WASIAT PAGI DI TERAS DEPAN
Cerpen Cahaya Dhuha #14
WASIAT PAGI DI TERAS DEPAN
@hmad Rasyid
Pagi Minggu itu terasa lebih sejuk dari biasanya. Embun masih menggantung di ujung daun, dan suara ayam jago dari kejauhan memecah kesunyian. Teras depan rumah Kek Acit menjadi tempat paling nyaman untuk duduk menikmati udara pagi. Sebuah kursi rotan tua, sebuah meja kecil berisi segelas teh hangat, dan aroma tanah basah—semuanya bersatu menjadi suasana yang sulit dilupakan.
Ke Acit, lelaki paruh baya berwajah teduh dengan sorban putih melingkar rapi di lehernya, sedang duduk sambil memejamkan mata. Bibirnya bergerak pelan, melafalkan doa yang sejak bertahun-tahun tak pernah absen ia ulang setiap pagi.
“Yaa Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amal yang diterima…”
Daffa dan adiknya, Nadifa, muncul dari dalam rumah sambil menguap lebar.
“Assalamualaikum, Kek…” ujar Daffa sambil mengusap matanya.
“Waalaikumussalam,” sahut Ke Acit, membuka mata dan menatap kedua cucunya. “Wah, kalian sudah bangun? Bagus, bagus.”
Nadifa duduk di sebelah kakeknya. “Kek, kenapa setiap pagi Kek selalu membaca doa itu? Nadifa sering dengar, tapi belum paham.”
Ke Acit tersenyum. “Karena tiga hal itu, Nak yakni ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amal yang diterima adalah bekal hidup paling berharga. Lebih berharga dari semua hadiah ulang tahunmu yang pernah kau dapat.”
Daffa mengangguk kecil, tapi jelas masih setengah sadar. Ia melirik ayam jago tetangga yang baru saja berkokok.
Dan saat itulah Ke Acit berkata, dengan suara pelan tapi tegas, mengutip sesuatu yang tak asing baginya:
“Tidak perlu bandingkan dirimu dengan orang lain. Cukuplah bandingkan kepintaran dirimu dengan ayam yang berkokok di pagi hari. Lihatlah siapa yang terlebih dahulu bangun untuk mengingati Tuhannya. Maka itulah yang lebih pintar.”
“Imam Al-Ghazali, kan, Kek?” tanya Daffa.
“Betul.”
Namun pagi yang tenang itu tidak berlangsung lama. Konflik muncul ketika Daffa berkata dengan nada tak puas:
“Kek… tapi menurut Mas Daffa, bangun pagi itu nggak selalu berarti lebih pintar. Teman-teman Daffa ada yang bangunnya siang tapi nilainya tinggi-tinggi. Banyak juga orang sukses yang kerjanya malam dan tidurnya pagi.”
Nadifa langsung menoleh. “Iya, Kek. Kak Daffa kemarin bahkan bangun jam sembilan. Bilang tugas banyak.”
Daffa cemberut. “Halah, kamu mah suka lapor-laporin.”
Ke Acit hanya tertawa kecil. “Begitu ya? Jadi kamu merasa tidak sepenuhnya setuju dengan ucapan Imam Al-Ghazali?”
Daffa mengangguk tegas. “Iya, Kek. Kayaknya orang pintar itu ya… yang nilainya bagus, yang bisa menjawab soal matematika, atau yang bisa bikin robot. Masa kepintaran dibandingkan dengan ayam?”
Perkataan itu membuat suasana yang tadinya hangat menjadi tegang. Nadifa melihat wajah Ke Acit berubah lebih serius. Daffa pun ikut diam, menyadari mungkin ucapannya terdengar kurang sopan.
Ke Acit menghela napas panjang.
“Daffa...,” katanya pelan, “...kamu boleh tidak setuju. Kakek tidak marah. Tapi tahukah kamu, ucapanmu itu menyentuh akar dari masalah banyak manusia: mereka mengira kepintaran hanya soal otak, nilai, dan prestasi.”
Daffa terdiam.
“Itu bukan salahmu, Nak,” lanjut Ke Acit. “Zaman sekarang memang begitu. Orang bangga jika punya banyak ilmu, tapi tidak bangga bila tidak bisa bangun pagi untuk mengucap syukur.”
“Kek,...” sela Nadifa, “...jadi maksudnya ayam itu… lebih pintar dari manusia?”
“Tidak begitu,...” jawab Ke Acit sambil tersenyum miring. “...Ayam tidak lebih pintar dari manusia. Tapi ayam tahu kapan harus bangun untuk mengingat Tuhannya, sedangkan manusia sering lupa.”
Daffa merengut. “Tapi kan ayam berkokok karena insting, Kek… bukan karena mau ibadah.”
“Betul,” sahut Ke Acit. “Tapi walaupun hanya insting, ia mengikuti ketentuan yang Allah berikan kepadanya. Sementara manusia, yang diberi akal, justru sering kalah oleh kebiasaan buruknya sendiri.”
Daffa merasa tersindir, tapi pada saat yang sama ia mulai memahami maksud kakeknya. Ia menunduk, memainkan jemari.
“Jadi… Daffa kurang pintar karena sering bangun siang?” gumamnya lirih.
Ke Acit menggeleng.
“Tidak, Daffa. Bukan itu maksud kakek. Yang lebih pintar adalah yang lebih banyak mengingat Tuhannya. Yang hidupnya disiplin, jiwanya terarah, dan hatinya ringan untuk melakukan kebaikan.”
Ia mengutip kembali doanya, "Yaa Allah, sesungguhnya aku memohon ilmu yang bermanfaat… Bukan sekadar banyak, tapi bermanfaat. Rizki yang halal… bukan sekadar banyak, tapi halal. Amal yang diterima… bukan sekadar banyak, tapi yang Allah ridai.”
Suara ayam jago kembali terdengar. Kali ini lebih nyaring.
Ke Acit menatap kedua cucunya.
“Kalian lihat ayam itu?”
Keduanya mengangguk.
“Dia tidak punya rencana hidup. Tidak punya sekolah, tidak belajar matematika, tidak punya cita-cita. Tapi dia punya satu hal: ketepatan. Ia bangun saat fajar dan berkokok tepat waktu. Ia menjalankan tugasnya.”
Ia mencondongkan tubuh.
“Sekarang bayangkan jika manusia yang diberi akal tidak bisa menjalankan tugasnya. Apa bedanya dengan ayam?”
Daffa menghela napas pelan. “Kek… Daffa baru ngerti sekarang. Bukan soal ayamnya, tapi soal kedisiplinannya ya?”
Ke Acit mengangguk lembut. “Iya, Nak.”
Nadifa ikut bersuara, “Berarti kalau bangun pagi, kita bisa mulai hari dengan doa, belajar, dan membantu orang tua?”
“Betul, Difa. Itu awal dari amal yang diterima.”
Daffa menatap lantai teras. “Maaf ya, Kek… kalau tadi Daffa ngomongnya agak sombong.”
Ke Acit mengusap kepala cucunya. “Tidak apa-apa. Orang yang bertanya adalah orang yang mau belajar. Dan itu lebih baik daripada yang diam tapi tidak paham.”
Suasana kembali hangat.
Dari dapur terdengar suara panci beradu. Aroma bubur kacang hijau mulai merayap ke teras. Angin pagi mengayun dedaunan mangga.
“Kek,...” kata Daffa sambil tersenyum kecil, “...besok-besok kalau ayam tetangga berkokok, Daffa mau bangun lebih cepat.”
Nadifa tertawa. “Mana bisa Kak Daffa bangun lebih cepat dari ayam!”
Daffa menjawab, “Bisa dong! Mulai besok, Daffa mau coba bangun sebelum subuh.”
Ke Acit terbahak. “Kalau begitu, mulai hari ini kamu lebih pintar dari ayam!”
Mereka hening sebentar. Hening yang indah—hening yang dipenuhi pemahaman baru.
Kemudian Ke Acit kembali melafalkan doanya, kali ini lebih pelan, namun lebih bermakna. “Yaa Allah… berikanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal… dan amal yang Engkau terima.”
Daffa dan Nadifa ikut mengaminkan.
Pagi Minggu itu menjadi wasiat hidup bagi keduanya. Wasiat yang tidak ditulis di kertas, tidak ditandatangani tinta, tetapi ditanamkan di hati - di teras sederhana, di bawah cahaya matahari pagi yang baru hampir sepenggalan.
Sebab kadang, pelajaran paling besar datang bukan dari sekolah, bukan dari buku, tapi dari satu kalimat sederhana:
“Lihatlah siapa yang lebih dahulu bangun untuk mengingati Tuhannya. Maka itulah yang lebih pintar.”
#CahayaDhuhaAsaKeluarga
#CerpenBuatCucunda
AmbuEnten, 17 November 2025
Komentar
Posting Komentar