TIGA KATA AJAIB DIMULAI DARI MEJA MAKAN
Cerpen Cahaya Dhuha #19
TIGA KATA AJAIB DIMULAI DARI MEJA MAKAN
@hmad Rasyid
Sore itu, langit berwarna jingga lembut seperti disapu kuas pelukis yang sedang jatuh cinta. Angin menyelinap pelan melalui jendela dapur, membawa aroma sayur bening dan tempe goreng yang baru diangkat dari wajan.
Di meja makan kayu tua yang mengilap karena sering dilap, Kakek Acit sudah duduk paling ujung. Sarungnya digulung rapi, kopiahnya miring sedikit. Di sebelahnya, Nyek Ulfa sibuk mengatur sendok dan piring.
“Buk, sendoknya kurang satu,” ujar Kakek Acit sambil menunjuk.
Nyek Ulfa menoleh, keningnya berkerut sebentar. “Kurang satu atau Kakek tadi ngambil dua?”
Kakek Acit pura-pura batuk. “Ehemm… bisa jadi dua-duanya benar.”
“Husss, ketahuan,” Nyek Ulfa terkekeh sambil mengambil sendok dari laci.
Dari arah ruang tengah, Daffa berlari-lari kecil sambil membawa buku. Nadifa mengikutinya dengan langkah lebih kalem.
“Kakek! Nyek!” seru Daffa. “Aku lapar berat ni!”
Nyek Ulfa mengangkat alis. “Lapar berat? Emangnya perutmu pakai barbel?”
Daffa tertawa. “Enggak, Nyek, tapi rasanya kayak mau roboh.”
Nadifa menepuk bahu kakaknya. “Kalau minta makan yang sopan, Kak.”
Daffa berhenti sejenak, lalu tersenyum lebar. “Nyek, tolong ya, aku minta nasinya.”
“Hmmm, baru enak didengar,” kata Nyek Ulfa sambil menyendokkan nasi. “Tuh, satu centong penuh.”
“Terima kasih, Nyek!” ujar Daffa penuh semangat.
Tak lama kemudian, Bunda Anisa datang membawa mangkuk sayur, diikuti Ayah Bahul yang menjinjing piring berisi ikan goreng.
“Assalamu’alaikum, meja makan keluarga paling ramai sedunia,” sapa Ayah Bahul ceria.
“Wa’alaikumussalam!” jawab semua hampir bersamaan.
Bunda Anisa meletakkan sayur, lalu tersenyum memandang semuanya. “Wah, harum sopan santunnya sudah tercium dari dapur.”
Kakek Acit terkekeh. “Wangi sopan santun itu lebih mahal dari parfum, Nisa.”
Semua duduk melingkar. Daffa sudah siap menyendok, tapi gerakannya terhenti saat nyaris menyenggol piring Nadifa.
“Eh—!” kata Daffa refleks.
Nadifa mengangkat wajah. “Kalau nggak sengaja, apa yang harus diucapkan, Kak?”
Daffa menggaruk kepala sebentar. “Maaf ya, Nadifa.”
Nadifa tersenyum. “Iya, dimaafkan.”
Nyek Ulfa mengangguk puas. “Nah, itu baru cucu Nyek.”
Ayah Bahul menimpali sambil duduk. “Kalau setiap rumah ramai dengan kata maaf, tidak akan ada piring yang jadi korban emosi.”
Kakek Acit tertawa terbahak. “Betul! Dulu Kakek pernah melihat dua tetangga bertengkar cuma karena sambal.”
“Terus bagaimana, Kek?” tanya Daffa penasaran.
“Yang satu minta sambal tanpa bilang tolong. Yang satu nggak terima. Akhirnya bukan sambalnya yang pedas, tapi suasananya.”
Semua tertawa.
Bunda Anisa menuangkan sayur ke mangkuk Daffa. “Tolong pegang mangkuknya yang baik, Nak.”
Daffa langsung membenarkan posisinya. “Siap, Bunda. Terima kasih.”
Ayah Bahul memperhatikan dengan senyum kecil. “Lihat, tiga kata itu sederhana, tapi dampaknya luar biasa.”
Nadifa mengangguk sambil meniup nasi panas. “Tolong, maaf, dan terima kasih ya, Ayah?”
“Iya,” jawab Ayah Bahul. “Tiga kata kecil yang bisa menyelamatkan banyak perasaan.”
Tiba-tiba sendok Kakek Acit jatuh ke lantai.
“Ting!” bunyinya.
Kakek Acit menunduk, lalu berkata tenang, “Maaf, sendok Kakek terjun bebas.”
Daffa refleks mengambilkan. “Ini, Kek. Terima kasih sudah ngasih contoh buat aku.”
“Eh, harusnya Kakek yang bilang terima kasih,” ujar Kakek Acit sambil menerima sendok itu. “Terima kasih, Jagoan.”
Nyek Ulfa ikut nimbrung, “Kalau sendok bisa bicara, pasti dia bilang, ‘Terima kasih sudah dijatuhkan dengan penuh adab.’”
Semua kembali tertawa.
Di tengah makan, Ayah Bahul mengambil ikan terakhir.
Daffa melirik, raut wajahnya bimbang.
Bunda Anisa menangkap tatapan itu. “Daffa, kalau ingin sesuatu, bagaimana caranya?”
Daffa menegakkan punggung. “Ayah, tolong… bolehkah aku minta ikannya sedikit?”
Ayah Bahul tersenyum lebar. “Boleh, karena mintanya pakai hati.”
Ia pun membagi ikan itu menjadi dua. “Ini untuk Daffa.”
“Terima kasih, Ayah!”
Nadifa menepuk pelan. “Kakak keren.”
“Ya jelas,” Daffa menyeringai. “Aku murid terbaik kelas sopan santun.”
Kakek Acit menggeleng sambil tertawa. “Sekolahnya di meja makan, gurunya Nyek Ulfa.”
Nyek Ulfa pura-pura membusungkan dada. “Kepala sekolahnya Kakek Acit.”
Bunda Anisa menatap mereka dengan mata yang menghangat. “Aku ingin Daffa dan Nadifa tumbuh bukan hanya pintar, tapi juga lembut dalam berbicara.”
Ayah Bahul mengangguk. “Karena dunia sudah terlalu ramai dengan suara keras.”
Nadifa menoleh ke Kakek dan Nyek. “Nyek, Kek, terima kasih ya sudah mengajarkan kami dengan contoh.”
Kakek Acit terdiam sebentar, matanya menerawang ke langit sore di luar jendela. “Nak, sopan santun itu bukan warisan emas, tapi warisan jiwa.”
Nyek Ulfa menyentuh tangan Nadifa. “Kalau lisanmu baik, hatimu pun akan ikut baik.”
Angin sore kembali berembus. Suara azan magrib mulai menggema dari kejauhan.
Daffa melipat tangan di dada. “Aku mau minta maaf kalau tadi berisik.”
Ayah Bahul menepuk bahunya. “Ayah memaafkan, karena maafmu tulus.”
“Dan terima kasih karena mau memperbaiki diri,” tambah Bunda Anisa.
Mereka menutup makan dengan doa bersama. Tidak ada kemewahan, hanya nasi, sayur, ikan, dan tempe. Namun meja itu penuh dengan sesuatu yang jauh lebih mahal: kasih sayang yang dibungkus tiga kata ajaib.
Ketika mereka bangkit dari meja, Nyek Ulfa berkata pelan, “Lihatlah… dari meja makan kecil ini, kita sedang menanam kebun akhlak.”
Kakek Acit tersenyum. “Dan kelak, buahnya akan manis di dunia dan akhirat.”
Langit makin gelap, tapi rumah itu terasa semakin terang.
Karena di sana, tolong, maaf, dan terima kasih hidup dengan penuh cinta.
#CahayaDhuhaAsaKeluarga
#CerpenBuatCucunda
AmbuEnten, 7 Desember 2025
Komentar
Posting Komentar