KALA HATI BELAJAR BERSERAH

Cerpen Cahaya Dhuha #33

KALA HATI BELAJAR BERSERAH 
@hmad Rasyid 


Langit malam baru saja menelan sisa jingga Maghrib. Lampu-lampu rumah mulai menyala, dan aroma teh hangat menyeruak dari dapur. Di ruang tengah yang sederhana, Kakek Acit duduk bersila di atas karpet hijau, mushaf Al-Qur’an masih terbuka di pangkuannya.

Daffa menutup buku Iqra'nya dengan napas panjang.
“Huuu… akhirnya selesai juga,...” katanya sambil meregangkan tangan. “...Huruf ‘ain ini susah banget, Kek. Lidahku kayak keseleo.”

Nadifa menoleh cepat. “Salah sendiri, bacanya sambil mikir camilan.”

“Heh! Aku serius belajar, tahu,” bantah Daffa.

Kakek Acit tertawa kecil. “Belajar Al-Qur’an itu memang butuh sabar. Lidah boleh capek, tapi hati jangan, Nak”
Nadifa mengangguk sambil merapikan jilbabnya. “Kek, kok habis Maghrib rasanya adem ya?”

“Itu bonus,” jawab Kakek Acit. “Bonus dari salat tepat waktu dan membaca firman Allah, Al-Qur'an.”

Daffa mendengus manja. “Kalau gitu, kenapa hidup kadang nggak adem, Kek? Padahal sudah salat.”

Kakek Acit menutup mushafnya perlahan. “Karena salatnya sudah, tapi berserahnya belum.”

Nadifa mengerutkan kening. “Berserah itu maksudnya pasrah?”

“Beda,” jawab Kakek Acit cepat. “Pasrah itu menyerah tanpa harap. Berserah itu percaya penuh sambil tetap melangkah.”

Daffa mengangguk-angguk, lalu nyeletuk, “Berarti berserah itu kayak… naik motor tapi yakin bensinnya cukup sampai tujuan?”

Nadifa tertawa. “Padahal indikator bensinnya udah kedip-kedip.”

“Justru itu,...” sahut Kakek Acit sambil tersenyum. “...Kamu yakin kalau Allah nggak akan membiarkanmu mogok di tengah jalan.”

Suasana hening sejenak. Jam dinding berdetak pelan.

“Kek,...” suara Nadifa melembut, “...kalau hati berserah total, memang bisa muncul keajaiban?”

Kakek Acit menatap kedua cucunya bergantian. “Bukan keajaiban yang heboh. Tapi keajaiban yang lembut.”

“Contohnya?” tanya Daffa penasaran.

“Beban terasa ringan,...” jawab Kakek Acit. “...Padahal masalahnya masih ada.”

Nadifa mengangguk pelan. “Pikiran jadi tenang?”

“Ya,...” kata Kakek Acit. “...Dan jalan keluar hadir… tanpa disangka.”

Daffa menghela napas. “Berarti selama ini aku kebanyakan ngandelin diri sendiri.”

Kakek Acit tersenyum maklum. “Manusia memang begitu. Baru ingat Allah kalau sudah kelelahan.”

Nadifa tersenyum kecil. “Tapi Allah tetap mau nolong ya, Kek?”

“Selalu,... ” jawab Kakek Acit mantap. “...Saat manusia berhenti mengandalkan kekuatan sendiri, pertolongan Ilahi mulai bekerja.”

Daffa menggaruk kepala. “Tapi kok pertolongannya kadang nggak instan?”

Kakek Acit terkekeh. “Kalau instan, kamu nggak sempat belajar ikhlas.”

Nadifa ikut tertawa. “Iya juga. Kalau semua cepat, kita jadi manja ya, Kek.”

Kakek Acit menatap mereka dengan penuh kasih. “Berserah itu bukan tanda kalah. Justru tanda iman sudah matang.”

Daffa terdiam. “Berarti berserah itu percaya bahwa semua takdir membawa kebaikan?”

“Betul,...” jawab Kakek Acit. “...Meski caranya tidak selalu kamu pahami.”

Angin malam masuk lewat jendela, menggoyang tirai tipis.

“Kek,...” Nadifa berkata lirih, “...kalau lagi capek banget sama hidup, harus ngapain dulu?”

Kakek Acit berpikir sejenak. “Wudhu. Salat dua rakaat. Lalu bilang jujur sama Allah.”

“Bilang apa?” tanya Daffa.

“Bilang: ‘Ya Allah, aku lemah. Aku capek. Aku titipkan semuanya pada-Mu.’”

Nadifa menghela napas panjang, seolah merasakan kalimat itu masuk ke dadanya.

Daffa tersenyum. “Kayak curhat ke Zat yang nggak bakal nolak.”

“Dan nggak bakal bocorin rahasia,” tambah Kakek Acit sambil tertawa kecil.

Mereka bertiga tertawa. Suasana terasa ringan.

“Kek,...” Daffa bersandar ke dinding, “...kalau sudah berserah, apa hidup langsung mudah?”

Kakek Acit menggeleng. “Tidak selalu. Tapi hati jadi kuat.”

Nadifa menimpali, “Dan kuat itu lebih penting daripada mudah.”

Kakek Acit mengangguk bangga. “Nah, itu.”

Ia lalu berkata pelan namun dalam,
“Di sanalah jiwa belajar ikhlas. Bukan karena tidak punya pilihan, tapi karena percaya Allah Maha Baik.”

Daffa menatap lantai. “Berarti setiap hari bisa jadi bermakna?”

“Kalau hatimu berserah,..” jawab Kakek Acit, “...setiap hari adalah pelajaran dan harapan baru.”

Nadifa tersenyum cerah. “Berarti besok juga bisa mulai lagi, ya?”

“Selalu,...” kata Kek Acit. “...Allah tidak pernah kehabisan kesempatan.”

Lampu ruang tengah terasa lebih terang, meski dayanya sama. Ada kehangatan yang tak terlihat.

“Kek,...” Daffa tersenyum nakal, “...kalau aku berserah total, PR besok dikerjain malaikat nggak?”

Nadifa langsung menepuk lengannya. “Ih, niatnya ketahuan!”

Kakek Acit tertawa terbahak. “Berserah itu bukan malas. Kamu tetap ngerjain PR, tapi nggak stres.”

Daffa nyengir. “Yah, gagal deh.”

Mereka tertawa lagi.

Malam makin larut. Namun di hati Daffa dan Nadifa, sesuatu baru saja tumbuh
keyakinan bahwa selama mereka berserah kepada Allah, hidup mungkin tak selalu mudah, tapi selalu punya makna.


AmbuEnten, 1 Pebruari 2026
#CahayaDhuhaAsaKeluarga 
#CerpenBuatCucunda

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI