PESAN MBAH BUYUT: MENANAM UNTUK MASA DEPAN
Cerpen Cahaya Dhuha #18
PESAN MBAH BUYUT: MENANAM UNTUK MASA DEPAN
@hmad Rasyid
Pagi baru saja membuka tirainya. Embun masih menggantung di ujung daun, memantulkan cahaya matahari yang malu-malu mengintip dari balik genting rumah.
Di belakang rumah sederhana itu, Kakek Acit sudah berdiri dengan caping lusuh di kepala dan cangkul kecil di tangan. Tanah taman kecil itu tampak basah dan gembur, siap ditata ulang.
“Daffa... Nadifaa...” panggilnya pelan namun tegas.
“Siap, Kek!” teriak Daffa dari dalam rumah sambil berlari tergopoh-gopoh.
Nadifa menyusul sambil membawa botol minum. “Kakek ini kalau pagi-pagi suaranya seperti toa masjid.”
Kakek Acit terkekeh. “Biar kalian cepat bangun. Kalau kebanyakan tidur, nanti mimpinya kepanjangan, lupa pagi yang semestinya bersemangat.”
Mereka bertiga berdiri di depan beberapa batang kamboja yang sudah tumbuh subur. Ada yang berbunga putih bersih, ada yang merah menyala, dan ada pula yang pink lembut seperti pipi Nadifa saat malu-malu.
“Kakek mau memindahkan yang ini ke tengah taman,” kata Kakek Acit sambil menunjuk kamboja pink.
Daffa mengernyit. “Kenapa gak yang merah saja, Kek? Biar kelihatan berani.”
“Yang putih juga bagus, Kek. Terlihat suci,” timpal Nadifa.
Kakek Acit tersenyum bijak. “Nah, di situlah indahnya hidup. Merah, putih, pink—semuanya punya tempatnya masing-masing. Kalau semua dipaksa jadi merah, nanti taman ini malah seperti bendera yang lupa dikibarkan.”
Daffa tertawa. “Kakek ini kalau ngomong suka tiba-tiba jadi puitis.”
Mereka mulai bekerja. Daffa menggali, Nadifa membersihkan akar-akar kecil yang tersisa, dan Kakek Acit mengarahkan sambil sesekali membantu. Angin pagi berembus lembut, membawa aroma tanah basah yang menenangkan.
“Kalian tahu pesan mbah buyut kalian, Mbah Mangsur?” tanya Kakek Acit tiba-tiba.
Daffa mengangkat bahu. “Yang jualan jamu keliling itu?”
Nadifa memukul lengan Daffa. “Bukan, Daff. Mbah buyut itu kakeknya Kakek.”
Kakek Acit tertawa terbahak-bahak. “Jamu keliling itu tetangga dulu. Pesan mbah buyut kalian satu: Tanamlah hari ini, agar yang datang esok bisa memetiknya. Walau tanganmu tak sempat menikmati, biarlah anak cucumu yang merasakannya.”
Daffa berhenti menggali. “Jadi, kita ini seperti lagi nabung pahala, gitu?”
“Kurang lebih,” jawab Kakek Acit. “Menanam bukan cuma soal pohon. Menanam juga soal niat, perbuatan, dan amanah.”
Nadifa menatap bunga kamboja putih yang sudah dipindahkan. “Berarti kalau Nadifaa belajar rajin sekarang, nanti masa depan Nadifa yang panen ya, Kek?”
“Betul. Dan mungkin juga anak Nadifa kelak ikut menikmati.”
Daffa tertawa kecil. “Wah, berarti kalau aku sering jajan sekarang, nanti yang panen tukang baksonya.”
“Yang itu namanya sedekah tak sadar,” kata Kakek Acit sambil tergelak.
Cangkul kembali bergerak. Tanah menutup akar-akar bunga dengan rapi.
“Kek,” ujar Nadifa pelan, “...kalau nanti kami sudah dewasa, benar kami juga harus menanam untuk orang lain?”
Kakek Acit berhenti sejenak, lalu duduk di bangku kayu kecil. “Wajib, Nak. Menjadi orang tua itu bukan hanya melahirkan anak, tapi menanam kebaikan untuk masa depan mereka. Dan bukan cuma untuk keluarga—juga untuk masyarakat.”
Daffa menyeka keringat. “Kalau misalnya aku jadi pejabat, Kek?”
Kakek Acit menatapnya dalam-dalam. “Nah, itu berat amanahnya. Kalau kelak ada di antara kalian yang jadi pemimpin, berbuatlah untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Jangan untuk memperkaya diri.”
Nadifa mengangguk serius. “Seperti berita banjir yang sering Nadifa lihat di medsos itu ya, Kek?”
Kakek Acit menarik napas panjang. “Iya. Banyak tempat yang seharusnya ditanami, malah ditebang. Banyak bukit yang seharusnya dijaga, malah diratakan. Lalu ketika air datang membawa lumpur dan batu, manusia baru bertanya: kenapa?”
Daffa mendengus. “Padahal jawabannya ada di cermin.”
“Betul,” sahut Kakek Acit. “Allah sudah mengingatkan, kerusakan di darat dan di laut itu karena ulah tangan manusia. Kita sering menanam keserakahan, lalu kaget saat yang tumbuh adalah bencana.”
Nadifa terdiam sejenak, lalu bertanya lirih, “Berarti banjir dan longsor itu juga teguran?”
“Bisa jadi,” jawab Kakek Acit hati-hati. “Teguran agar manusia kembali ingat batas. Ingat bahwa bumi ini bukan sekadar barang dagangan.”
Daffa menggaruk kepala. “Kalau begitu, kakek ini sebenarnya sedang menyelamatkan dunia ya dengan menanam kamboja?”
Kakek Acit tergelak. “Minimal menyelamatkan halaman belakang kita dulu.”
Mereka kembali tertawa.
Setelah semua bunga tertata, mereka duduk bertiga menatap hasil kerja pagi itu. Kamboja putih di tengah, merah di sisi kanan, pink di kiri. Seimbang, rapi, dan hidup.
“Cantik sekali,” gumam Nadifa.
“Kek, kalau suatu hari Kakek sudah tidak ada, apa bunga ini masih akan berbunga?” tanya Daffa terbata.
Kakek Acit tersenyum lembut. “Itulah gunanya menanam. Meski penanamnya telah tiada, yang ditanam tetap memberi manfaat. Seperti kebaikan—tidak mati bersama jasad.”
Nadifa menggenggam tangan Kakek Acit. “Difa janji akan terus merawatnya.”
Daffa ikut menimpali, “Kalau aku nanti jadi pejabat, aku akan tanam pohon banyak-banyak. Biar rakyat gak kebanjiran.”
Kakek Acit menepuk bahu Daffa. “Ingat, nak. Jangan hanya bisa menebang atas nama investasi. Menanam itu tanda cinta, menebang tanpa menanam itu tanda lupa diri.”
Matahari kini naik sempurna. Cahaya pagi menyiram taman kecil itu dengan hangat. Kamboja-kamboja baru tampak semakin segar.
“Baik, misi taman selesai!” kata Daffa sambil memberi hormat lagi.
“Misinya belum selesai,” sahut Kakek Acit. “Kalian masih punya misi seumur hidup: menjaga amanah.”
Nadifa tersenyum. “Berat juga ya, jadi manusia.”
“Berat, tapi indah,” jawab Kakek Acit. “Karena setiap kebaikan yang kita tanam, meski kecil, akan tumbuh menjadi naungan bagi orang lain. Dan itulah bekal kita menghadap Allah.”
Angin pagi meniup bunga kamboja hingga beberapa kelopaknya gugur perlahan di tanah. Daffa memungut satu kelopak merah.
“Kalau gugur begini, sedih juga ya, Kek.”
“Tidak,” ujar Kakek Acit lembut. “Itu tanda bahwa bunga itu pernah mekar. Dan yang pernah mekar, tidak pernah sia-sia.”
Mereka bertiga tersenyum. Di taman kecil itu, bukan hanya bunga yang tumbuh, tapi juga harapan, amanah, dan kesadaran tentang tanggung jawab sebagai manusia.
#CahayaDhuhaAsaKeluarga
#CerpenBuatCucunda
AmbuEnten, 4 Desember 2025
Komentar
Posting Komentar