REUNI DALAM KEMASAN SENJA
Cerpen Cahaya Dhuha #28
REUNI DALAM KEMASAN SENJA
@hmad Rasyid
Langit sore itu berwarna jingga keemasan. Angin dari sawah berembus perlahan, mengibaskan dedaunan yang gugur di halaman rumah sederhana bercat hijau pucat. Di kursi rotan yang telah dimakan usia, Kakek Acit duduk, menyeruput kopi pahit panas dari cangkir seng kesayangannya.
Daffa dan Nafifa duduk di hadapannya. Keduanya baru pulang dari rumah orang tua mereka di kota Probolinggo, membawa cerita dan tanya yang berjejal di kepala.
“Kek,..." Daffa membuka percakapan sambil memainkan ponselnya, “...kenapa sekarang orang-orang senang sekali reuni? Di media sosial penuh undangan reuni sekolah.”
Kakek Acit tersenyum tipis. Keriput di wajahnya bergerak pelan, seperti peta perjalanan hidup yang panjang. “Karena manusia suka mengenang,...” jawabnya tenang. “...Tapi tidak semua kenangan ingin dirawat dengan cara yang benar.”
Nafifa mengangkat wajahnya. “Maksud Kakek?”
Kakek Acit meletakkan cangkirnya. Matanya menerawang ke langit senja.
“Dulu, Nak, silaturahmi itu sederhana. Datang ke rumah saudara, duduk di lantai, minum air putih, saling mendoakan. Tak ada kamera, tak ada panggung.”
“Sekarang beda ya, Kek?” sela Daffa.
Kakek Acit mengangguk.
“Sekarang silaturahmi sering dikemas. Indah di luar, kosong di dalam.”
Nadifa terdiam. Ia teringat unggahan foto-foto reuni yang glamor—gaun berkilau, jas mahal, senyum yang dipoles cahaya lampu.
“Temanku bilang,...” ujarnya pelan, “...reuni itu ajang pamer keberhasilan.”
Kakek Acit tersenyum getir. “Pamer itu racun halus. Tidak terasa, tapi mematikan empati.”
“Bukankah silaturahmi itu dianjurkan agama, Kek?” tanya Daffa.
“Benar,...” jawab Kakek Acit mantap. “...Tapi niat menentukan arah. Silaturahmi untuk menyambung hati berbeda dengan silaturahmi untuk meninggikan diri.”
Angin sore berhembus perlahan membawa aroma tanah basah. Ayam-ayam pulang ke kandang. Senja semakin merendah.
“Kakek pernah datang ke reuni juga?” tanya Nadifa penasaran.
“Pernah,...” jawab Kakek Acit pelan. “...Dan Kakek pulang dengan dada sesak.”
“Kenapa?” Daffa mencondongkan tubuh.
“Karena yang dibicarakan bukan lagi kabar, tapi capaian. Bukan lagi doa, tapi data. Siapa jadi apa, punya apa, naik mobil apa.”
Nadifa menghela napas.
“Kasihan yang belum berhasil hanya jadi pendengar setia.”
“Itulah,...” kata Kakek Acit. “...Silaturahmi seharusnya menenangkan, bukan melukai sahabat yang baru dijumpainya.”
Daffa menatap layar ponselnya yang masih menyala, menampilkan foto reuni dengan ratusan komentar.
“Kenapa orang suka dipuji, Kek?”
“Karena lupa,...” jawab Kakek Acit lirih, “...bahwa semua yang dipuji itu titipan.”
Sunyi sejenak. Hanya suara jangkrik mulai terdengar. "Krik... Krik... Krik..."
“Kek,...” Nadifa berkata pelan, “...kalau begitu, bagaimana silaturahmi yang benar?”
Kakek Acit menoleh, matanya bening.
“Silaturahmi itu hadir tanpa topeng. Datang tanpa membanding-bandingkan. Dan pulang tanpa merendahkan yang lain.”
“Tidak perlu mewah?” tanya Daffa.
“Tidak....” Jawabnya tegas. “...Yang mewah itu keikhlasan.”
Nadifa tersenyum kecil.
“Berarti silaturahmi bukan soal acara, tapi sikap.”
“Pintar cucu Kakek,” kata Kakek Acit sambil terkekeh-kekeh.
“Silaturahmi itu ibadah sosial. Kalau niatnya rusak, rusak pula pahalanya.”
Daffa teringat cerita tentang reuni yang berujung perselingkuhan. “Kek… apa benar reuni bisa merusak rumah tangga juga?”
Wajah Kakek Acit mengeras sejenak.
“Jika iman dijadikan tamu, dan nafsu dijadikan tuan, apa pun bisa rusak.”
Nadifa menunduk.
“Berarti usia tidak menjamin kedewasaan.”
“Betul,...” sahut Kakek Acit. “...Dewasa itu ketika tahu batas.”
Langit kini berubah ungu kebiruan. Lampu minyak dinyalakan. Cahaya kecilnya menari di dinding.
“Kakek,...” kata Daffa mantap, “...kalau suatu hari aku diundang reuni, aku ingin datang dengan hati, bukan pencitraan.”
Kakek Acit tersenyum lebar. “Itulah silaturahmi yang hidup.”
Nadifa menambahkan, “Dan pulang membawa doa, bukan iri.”
Kakek Acit mengangguk haru. “Kalau begitu, Kakek tenang. Nilai tidak akan putus selama ada yang mau merawat.”
Di luar, azan Magrib berkumandang, mengalun lembut membelah senja.
Kakek Acit berdiri perlahan. “Ayo masuk. Silaturahmi dengan Allah dulu. Karena dari sanalah semua hubungan dimurnikan.”
Daffa dan Nadifa bangkit, mengikuti langkah renta yang penuh wibawa itu. Di beranda yang sederhana, mereka menemukan pelajaran besar:
bahwa silaturahmi bukan tentang siapa yang paling bersinar, tetapi siapa yang paling tulus menjaga cahaya iman.
AmbuEnten, 22 Januari 2026
#CahayaDhuhaAsaKeluarga
#CerpenBuatCucunda
Komentar
Posting Komentar