RESEP KELUARGA BAHAGIA DI WAKTU DHUHA
Cerpen Cahaya Dhuha #30
RESEP KELUARGA BAHAGIA DI WAKTU DHUHA
@hmad Rasyid
Pagi itu, matahari baru saja naik sepenggal tombak. Sinar dhuha menyelinap malu-malu lewat jendela kayu rumah tua Kakek Acit. Angin Minggu berhembus santai, membawa aroma kopi pahit panas dan pisang goreng yang baru diangkat dari wajan. Ia nikmati sehabis salat Dhuha sebanyak dua salam.
Kakek Acit duduk di kursi rotan kesayangannya, sarung dilipat rapi, peci coklat terbuat dari anyaman rotan miring sedikit—entah sengaja atau lupa dibenarkan. Di depannya, dua cucu kesayangannya duduk bersila: Daffa dengan wajah sok dewasa, dan Nadifa yang sejak tadi sibuk mengipas wajahnya dengan buku tulis.
“Kek,...” ujar Nadifa sambil manyun, “...kenapa sih dhuha harus pagi-pagi? Panas.”
Kakek Acit tersenyum. “Supaya kamu belajar, Nak. Bahagia itu nggak nunggu adem dulu.”
Daffa terkekeh. “Berarti kalau nunggu kipas angin baru bahagia, salah dong, Kek?”
“Nah, itu sudah mulai paham,...” jawab Kakek Acit sambil menunjuk Daffa. “...Tapi kipas tetap boleh, asal jangan dijadikan syarat hidup bahagia.”
Nadifa mendengus kecil. “Aku sih bahagia kalau Daffa nggak usil.”
“Lho, justru aku bahagia karena bisa usil,” balas Daffa cepat.
“Ehem,...” Kakek Acit berdehem pelan. “...Nah, ini contoh kecil problematika keluarga.”
Keduanya langsung diam.
Kakek Acit meneguk kopi hangatnya, lalu berkata pelan namun dalam, “Kalian tahu, Nak, tidak ada satu pun keluarga di dunia ini yang hidup tanpa masalah.”
Daffa mengangguk. “Kayak di sinetron, Kek?”
“Bahkan lebih seru dari sinetron,...” jawab Kakek Acit sambil tersenyum. “...Bedanya, di sinetron masalahnya dibikin-bikin. Di keluarga, masalahnya asli.”
Nadifa mengernyit. “Berarti keluarga bahagia itu keluarga tanpa masalah?”
“Justru sebaliknya,” kata Kakek Acit mantap. “Keluarga bahagia bukan yang bebas masalah, tapi yang pandai menikmati kehidupan walau penuh keterbatasan dan persoalan.”
Daffa menggaruk kepala. “Menikmati masalah? Kayak makan sambal padahal pedas?”
“Persis!” Kakek Acit tertawa kecil. “Pedasnya terasa, tapi tetap dimakan karena tahu ada nikmatnya.”
Nadifa ikut tertawa. “Kalau kepedesan, minum es teh, Kek.”
“Nah,...” Kakek Acit mengangguk, “...dalam keluarga, es tehnya itu sabar, ikhlas, dan syukur.”
Ia lalu melanjutkan dengan nada lebih lembut, “Semua keluarga punya beban. Semua keluarga diuji. Tak ada satu pun rumah tangga yang bebas dari badai.”
Daffa menatap kakeknya serius. “Tapi kata orang, badai pasti berlalu.”
Kakek Acit tersenyum penuh makna. “Itu benar, Nak. Tapi jarang yang mau mendengar lanjutannya.”
Nadifa penasaran. “Apa lanjutannya, Kek?”
“Dan setelah badai berlalu, biasanya datang badai lagi,” jawabnya pelan.
Daffa dan Nadifa saling pandang, lalu tertawa kecil.
“Lho, kok ketawa?” tanya Kakek Acit.
“Soalnya hidup kok kayak sinetron episode panjang gitu,” ujar Daffa.
“Justru di situlah rahasianya,...” balas Kakek Acit. “...Kalau kamu membuat syarat untuk bahagia—‘aku akan bahagia nanti kalau masalah selesai’—maka kamu tidak akan pernah bahagia.”
Nadifa mengangguk pelan. “Soalnya masalahnya nggak habis-habis kan ?"
“Pintar,...” puji Kakek Acit. “...Masalah selesai satu, datang lagi yang lain. Maka bahagia itu bukan hadiah setelah masalah, tapi sikap saat menghadapi masalah.”
Daffa nyeletuk, “Berarti curhat di medsos itu bukan solusi, ya Kek?”
Kakek Acit terkekeh. “Kalau curhatnya sekadar berbagi hikmah, boleh. Tapi kalau mendramatisir masalah keluarga, itu sama saja menambah ribut.”
Nadifa menutup mulutnya. “Kayak goreng ikan pakai kipas angin, makin kemana-mana.”
“Pas....” Kakek Acit tertawa. “...Ada keluarga yang masalahnya kecil jadi besar karena diumbar. Ada juga yang masalahnya besar jadi ringan karena dihadapi bersama.”
Kakek Acit lalu berdiri, berjalan perlahan ke jendela, memandang langit biru. “Resep keluarga bahagia itu sederhana.”
Daffa dan Nadifa serempak bertanya, “Apa itu, Kek?”
“Satu,...” katanya sambil mengangkat jari, “...jangan kabur dari masalah.”
“Dua,...” jari kedua terangkat, “...jangan mendramatisir masalah.”
“Tiga,...” jari ketiga menyusul, “...cari langkah nyata, bukan keluhan semata.”
“Empat,...” jari keempat, “...syukuri karunia sekecil apa pun.”
“Lima,...” jari terakhir terangkat, “...jalani hidup dengan ketaatan kepada Allah.”
Nadifa terdiam sejenak. “Kalau lima-limanya nggak lengkap?”
“Minimal satu dulu,...” jawab Kakek Acit ringan. “...Daripada nol.”
Daffa tersenyum. “Kek, berarti keluarga bahagia itu bukan yang rumahnya besar?”
“Bukan,...” jawab Kakek Acit. “...Tapi yang hatinya lapang.”
“Bukan yang uangnya banyak?”
“Bukan,...” katanya lagi. “...Tapi yang pandai bersyukur.”
“Bukan yang hidupnya mulus?”
“Bukan,...” Kakek Acit tersenyum bijak. “...Tapi yang istiqomah dalam kebaikan.”
Suasana hening sejenak. Angin dhuha kembali berhembus lembut.
Nadifa memeluk lengan kakeknya. “Kek, doakan kami ya.”
Kakek Acit mengusap kepala keduanya. “Semoga kalian tumbuh menjadi anak-anak yang sehat, sabar, ikhlas, pandai bersyukur, dan istiqomah dalam ketaatan.”
Daffa tersenyum nakal. “Aamiin… tapi Nadifa jangan cerewet.”
Nadifa mencubit kecil. “Aamiin… tapi Daffa jangan usil.”
Kakek Acit tertawa bahagia. “Nah, itu dia. Keluarga bahagia bukan yang bebas ribut, tapi yang ributnya penuh cinta.”
Dan di waktu dhuha itu, di rumah sederhana yang penuh tawa, resep keluarga bahagia kembali diracik dengan sabar, syukur, dan doa yang tak pernah putus.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
AmbuEnten, 25 Januari 2026
#CahayaDhuhaAsaKeluarga
#CerpenBuatCucunda
Komentar
Posting Komentar