TEMPAT TINGGAL YANG SUNYI

Cerpen Cahaya Dhuha #23

TEMPAT TINGGAL YANG SUNYI 
@hmad Rasyid 


Langit sore itu kelabu, bukan karena hujan, melainkan karena matahari yang perlahan pamit. Angin berembus pelan, membawa bau tanah basah dari sawah belakang rumah. Kakek Acit duduk di kursi rotan tua, tasbih di tangannya bergerak perlahan—seolah menghitung bukan hanya zikir, tapi juga usia.

Daffa dan Nadifa duduk di lantai teras. Kali ini, ponsel mereka tergeletak begitu saja, layarnya mati.

“Kek,...” suara Nadifa pelan, hampir seperti bisikan, “...Kenapa ya… sekarang orang gampang sekali marah?”

Kakek Acit menoleh. Tatapannya lembut, tapi dalam. “Karena lisan lebih cepat dari hati, Nak. Dan jari lebih cepat dari akal.”

Daffa mengangguk.
“Tadi aku lihat komentar orang di medsos, Kek. Kata-katanya kejam banget. Nggak sopan. Padahal mereka gak saling kenal.”

Kakek Acit menghela napas panjang. “Dulu orang menyakiti dengan suara. Sekarang dengan tulisan. Sama-sama melukai.”

Sunyi menyela mereka sejenak. Hanya sesekali burung pulang ke sarang.

“Kek,...” lanjut Daffa, “...apa memang gak ada tempat yang tenang di dunia ini ya?”

Kakek Acit tersenyum samar. “Cucuku, pertanyaan semacam itu pernah keluar dari lisan seorang ulama besar di zamannya dulu.”

Nadifa mendongak. “Siapa, Kek?”

“Beliau Imam Al-Auza‘i,...” jawabnya lirih. “...Beliau pernah berkata ingin tinggal di tempat yang tetangganya tidak suka ghibah, tidak iri, dan tidak menyimpan kebencian.”

“Terus… ketemu?” tanya Nadifa polos.

Kakek Acit menggeleng pelan. “Orang yang mendengar keinginannya justru mengajak beliau ke kuburan.”

Daffa terdiam. Tidak tertawa kali ini.

“Orang itu berkata,..." lanjut Kakek Acit, suaranya bergetar halus, "...Di sinilah tempatnya.’”

Nadifa menelan ludah. “Kenapa kuburan, Kek?”

“Karena di sanalah,” jawab Kakek Acit, “lisan berhenti menyakiti. Hati berhenti iri. Dendam berhenti hidup.”

Angin berembus lebih dingin. Nadifa merapatkan jaketnya.

“Berarti… manusia hidup itu pasti menyakiti?” tanya Daffa pelan.

“Bukan begitu,” jawab Kakek Acit. “Tapi manusia hidup membawa nafsu, ego, dan luka. Itu yang sering tumpah ke lisan.”

Kakek Acit memejamkan mata sejenak. “Dunia ini tidak pernah sunyi dari ghibah, Nak. Jikalau dulu dari balik pintu, sekarang di balik layar.”

Nadifa menunduk.
“Aku pernah ikut-ikutan, Kek… ngomongin temanku di grup.”

Kakek Acit membuka mata. Ia menatap Nadifa, bukan dengan marah, tapi dengan kasih. “Dan bagaimana rasanya setelah itu?”

Nadifa terdiam lama. “Sesak.”

Kakek Acit tersenyum. “Itu hati yang masih hidup.”

Daffa menatap Kakeknya.
“Kek… kalau begitu, apa kita harus menjauh dari semua orang?”

“Tidak,...” jawab Kakek Acit tegas namun lembut. “...Imam Auza’i tidak tinggal di kuburan. Beliau tetap hidup di dunia.”

“Lalu maksud ceritanya apa?” tanya Daffa.

Kakek Acit mengangkat tasbihnya. “Maksudnya, jangan berharap dunia bersih dari keburukan. Tapi bersungguh-sungguhlah menjaga diri agar tidak ikut menjadi kotor.”

Nadifa mengusap matanya. “Berat ya, Kek…”

“Iya,...” jawab Kakek Acit. “...Menjaga lisan itu lebih berat daripada menahan rasa lapar.”

Sunyi kembali hadir. Kali ini terasa lebih dalam.

“Kek,...” suara Daffa bergetar, “...kalau orang ngomongin kita… gimana?”

Kakek Acit tersenyum pahit. “Itu tanda kita masih hidup. Tapi jangan balas dengan cara yang sama.”

“Kenapa?” tanya Nadifa.

“Karena kalau kita ikut menggunjing,...” jawabnya lirih, “...kita sedang menggali kubur untuk ketenangan diri sendiri.”

Nadifa memejamkan mata. Setetes air mata jatuh.

Kakek Acit meraih tangan cucunya. “Nak… dunia digital ini seperti sungai deras. Kalau kita tidak pandai berenang, kita akan hanyut.”

Daffa menarik napas dalam. “Berarti, rumah yang tenang itu… bukan soal tetangga?”

“Benar,...” jawab Kakek Acit. “...Rumah yang tenang adalah hati yang dijaga.”

Azan Maghrib berkumandang. Suaranya menggema lembut, menembus hati. "Allahu Akbar... Allahu Akbar ..."

Kakek Acit berdiri perlahan. “Imam Auza’i mengajarkan satu hal,...” katanya sambil melangkah ke dalam rumah, “...bahwa ketenangan bukan dicari di luar, tapi diciptakan di dalam.”

Daffa dan Nadifa mengikuti di belakang.

“Kek,...” kata Nadifa sebelum masuk, “...kalau suatu hari aku lelah dengan dunia…”

Kakek Acit menoleh.
“Pulanglah ke hati, Nak. Jangan ke kuburan.”

Ia tersenyum. Senyum yang hangat, penuh doa.

Di rumah sederhana itu, dua anak belajar bahwa menjadi baik di zaman gaduh bukan perkara mudah. Namun, justru di situlah nilai sebuah iman diuji: menjadi cahaya, meski dunia memilih hiruk-pikuk.

AmbuEnten, 24 Desember 2025
#CahayaDhuhaAsaKeluarga 
#CerpenBuatCucunda 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI