NASIHAT MENYAMBUT TAHUN BARU

Cerpen Cahaya Dhuha #27

NASIHAT MENYAMBUT TAHUN BARU 

Sore itu langit berwarna jingga lembut, seperti sengaja melambatkan waktu. Angin bertiup pelan, membawa aroma tanah yang siang harinya diguyur hujan gerimis. Suara azan asar baru saja selesai. 

Di beranda rumah kayu yang sederhana, Kakek Acit duduk di kursi rotan tuanya, menyeruput kopi pahit nan hangat. Di depannya, dua cucunya, Daffa dan Nadifa, duduk bersila. Ada yang aneh memang, biasanya jam segini mereka sudah ribut di luar, main kejar-kejaran mencari layangan putus.

“Lho, kok sore-sore begini nggak main keluar?” tanya Kakek Acit sambil mengangkat alis, pura-pura curiga.

Daffa menghela napas panjang. “Teman-teman lagi latihan petasan, Kek. Aku takut kupingku meledak duluan sebelum petasannya.”

Nadifa terkekeh. “Iya, Kek. Tahun baru, katanya. Tapi Nadifa lebih takut sama suara ‘DOR’-nya daripada tahun barunya.”

Kakek Acit tertawa kecil. “Bagus, bagus. Kuping kalian masih panjang umurnya.”

Ia menyesap teh lagi, lalu memandang langit. “Kalian tahu nggak, besok-besok orang bakal sibuk ngomong tahun baru.”

“Tahun baru kan spesial, Kek!...” kata Daffa cepat. “...Ada kembang api, ada hitung mundur.”

“Iya,...” sambung Nadifa, “...jam dua belas malam teriak rame-rame. Walaupun besoknya ngantuk, jadinya bangun. Hehehe...”

Kakek Acit tersenyum, lalu menggeleng pelan. “Nah, itu yang mau Kakek ceritakan. Tahun baru itu… bukan sesuatu yang spesial.”

Daffa langsung melotot. “Hah? Masa, Kek? Televisi aja rame!”

“Televisi itu tugasnya memang bikin rame,” jawab Kakek Acit santai. “Kalau nggak rame, dia masuk angin.”

Nadifa tertawa sampai menutup mulut. “Terus yang spesial apa, Kek?”

Kakek Acit meletakkan gelasnya. Suaranya berubah lembut, seperti angin sore. “Yang spesial, bukan jam dua belas malam. Tapi sepertiga malam terakhir, Nak.”

Daffa mengernyit. “Sepertiga malam itu… jam berapa, Kek?”

“Jam orang-orang lagi pulas, dengkurnya bersahutan,” jawab Kakek Acit. 

“Di waktu itu, doa-doa gampang naik. Bukan naik ke grup WA, tapi naik ke langit.” lanjutnya.

Nadifa manggut-manggut. “Berarti yang hebat bukan nunggu hitung mundur ya, Kek?”

“Betul,...” kata Kakek Acit. “...Yang hebat itu menunggu azan subuh dikumandangkan.”

Daffa tersenyum nakal. “Kalau nunggu azan subuh sambil merem, hitungannya gimana, Kek?”

Kakek Acit tertawa terbahak. “Itu namanya niat baik, eksekusinya ketiduran.”

Mereka bertiga tertawa. Suasana sore makin hangat.

“Yang super lagi,...” lanjut Kek Acit, “...bukan begadang pesta lalu tidur pagi. Tapi tidur lebih awal dan bangun lebih awal dengan segar.”

Nadifa mengangkat tangan seperti di kelas. “Kek, kalau tidur awal tapi bangunnya tetap kesiangan?”

“Itu tandanya kamu butuh dua hal,...” jawab Kakek Acit cepat. “...Alarm dan tobat.”

Daffa sampai terpingkal. “Kakek lucu banget.”

Kakek Acit tersenyum, lalu melanjutkan dengan nada lebih dalam.

“Yang membahagiakan, bukan menghambur-hamburkan harta buat pesta pora. Tapi sedekah esok pagi… lalu dirutinkan di hari-hari selanjutnya.”

Nadifa menunduk. “Sedekah kecil juga boleh ya, Kek?”

“Justru yang kecil tapi rutin itu yang bikin hati besar,” jawab Kakek Acit sambil menepuk kepala Nadifa.

Daffa menatap kakeknya serius. “Terus yang menjayakan?”

“Bukan ikut keramaian acara tahun baru,...” kata Kakek Acit mantap, “...tapi berjamaah subuh.”

Daffa terdiam. “Berarti… merayakan tahun baru itu di masjid gitu?”

“Bisa,...” jawab Kakek Acit. “...atau di rumah saja, asal hatinya ke masjid.”

Angin berembus sedikit lebih kencang. Daun-daun berdesir pelan.

“Yang luar biasa,...” lanjut Kakek Acit, “...ingat, bukan mendeklarasikan harapan saat kembang api memuncak.”

Nadifa mengangguk. “Tapi saat apa, Kek?”

“Saat Allah menurun rahmat-Nya di waktu-waktu yang tepat,...” jawab Kakek Acit lirih, “...dan kita memanjatkan doa pada-Nya.”

Daffa menarik napas panjang. “Berarti… tahun baru itu soal hati, ya, Kek?”

Kakek Acit tersenyum bangga. “Nah, itu cucu Kakek pinter.”

Ia berdiri perlahan, menatap kedua cucunya bergantian.

“Jangan sibukkan diri kita dengan akhir tahun,..." ucapnya pelan tapi tegas, “...tapi sibukkan diri kita dengan akhir hayat.”

Nadifa menggenggam tangan Kakek Acit. “Kek… kalau kita lupa kadang-kadang, gimana?”

“Manusia memang tempat lupa,...” jawab Kakek Acit lembut. “...Tapi jangan lupa pulangnya.”

Daffa tersenyum kecil. “Berarti malam tahun baru nanti, kita nggak bakar petasan ya, Kek?”

Kakek Acit tertawa. “Bakar petasan boleh. Tapi jangan bakar waktu.”

Nadifa tertawa geli. “Deal, Kek. Kita bakar niat baik aja.”

Langit mulai gelap. Lampu rumah menyala. Sore itu tak ada teriakan hitung mundur, tak ada dentuman kembang api. Yang ada hanya tawa kecil, nasihat lembut, dan hati yang diam-diam belajar menyambut tahun baru dengan cara yang lebih dalam, lebih tenang, lebih dekat pada Tuhan.

Dan di beranda itu, waktu benar-benar terasa istimewa. Bukan karena tahun berganti, tapi karena hati sedang diperbaiki.


AmbuEnten, 31 Desember 2025
#CahayaDhuhaAsaKeluarga 
#CerpenBuatCucunda

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI