DONGENG PENGANTAR TIDUR: IBU PENJUAL KUE
Cerpen Cahaya Dhuha #26
DONGENG PENGANTAR TIDUR: IBU PENJUAL KUE
@hmad Rasyid
Malam turun perlahan di kampung itu. Langit bersih, bintang berkelip malu-malu. Di serambi rumah, Kakek Acit duduk bersila menghadap kiblat, tasbih kayu kecil masih melingkar di jemarinya. Daffa dan Nadifa duduk di hadapannya, bersandar pada tiang rumah, ditemani aroma teh hangat.
“Kek…” Daffa membuka suara pelan, “...kata Ayah, malam Minggu itu waktu yang bagus buat nasihat.”
Kakek Acit tersenyum. “Ayahmu benar. Hati manusia lebih lunak di malam hari.”
Nadifa mengangguk, lalu berseloroh, “Apalagi kalau habis makan gorengan.”
Daffa tertawa. “Itu sih perut, Dik. Bukan hati.”
Kakek Acit ikut tertawa kecil. “Nah, sebelum hati kalian benar-benar kenyang dan mata tertutup, Kakek ingin mendongeng. Tentang seorang ibu… penjual kue.”
Daffa langsung duduk tegak. “Yang sering Kakek ceritakan itu?”
“Ya. Tapi malam ini, Kakek ceritakan lebih lengkap. Dengarkan baik-baik, karena ini bukan sekadar dongeng. Ini pelajaran iman.”
Suasana mendadak hening.
*****
“Di sebuah pasar tradisional,...” Kakek Acit memulai, “....ada seorang ibu paruh baya. Wajahnya sederhana, pakaiannya bersih tapi lusuh. Setiap pagi ia menggelar lapak kecil berisi kue basah.”
“Kuenya laku anggak, Kek?” tanya Nadifa.
“Kadang laku, kadang hanya cukup buat makan hari itu,..." jawab Kakek Acit. “...Tapi ada satu hal yang tidak pernah berubah darinya.”
“Apa itu?” tanya Daffa.
“Dia tidak pernah menunda sholat.”
Kakek Acit menatap cucunya satu per satu. “Bukan karena dia tidak sibuk. Justru karena dia sangat sibuk.”
Suatu hari, lanjut Kakek Acit, pasar sedang ramai. Pembeli mengerumuni lapak ibu itu. Uang receh dan lembaran ribuan berpindah tangan. Lalu… “Adzan Dzuhur berkumandang,” ucap Kakek Acit pelan.
“Dan ibu itu…” Nadifa menahan napas. “…berhenti berdagang.”
Daffa spontan berkata, “Wah, itu berani namanya, Kek.”
“Iya,” sahut Kakek Acit. “Ia menutup lapaknya, lalu berkata lembut, ‘Ibu-ibu, mohon maaf. Saya pamit sholat dulu ya. Kalau berkenan menunggu, silakan.’”
“Terus pembelinya marah?” tanya Nadifa.
“Ada yang kecewa. Ada yang mengeluh. Tapi ibu itu tetap melangkah ke masjid.”
Kakek Acit menarik napas panjang. Dari kejauhan, ada seorang lelaki muda yang memperhatikan. Dalam batinnya ia bergolak. "Kenapa ibu itu begitu mudah meninggalkan rezeki?"
Daffa mengangguk pelan. “Kalau aku di posisi itu… mungkin juga mikir begitu.”
“Lelaki itu pun bertanya di lain hari,...” lanjut Kakek Acit, “...Bu, apa Ibu tidak takut kehilangan pembeli?’”
“Ibunya jawab apa, Kek?” tanya Nadifa lirih.
Kakek Acit menatap langit. “Ibu itu berkata dengan suara yang tenang sekali:
‘Nak, rezeki tidak datang dari tangan manusia. Manusia hanya jalan. Yang memberi adalah Allah.’”
Daffa terdiam.
“Ibu itu melanjutkan, ..." suara Kakek Acit sedikit bergetar, "Kalau adzan berkumandang, itu bukan suara biasa. Itu panggilan langit. Itu tanda Allah berkata: Hamba-Ku, datanglah."
Nadifa merapatkan jaket kecilnya.
"Saya takut, Nak,..." kata ibu itu lagi, "kalau saya menunda memenuhi panggilan Allah, hati saya menjadi keras. Dan kalau hati sudah keras, rezeki boleh banyak, tapi tidak jadi kurang berkah."
Kakek Acit berhenti. Suara jangkrik terdengar jelas.
“Kek…” Daffa membuka suara pelan, “berarti sholat itu bukan cuma kewajiban, ya?”
Kakek Acit mengangguk. “Sholat itu sebuah pengakuan. Bahwa kita ini hamba, bukan pemilik apapun.”
Nadifa bertanya polos, “Kalau ibu itu tutup lapak terus, apa nggak jadi miskin?”
Kakek Acit tersenyum. “Aneh tapi nyata. Kuenya selalu habis. Kadang ada orang yang membeli lebih banyak dari biasanya.”
“Allah ganti?” tanya Daffa.
“Allah cukupkan,...” jawab Kakek Acit. “...Dan yang lebih penting, Allah tenangkan hatinya.”
Nadifa menunduk. “Kadang Nadifa sholat cepat-cepat, Kek. Biar bisa main lagi.”
Kakek Acit meraih tangan cucunya. “Allah tidak melihat cepat atau lambatnya gerakanmu. Tapi, Allah melihat siapa yang kau dahulukan di hatimu.”
Daffa menghela napas. “Selama ini… aku sering kejar nilai, kejar pujian.”
“Itu bukan salah,...” kata Kakek Acit lembut. “...Yang salah jika Allah kita taruh di urutan terakhir.”
Kakek Acit tersenyum tipis. “Ibu penjual kue itu mengajarkan tauhid tanpa ceramah. Hidupnya menjadi saksi bahwa siapa yang menjaga waktu sholatnya, Allah akan menjaga hidupnya.”
Nadifa menguap kecil. “Kek… Nadifa mau jadi seperti ibu itu.”
Daffa tersenyum. “Aku juga. Tapi mulai besok.”
Kakek Acit terkekeh. “Allah suka niat baik, meski dimulai pelan.”
Lampu serambi redup. Angin malam membawa kesejukan.
“Tidurlah,” kata Kakek Acit pelan. “Semoga kelak kalian tumbuh menjadi hamba yang tidak takut kehilangan dunia, karena yakin Allah selalu bersama.”
Di bawah langit malam itu, dongeng sederhana berubah menjadi dzikir yang hidup—menanam iman, sebelum mata terpejam.
Sumenep, 15 Januari 2026
#CahayaDhuhaAsaKeluarga
#CerpenBuatCucunda
Komentar
Posting Komentar