SORE ITU DI PADANG PASIR PUTIH AMBUNTEN

Cerpen Cahaya Dhuha #17

SORE ITU DI PADANG PASIR PUTIH AMBUNTEN 
@hmad Rasyid 

Sore itu, matahari perlahan menuruni punggung Gunung Pasir Putih Ambunten. Cahaya keemasan membias di atas butiran pasir yang berkilau seperti serbuk mutiara. Angin laut berembus lembut sedangkan suara ombak bagai berkejar-kejaran di kejauhan.

Daffa berjalan agak terengah di belakang Kek Acit dan Nadifa.

“Kek Acit, jalannya naik terus begini… ini gunung apa tangga ke langit?” keluh Daffa sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan peci.

Kek Acit tertawa kecil, jenggot putihnya bergoyang. “Kalau tangga ke langit, kamu jangan banyak mengeluh, Fa. Nanti malah disuruh turun lagi.”

Nadifa yang berjalan paling depan menoleh sambil tersenyum jahil. “Daffa itu bukan capek, Kek. Itu perutnya yang protes, belum makan gorengan.”

“Heh! Jangan fitnah!” Daffa membela diri. “Aku ini atlet… atlet makan, maksudku.”

Kek Acit terkekeh. “Yang penting atlet sabar, Fa.”

Mereka pun berhenti di sebuah bukit kecil. Dari sana, laut terbentang luas, biru, dan tenang. Matahari separuh tenggelam, memantulkan warna jingga dan merah yang membuat hati siapa pun terasa hangat.

“Masya Allah… indah sekali,” gumam Nadifa lirih.

Daffa mengangguk, kali ini tanpa bercanda. “Iya. Rasanya capek langsung lunas.”

Kek Acit duduk di atas batu besar, menepuk-nepuk tempat di sebelahnya. “Sini, kalian duduk. Sore begini enak untuk berbincang.”

Daffa dan Nadifa duduk. Angin menerbangkan sedikit pasir ke udara.

“Kek,” tanya Nadifa pelan, “kenapa Nenek dulu suka sekali mengajak kami main ke sini?”

Kek Acit tersenyum sendu. “Karena tempat seperti ini membuat orang mudah belajar bersyukur dan mudah mengingat bahwa hidup ini bukan soal gaduhnya dunia.”

Daffa menyahut, “Dan bukan soal banyaknya followers juga?”

Kek Acit tertawa kecil. “Nah, itu juga.”

Mereka terdiam sejenak, menikmati angin dan semilir cahaya senja.

Tiba-tiba Daffa memecah keheningan. “Kek, kemarin aku bertengkar dengan teman sekolah.”

“Kenapa bertengkar?” tanya Kek Acit lembut.

“Dia nyuruh aku ikut-ikutan ngerjain anak kelas bawah. Katanya biar terlihat jago. Aku nolak, tapi dia malah bilang aku penakut.”

Nadifa mengerutkan kening. “Terus kamu bagaimana?”

Daffa menunduk. “Aku pulang. Tapi jujur, aku kepikiran. Takut dibilang pengecut seumur hidup.”

Kek Acit menatap Daffa penuh kasih. “Daffa, pernah Kakek bilang, keberanian itu bukan pada menyakiti orang, tapi pada menjaga diri dari perbuatan buruk.”

Daffa mengangguk pelan.

Kek Acit melanjutkan, suaranya tenang namun dalam, “Rasulullah ï·º bersabda, ‘Kualitas agama seseorang tergantung pada sahabat karibnya. Oleh karena itu, ketahuilah dengan siapa dia bergaul dan bersahabat.’ Artinya, teman dekatmu menentukan arah hidupmu.”

Nadifa menyahut, “Berarti kalau berteman dengan orang baik, kita ikut jadi baik?”

“Benar,” jawab Kek Acit. “Dan jika terbiasa dengan orang yang zalim, yang sewenang-wenang, lama-lama hati kita akan merasa itu biasa.”

Daffa menyentuh pasir dengan ujung jarinya. “Berarti… aku tidak salah menjauhi dia, Kek?”

“Justru kamu sedang menjaga dirimu,” jawab Kek Acit mantap. “Ada juga sabda Rasulullah ï·º, ‘Berkumpul dengan orang saleh lebih baik daripada menyendiri, dan menyendiri lebih baik daripada bergaul dengan orang jahat.’ Kadang, sendirian itu jauh lebih terhormat daripada ramai bersama keburukan.”

Nadifa tersenyum kecil. “Wah, berarti Daffa kemarin itu bukan kabur, tapi hijrah kecil-kecilan.”

“Eh, hijrah ke kantin malah,” sahut Daffa cepat.

Mereka bertiga tertawa.

Kek Acit kembali berkata, “Berkumpul dengan orang baik itu seperti berada di kebun bunga. Tanpa sadar, wanginya akan menempel di bajumu. Tapi berkumpul dengan orang jahat seperti duduk di dekat pandai besi. Walau tak membakar, baunya akan mengenai tubuhmu.”

Daffa mengangguk lebih mantap. “Aku baru paham sekarang… kenapa setiap habis main sama si itu, rasanya dadaku berat.”

“Itulah pengaruh pergaulan,” ujar Kek 
Acit. “Baik atau buruk, pasti ada dampaknya. Seperti yang kamu tanam, itulah yang kamu tuai. Di dunia, juga nanti di akhirat.”

Angin sore menguat sebentar. Laut bergemuruh pelan.

Nadifa bertanya, “Kek, kalau kita sudah terlanjur berteman dengan orang yang suka berbuat buruk, harus bagaimana?”

Ke Acit tersenyum bijak. “Doakan dia agar membaik, tapi jangan ikut tenggelam dalam lumpurnya. Ulurkan tangan dari tepi, bukan ikut terperosok bersama.”

Daffa menggaruk kepala. “Berat juga jadi anak saleh, ya, Kek.”

“Berat itu nanti akan jadi ringan,” jawab Kek Acit sambil menyipitkan mata ke arah matahari. “Yang berat sesungguhnya adalah saat seseorang tahu itu salah, tapi tetap mengerjakannya demi diterima teman.”

Nadifa menoleh ke Daffa. “Udah, Dik. Kalau kamu takut kehilangan teman yang ngajak jahat, nanti kamu kehilangan dirimu sendiri.”

Daffa tersenyum kecil. “Bahasanya dalem banget, Nadifa. Tumben.”

“Heh! Aku kan calon dai cilik.”

“Dai cilik yang kemarin nangis karena kehilangan sandal?” Daffa menggoda.

“Itu ujian kesabaran!” Nadifa protes.

Mereka tertawa lagi. Sore kian condong menuju malam.

Ke Acit memandang kedua cucunya dengan mata berbinar. “Ketahuilah, kelak setiap orang akan bersama dengan orang yang ia cintai. Di dunia, dan di akhirat.”

Daffa terdiam sesaat. “Berarti… kalau aku mencintai orang-orang baik, aku juga akan dikumpulkan dengan mereka nanti?”

“Insya Allah,” jawab Kek Acit pelan.

Nadifa menggigit bibirnya, seolah menahan haru. “Aku ingin nanti duduk lagi sama kalian, seperti sore ini, tapi di surga.”

Daffa menoleh cepat. “Asal di surga nanti ada gorengan, aku siap.”

“Ya Allah, niatmu itu, Mas?” Nadifa tertawa geli.

Ke Acit tergelak. “Di surga jauh lebih dari itu, Nak. Bahkan yang tidak pernah kita bayangkan.”

Matahari akhirnya benar-benar tenggelam. Langit berubah ungu keemasan. Lampu-lampu perkampungan nelayan mulai menyala satu per satu di kejauhan seperti taburan bintang di bumi.

“Sepertinya kita harus pulang,” ujar Kek Acit.

Daffa berdiri lebih dulu. “Siap, Kek. Tapi jalannya turun, berarti lebih cepat dong.”

“Tidak selalu,” jawab Kek Acit santai. “Turunan kadang lebih berbahaya daripada tanjakan.”

Nadifa mengangguk setuju. “Kayak pergaulan. Yang kelihatannya seru, belum tentu aman.”

Daffa tersenyum, kali ini tidak bercanda. “Aku janji, Kek. Aku mau pilih teman yang bikin aku dekat sama Allah, bukan yang bikin aku lupa.”

Kek Acit menepuk punggung Daffa dengan lembut. “Itulah janji seorang laki-laki yang sedang belajar menjadi kuat.”

Mereka melangkah pulang menuruni Gunung Pasir Putih. Di belakang mereka, senja menutup hari dengan damai. Dan di dalam hati mereka, tumbuh keyakinan kecil yang hangat: bahwa berteman dengan orang-orang baik bukan sekadar pilihan, melainkan jalan menuju cahaya—di dunia, dan kelak di akhirat.

#CahayaDhuhaAsaKeluarga 
#CerpenBuatCucunda
AmbuEnten, 30 November 2025


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI