DONGENG DI BUKIT PASIR PUTIH
Cerpen Cahaya Dhuha #25
DONGENG DI BUKIT PASIR PUTIH
Angin laut utara berembus lembut, membawa aroma asin yang bercampur dengan bau rumput kering. Matahari mulai condong ke barat, memantulkan cahaya keemasan di atas pasir putih Bukit Ambunten. Di sanalah Kakek Acit duduk berselonjor kaki1, bersandar pada tongkat kayu tuanya, ditemani dua cucu kesayangannya: Daffa dan Nadifa.
Daffa sibuk menggambar garis-garis di pasir dengan ranting kering, sementara Nadifa sibuk memungut kerang kecil dan menumpuknya di pangkuan.
“Kek,...” ujar Nadifa sambil menoleh, “...kenapa laut nggak pernah capek ombaknya?”
Kakek Acit tersenyum, janggut putihnya bergerak pelan. “Karena laut tahu, berhenti itu bukan pilihan. Kalau berhenti, dia bukan laut lagi.”
Daffa mendongak cepat. “Berarti aku juga nggak boleh berhenti main game dong, Kek?”
“Lho, itu namanya ngeles,...” Kakek Acit terkekeh. “...Laut bergerak untuk kehidupan, kamu main game bergerak untuk… kalah sama baterai.”
Nadifa tertawa, sampai kerang-kerangnya berjatuhan. “Daffa, ponselmu juga sering kalah sama Bunda.”
“Heh, jangan bongkar aib,” sahut Daffa sambil cemberut setengah bercanda.
Kakek Acit menepuk pasir di sampingnya. “Sini, duduk dekat Kakek. Mau dengar dongeng?”
“Dongeng apa?” tanya Daffa.
“Dongeng tentang hidup,” jawab Kakek Acit.
“Serius amat,” gumam Daffa.
“Tenang,...” sela Nadifa, “...kalau serius biasanya Kakek suka nyelipin lucunya.”
Kakek Acit tertawa kecil. “Benar juga cucu Kakek yang satu ini.”
Ia memandang laut yang bergulung pelan, lalu mulai bercerita.
“Hidup, Nak, sejak awal adalah pertarungan.”
Daffa mengernyit. “Kayak film action?”
“Lebih seru,...” jawab Kakek. “...Bahkan sejak kita masih kecil.”
“Lho?” Nadifa memiringkan kepala.
“Waktu kalian balita,...” kata Kakek Acit, “...bertarungnya berebut mainan, berebut makanan, berebut perhatian.”
Daffa langsung protes. “Itu Nadifa semua, Kek. Dulu bonekanya banyak, tapi tetap ambil mobil-mobilanku.”
“Itu strategi,...” Nadifa menyeringai. “...Namanya ekspansi wilayah.”
Kakek Acit tergelak. “Nah, itu contoh pertarungan masa kecil. Dunia kecil, tapi ributnya besar.”
Angin kembali berdesir. Burung camar melintas rendah, suaranya memecah keheningan.
“Lalu,...” lanjut Kakek, “...ketika beranjak dewasa, pertarungannya makin panas.”
“Panas kayak matahari ini?” tanya Nadifa.
“Lebih panas dari itu,...” jawab Kakek Acit. “...Bertarung masuk sekolah favorit, bertarung jadi juara kelas, bertarung di lomba-lomba.”
Daffa mengangguk pelan. “Aku pernah bertarung sama matematika, Kek. Tapi aku yang kalah.”
“Itu bukan kalah,...” kata Kakek cepat. “...Itu latihan sabar.”
“Berarti aku sabarnya banyak,” Daffa tertawa.
“Dan jangan lupa,...” sambung Kakek Acit sambil melirik mereka bergantian, “...ada satu pertarungan yang bikin orang sering lupa diri.”
“Cinta?” tebak Nadifa.
“Benar,...” jawab Kakek. “...Bertarung merebut cinta.”
Daffa langsung berdiri. “Aku mau ambil air minum dulu, Kek.”
“Kenapa?” tanya Nadifa.
“Topiknya bahaya,” sahut Daffa sambil menjauh sedikit.
Kakek Acit tertawa terbahak. “Tenang, belum waktunya kamu ikut medan itu.”
Ia melanjutkan dengan suara lebih dalam. “Setelah semua itu, pertarungan hidup menjadi lebih beragam.”
“Kayak apa?” Nadifa penasaran.
“Bertarung mendapatkan pekerjaan mapan, pasangan hidup yang ideal, jabatan di kantor,...1” ujar Kakek perlahan. “...Ada juga yang bertarung demi kemewahan, gengsi, dan pujian.”
Daffa kembali duduk. “Capek ya, Kek?”
“Capek kalau tidak tahu tujuannya,...” jawab Kakek. “...Tapi begitulah ritme kehidupan manusia pada umumnya.”
Ia menghela napas panjang, lalu tersenyum.
“Tak apa. Memang begitu. Hidup menjadi lebih berwarna saat kita punya keinginan dan berjuang untuk mendapatkannya.”
Nadifa menatap laut. “Terus, kapan berhentinya?”
Kakek Acit menancapkan tongkatnya ke pasir. “Akan tiba satu titik.”
“Titik apa?” tanya Daffa.
“Titik di mana kita tidak lagi bertarung,...” jawab Kakek lembut, “...tetapi menikmati seluruh hasil pertarungan.”
Daffa tersenyum. “Kayak makan jagung bakar setelah main bola?”
“Persis,” sahut Kakek cepat.
Nadifa ikut tertawa. “Terus habis itu senang dong?”
Kakek Acit menggeleng pelan. “Belum tentu.”
“Lho?” Daffa terkejut.
“Karena pada saat itu,...” kata Kakek dengan suara lebih pelan, “...kita akan diperlihatkan bagaimana cara kita bertarung.”
Nadifa menelan ludah. “Kayak diputar ulang?”
“Ya,...” jawab Kakek Acit. “Seperti CCTV kehidupan.”
Daffa bergidik. “Kalau ketahuan curang gimana, Kek?”
“Nah,...” Kakek tersenyum bijak, “...itulah sebabnya Kakek selalu bilang…”
Ia menatap mereka satu per satu. Lalu, “Bertarunglah dengan elegan.”
“Elegan itu apa?” tanya Nadifa.
“Mengikuti aturan main yang sudah ditetapkan,...” jawab Kakek. “...Bukan menciptakan aturan sendiri yang merugikan orang lain.”
Daffa mengangguk serius. “Biar kalau diputar ulang nggak malu, ya, Kek.”
“Bukan cuma tidak malu,” sambung Kakek Acit, “tapi mampu tersenyum penuh kegembiraan.”
Angin senja semakin sejuk. Langit perlahan berubah jingga keunguan.
Kakek Acit menutup dongengnya dengan suara bergetar penuh makna.
“Dan bumi kelak akan terang-benderang dengan cahaya keadilan Tuhan-Nya. Semua perbuatan dicatat, semua keputusan diberikan secara adil, dan tak satu pun dirugikan.”
Daffa dan Nadifa terdiam.
Beberapa saat kemudian, Nadifa memeluk lengan Kakek. “Kek… kalau aku nanti bertarung, doakan ya biar menang dengan cara baik.”
Kakek Acit mengusap kepala cucunya. “Selalu.”
Daffa ikut mendekat. “Kalau aku kalah?”
“Kalah pun tak apa,...” jawab Kakek tersenyum, “...asal kalahnya jujur.”
Matahari akhirnya tenggelam di ufuk laut Ambunten. Di atas bukit pasir putih itu, tiga generasi duduk berdampingan—menyadari bahwa hidup adalah pertarungan, namun keindahannya terletak pada cara bertarung.
"Semoga kita semua selalu diberi kesehatan, kesabaran, keikhlasan, rasa syukur, dan istiqomah dalam ketaatan." Doa Kakek Acit.
"Aamiin… Ya Rabbal ‘Alamin." Sambut sang cucu serempak.
AmbuEnten, 7 Januari 2026
#CahayaDhuhaAsaKeluarga
#CerpenBuatCucunda
Komentar
Posting Komentar