SYIFA, OBAT DARI LAYAR KECIL

Anak Inspiratif #01

SYIFA, OBAT DARI LAYAR KECIL 
@hmad Rasyid 


Namaku Matrasit, nama kecil dari seorang plt. kepala sekolah di SDN Padangdangan I, Pasongsongan. Sejak 6 Oktober 2025 lalu, hidupku berjalan lebih pelan. Kakiku belum sekuat dulu karena ujian sakit stroke. 

Aku belajar sabar, belajar tersenyum, dan belajar kuat. O..., di antara hari-hari itu, ada satu nama kecil yang sering muncul di layar gawaiku: Syifa. Ya SYIFA, siswi kelas III.
Pagi hari di sekolah, aku berdiri di dekat gerbang sedang berjalan santai dengan tongkat pramuka usang yang setia menemaniku berkeliling halaman sekolah dan kala aku berjemur ria di bawah terik sang surya. Anak-anak pun berdatangan.

“Assalamu’alaikum, Bapak!” Suara kecil itu selalu lebih dulu terdengar.

“Wa’alaikumussalam, Nak,” jawabku.

Anak itu menatap kakiku.
“Pak, hari ini sudah sembuh belum?”

Aku tersenyum. “Masih proses pemulihan, Nak.”

Anak itu yang ternyata bernama Syifa. Ia mengangguk serius. “Berarti doanya harus ditambah kagak ya?"

Aku tertawa kecil. “Ditambah berapa?”

“Banyak,” jawabnya singkat, lalu berlari ke ruang kelas III.

*****

Siang harinya, gawaiku berdering. Aku membuka WhatsApp.

“Pak matrasit selamat panjang umur dan sehat selalu. 'syifa'an lima fis shudur'” Aku membaca pelan. 

Lalu aku membalasnya,
“Aamiin ya mujibas sailin 🤲”

Tak lama kemudian, masuk pesan lagi. “makasih, pak Matrasit. nama saya Sifaul miladiyah kelas 3.”
Aku tersenyum. Anak kecil memang selalu ingin dikenali. Dan dia beda dengan anak lainnya.

“O ya terima kasih,” balasku.

“sama sama”, jawabnya cepat.

Aku tertawa sendiri. Percakapan sederhana, tapi rasanya hangat sekali dan membuahkan semangat baru untuk percepatan kesembuhanku.

*****

Sore hari, pesan kembali masuk.

“pak matrasit semoga kakinya sembuh. 'syifa'an lima fis shudur', nama saya adalah sifa. aku kasih fotonya biar tahu pak matrasit kalau aku adalah kls 3”

Aku membaca sambil menghela napas pelan. Doa kecil itu seperti menepuk bahuku.

“Aamiin, ya Nak. Terima kasih 👍” tulisku.

Malamnya, ia kembali menyapa.
“pak”
Lalu diam.

Aku balas, “Alhamdulillah, apa Nak?”

Tak lama kemudian, ia menjawab,
“engki pak”

Aku tersenyum. Kadang anak-anak hanya ingin memastikan gurunya ada.

*****

Beberapa hari kemudian, pesan lain masuk.

“pak semoga babak sembuh ya.” Aku membaca kata babak sambil tersenyum. Aku tahu itu kalau maksudnya bapak.

“Belajarlah dengan giat biar tercapai cita-citamu,” balasku.

Tak lama, Syifa menulis lagi, “pak koleh lastareh dungah untuk babak biyar sehat dan selalu. 'syifa'an lima fis shudur'"

Aku membalas, “Alhamdulillah aamiin.”

Lalu pesan lucu datang bertubi-tubi.

“sampiyan lakoh napah pak”

“pak koleh kls 3”

Aku menjawab pelan,
“Dhung-tedhungan re.”

Tak lama,
“pak nama saya siyapa pak”

“babak tawu nama aku”

“bilang kalaw tawu pak”

Aku tertawa kecil dan membalas, “Memang saya simpan di kontak.”

“pak nama aku sifa kls 3”

“Syifa kelas 3,” tulisku.

Jawabannya cepat,
“iya pak benar sekali”

“babak hebat”

“babak kok tawu nama aku”

“Kan kamu yang beri tahu,” balasku.

“o iya”

“aku gak ingat pak”

Aku tertawa cukup lama. Lupa yang lucu, lupa yang jujur.

*****

Suatu sore, Syifa menyapa lagi.

“pak lastareh kih pak koleh mawu belajar ipas pak”

Aku menjawab,
“Ini percakapanmu nggak ada yang dihapus. Ya belajar yang rajin pasti manfaat.”

“iya pak sama-sama pak”

“Sudah ayo belajar dulu katanya mau belajar IPAS,” balasku.

“iya pak”

“Ya istirahat gallu,” tulisku.

“engki pak”

“Udah ya. Assalamualaikum,”

“waalaikum wr. wb”

“By… by….”

*****

Beberapa hari kemudian, Syifa menulis lagi.

“pak tadi ayah dan bunda saya nanya bapak sembuh”

Aku terdiam. Doa itu bukan hanya dari Syifa, tapi dari satu keluarga kecil.

“Aamiin 🤲” balasku.

Tak lama,
“terima kasih pak bapak semoga sembuah kakinya ya pak”

Hatiku terasa penuh. Kakiku memang belum sembuh sempurna, tapi semangatku sudah jauh lebih kuat.

*****

Suatu hari aku berkata padanya,
“Syifa, kamu tahu arti namamu?”

Ia membalas singkat,
“enggak pak”

“Syifa itu artinya obat,” tulisku.

Tak lama, jawabannya datang, “oohh… berarti aku obat babak”

Aku tersenyum lama menatap layar kecil itu.

“Iya, Nak. Kamu obat dari doa,” jawabku.

Sejak itu aku percaya, kesembuhan tak selalu datang dari obat dokter, tapi bisa datang dari pesan sederhana seorang anak kelas III bernama Syifa, obat kecil dari layar WhatsApp, yang menguatkan hati seorang kepala sekolah untuk terus melangkah mengantar kesembuhanku. Aamiin.

AmbuEnten, 6 Pebruari 2026

Komentar

  1. Banyak yang menunggu dan selalu berdoa untuk kesembuhan Bapak. Semoga doa2 ini diijabah Allah SWT amin....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, aamiin. Terima kasih atas doanya semoga kita semua selalu dalam keberkahan sehat walafiat

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI