematikaku sering hilang.”
Mereka tertawa. Angin sore menggerak-gerakkan daun cabe jamu, seperti mengangguk tanda setuju.
Tak lama kemudian, seekor burung pipit terbang rendah dan mematuk salah satu cabe jamu yang nyaris matang. Nadifa refleks berdiri. “Kek! Burungnya makan cabe!”
Kakek Acit hanya menoleh sebentar. “Biarkan.”
“Lho?...” Daffa ikut berdiri. “...Itu kan hasil kerja kita.”
Kakek Acit tersenyum sambil menatap burung yang lalu terbang membawa sepotong kecil rezeki. “Kalian tahu pesan Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari?”
Keduanya menggeleng.
Dengan suara yang tenang dan berat, Kakek Acit berkata, "Tidaklah seorang muslim menanam tanaman, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau binatang, melainkan menjadi sedekah baginya.”
Nadifa membulatkan mata. “Jadi… burung itu lagi makan sedekah dari Kakek?”
“Iya,...” jawab Kakek Acit. “...Dan juga dari kita.”
Daffa memandangi daun cabe jamu dengan wajah berbeda. “Berarti kalau tanaman kita dimakan makhluk lain, kita tidak rugi?”
“Kita justru untung di tempat yang paling mahal,” ujar Kakek Acit sambil menunjuk dada.
Sejenak mereka terdiam. Sore semakin condong. Cahaya matahari seperti emas cair yang dituangkan perlahan dari langit.
“Kek,...” kata Nadifa lirih, “...aku baru tahu kalau menanam itu bisa jadi sedekah.”
“Itulah indahnya Islam,...” jawabnya. “...Bahkan cangkul dan pelletuk pun bisa jadi jalan ke surga.”
Daffa tersenyum kecil. “Berarti Kakek
ini petani sekaligus tukang tabung pahala dong.”
“Bedanya, tabungan pahala tidak bisa hilang karena lupa kata sandinya,” timpal Nadifa cepat.
Daffa terkekeh. “Kalau aku, sering lupa sandi tugas.”
Mereka beristirahat di pematang. Kakek Acit membuka tas kecil berisi singkong rebus. Singkong dibagi bertiga.
“Sore itu memang cocok dimakan pelan-pelan,” ujar Kakek Acit.
“Iya,...” Nadifa mengangguk. “...Rasanya kayak hari sedang tersenyum.”
Daffa mengunyah sambil melihat langit. “Kek, kalau nanti aku punya kebun, aku mau tanam yang cepat panen.”
“Kenapa?” tanya Kakek Acit.
“Biar cepat kaya.”
Nadifa tertawa kecil. “Dasar Mas Daffa.”
Kakek Acit tersenyum. “Boleh ingin cepat panen. Tapi jangan lupa menanam yang akarnya dalam.”
“Kenapa, Kek?”
“Supaya kamu tidak tumbang hanya karena angin kecil.”
Mereka kembali bekerja. Gulma semakin berkurang. Namun tiba-tiba, seekor kambing tetangga menerobos pagar bambu dan mulai memakan beberapa daun muda cabe jamu.
“Kek! Kambing!” teriak Daffa panik.
Nadifa berlari kecil. “Aduh! Itu cabe jamunya dimakan, Kek!”
Kakek Acit berjalan pelan, mengibaskan topinya. Kambing itu pun pergi dengan santai.
“Kok Kakek nggak marah sih?” tanya Daffa keheranan.
“Kenapa harus marah?” jawabnya. “Bukankah tadi kita sudah bicara tentang sedekah?”
Nadifa tersenyum haru. “Kambing itu barusan menerima sedekah langsung dari ladang.”
Daffa menggaruk kepala. “Aku baru sadar… jadi orang ikhlas itu ternyata keren.”
Kakek Acit mengangguk pelan. “Ikhlas itu ringan. Yang berat itu tamak.”
Adzan magrib menggema dari kejauhan. Mereka merapikan alat. Langit kini keunguan, seperti kain panjang yang dibentangkan di atas kepala mereka.
Daffa menggenggam tangan Kakek Acit. “Kek, besok kita ke ladang lagi ya?”
"Kalau aku masih diberi napas,” jawabnya sambil tersenyum.
Nadifa ikut menggenggam tangan satunya. “Kalau nanti kami sudah besar, Kakek tetap ikut ke ladang ya.”
Kakek Acit tertawa kecil. “Kalau kaki Kakek sudah tidak bisa berjalan, kalian yang bercerita di ladang ini.”
Saat mereka berjalan pulang, burung pipit kembali terbang rendah. Cahaya terakhir sore menempel di punggung mereka bertiga.
Di hari itu, di antara gulma yang tercerabut, tumbuh pelajaran yang jauh lebih besar dari sekadar cabe jamu: tentang ikhlas, tentang memberi tanpa perhitungan, dan tentang keyakinan bahwa setiap benih kebaikan — sekecil apa pun — akan selalu menemukan jalannya untuk kembali sebagai cahaya.
#CahayaDhuhaAsaKeluarga
#CerpenBuatCucunda
AmbuEnten, 8 Desember 2025
Komentar
Posting Komentar