CAHAYA SORE DI TERAS KEK ACIT
Cerpen Cahaya Dhuha #13
CAHAYA SORE DI TERAS KEK ACIT
@hmad Rasyid
Sore itu langit tampak lembut. Matahari belum sepenuhnya tenggelam, tapi sinarnya sudah berubah kekuningan, menembus sela-sela daun mangga di halaman depan rumah Kek Acit. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah yang masih lembap sehabis disiram Bunda Anisa di taman kecil depan rumah.
Daffa dan Nadifa duduk di anak tangga teras, masing-masing memegang segelas teh manis buatan Bunda. Sementara Kek Acit duduk di kursi rotan tua kesayangannya, mengenakan sarung kotak dan peci hitam. Di pangkuannya, ada sebuah buku kecil berisi kumpulan nasihat para sahabat Nabi.
Kek Acit membuka buku itu perlahan, lalu menutupnya kembali. Beliau menarik napas dalam-dalam, lalu berdoa lirih dengan kedua tangannya terangkat ke langit.
“Yaa Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amal yang diterima.”
Dua cucunya ikut menadahkan tangan, menirukan doa Kek Acit walau belum sepenuhnya paham maknanya. Seusai berdoa, suasana menjadi hening sejenak. Hanya suara burung gereja yang terdengar dari pepohonan.
“Daffa, Nadifa,” ucap Kek Acit dengan suara lembut namun berwibawa. “Kalian tahu tidak, apa yang paling ditakuti oleh orang-orang saleh dulu ketika beramal?”
Daffa menatap Kek Acit, lalu menggeleng pelan. “Takut gagal, Kek?” katanya ragu.
Kek Acit tersenyum. “Bukan, Nak. Mereka takut amalnya tidak diterima oleh Allah karena tercampur dengan riya.”
Nadifa memiringkan kepalanya. “Riya itu apa, Kek?”
“Riya,...” jawab Kek Acit sambil mengelus janggut putihnya, “...adalah beramal bukan karena Allah, tapi karena ingin dilihat dan dipuji orang.”
Ia lalu membuka kembali buku kecilnya, dan membacakan pelan-pelan, dengan suara yang seolah membawa kesejukan sore itu.
“Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata:
Orang yang riya terhadap amal perbuatannya punya tiga tanda:
Pertama, malas jika sendiri.
Kedua, semangat jika berada di tengah banyak orang.
Ketiga, meningkatkan amal jika disanjung, dan mengurangi amal jika dicela.”
Kek Acit menutup buku itu perlahan, lalu menatap kedua cucunya satu per satu. “Kek ingin kalian paham, Nak bahwa amal yang benar itu hanya karena Allah. Bukan karena ingin terlihat baik di mata orang.”
Daffa tampak berpikir. “Tapi Kek, kalau kita rajin salat di masjid dan teman-teman lihat, apa itu termasuk riya?”
Pertanyaan itu membuat Kek Acit tersenyum lebar. “Pertanyaan yang bagus, Daffa. Tidak semua yang dilihat orang itu riya. Kalau hatimu memang ingin salat karena Allah, lalu orang melihat, itu bukan riya. Tapi kalau kamu jadi semangat salat hanya karena ingin dipuji rajin, itu baru riya.”
Nadifa mengangkat tangan kecilnya, seolah sedang di kelas. “Jadi riya itu… kayak pura-pura baik ya, Kek?”
“Betul, Nadifa,” kata Kek Acit. “Riya itu seperti memakai baju putih yang bersih di luar, tapi dalamnya kotor. Orang kelihatannya shalih, tapi hatinya mencari perhatian manusia, bukan ridha Allah.”
Daffa mengangguk pelan. “Berarti kalau kita baca Qur’an keras-keras biar didengar orang, itu juga bisa jadi riya ya, Kek?”
“Bisa, Nak. Kalau hatimu ingin dipuji suaramu bagus. Tapi kalau kau membaca dengan suara yang keras agar lebih khusyuk atau supaya orang lain ikut mendengar dan termotivasi, itu bukan riya. Semuanya tergantung niat.”
Angin sore berhembus lagi. Daun-daun kering beterbangan di halaman, jatuh di dekat kaki Nadifa. Ia memungutnya dan membuat bentuk hati kecil di tanah. Sementara Daffa masih tampak merenung, mengingat-ingat amal-amalnya di sekolah dan di mushola.
“Kek,...” katanya pelan, “...kalau di sekolah, teman-teman suka lomba siapa yang paling hafal doa makan. Aku suka ikut. Tapi kadang, aku senang kalau guru memuji aku. Itu gimana, Kek?”
Kek Acit tersenyum dan menepuk bahu cucunya. “Itu wajar, Nak. Kita semua manusia. Senang dipuji itu fitrah, tapi jangan sampai niatmu berubah hanya karena pujian. Niat awalmu harus tetap: karena Allah.”
Ia menatap langit sore yang mulai jingga. “Kek juga dulu pernah diuji begitu,” katanya lirih. “Waktu muda, Kek suka jadi imam di mushola. Banyak orang bilang suara Kek merdu, bacaan tartil. Lama-lama Kek sadar, hatiku mulai senang kalau banyak yang bilang begitu. Sejak itu Kek belajar untuk menundukkan hati.”
“Gimana caranya, Kek?” tanya Nadifa polos.
“Dengan doa, Nak. Dengan mengingat bahwa manusia bisa lupa, tapi Allah tidak. Bahwa pujian manusia tidak menambah apa-apa bagi kita di akhirat, tapi ridha Allah bisa membuat hidup kita berkah.”
Daffa menatap Kek Acit dengan kagum. “Kek, kok bisa hafal nasihat dari Sayyidina Ali?”
Kek Acit tertawa kecil. “Karena Kek dulu belajar dari guru yang juga cinta Sayyidina Ali. Guru kakek bilang, Sayyidina Ali bin Abi Tolib itu bukan hanya sahabat Nabi, tapi juga lautan hikmah. Setiap ucapannya dalam, menembus hati.”
Ia melanjutkan dengan suara pelan namun tegas, “Makanya, Daffa, Nadifa kalau kalian ingin beramal, jagalah hatimu. Jangan berubah-ubah karena orang. Kalau sedang sendiri, tetaplah rajin beribadah. Kalau sedang di antara teman-teman, tetap rendah hati. Dan kalau orang memuji, jangan bangga. Cukup ucapkan Alhamdulillah.”
Nadifa menatap wajah kakeknya yang penuh keriput namun bersinar lembut oleh cahaya senja. “Kek, nanti kalau aku besar, aku mau jadi orang yang gak riya.”
Kek Acit tersenyum, matanya berkaca-kaca. “Itu cita-cita yang indah, Nak. Doakan agar Kakek pun tetap dijauhkan dari riya. Sebab penyakit hati itu bisa datang kapan saja.”
Ia lalu menengadah lagi, berdoa dengan lirih: “Yaa Allah, bersihkanlah hati kami dari riya, dari ujub, dari sum’ah, dan dari cinta dunia. Jadikanlah amal kami murni karena-Mu, dan terimalah semua kebaikan kami sebagai bentuk cinta kepada-Mu.”
Daffa dan Nadifa ikut menadahkan tangan, menirukan doa Kek Acit dengan khusyuk.
Beberapa menit kemudian, azan magrib berkumandang dari mushola Al-Hikmah di ujung jalan. Suaranya menggema lembut di antara desir angin sore. Kek Acit berdiri perlahan, merapikan sarungnya.
“Ayo, Nak, kita ke mushola,” katanya. “Kita buktikan bahwa kita beribadah bukan karena ingin dilihat orang, tapi karena ingin dilihat Allah.”
Daffa tersenyum lebar. “Siap, Kek!”
Nadifa berlari kecil mengambil mukenanya. “Aku ikut juga!”
Mereka bertiga berjalan pelan menuju mushola, melewati jalan kecil yang ditumbuhi rumput liar. Sinar jingga sore berganti dengan cahaya biru keunguan, seolah langit pun ikut tersenyum menyaksikan tiga generasi berjalan dalam satu arah menuju rumah Allah.
Dan di hati kecil Daffa dan Nadifa, pesan Kek Acit sore itu menetap dengan lembut bahwa amal yang ikhlas bukanlah tentang siapa yang melihat, tapi tentang siapa yang menjadi tujuan.
#CahayaDhuhaAsaKeluarga
#CerpenBuatCucunda
AmbuEnten, 4 November 2025
Komentar
Posting Komentar