PAGI LIBURAN DI TERAS RUMAH KAKEK ACIT

Cerpen Cahaya Dhuha #21

PAGI LIBURAN DI TERAS RUMAH KAKEK ACIT 

Pagi itu matahari belum sepenuhnya naik. Embun masih setia menggantung di daun mangga depan rumah. Angin tipis menyelinap lewat teras, membawa aroma tanah basah sisa hujan dini hari. Di kursi rotan tua, Kakek Acit duduk sambil menyeruput kopi pahit hitam kesayangannya.

“Hmm… kopi pagi di hari libur itu rasanya seperti doa yang dikabulkan setengah-setengah,” gumamnya pelan.

“Setengah-setengah kenapa, Kek?” tanya Daffa sambil menguap lebar, masih mengenakan kaus tidur.

“Soalnya kalau dikabulkan sepenuhnya, Kakek masih pengin tidur lagi,” jawab Kakek Acit sambil terkekeh.

Nadifa yang duduk di sebelah Daffa langsung tertawa kecil. “Kakek lucu. Libur kok malah pengin tidur.”

“Eh, jangan salah,” sahut Kakek Acit, mengangkat telunjuknya. “Libur itu bukan soal tidur lama. Libur itu soal memanfaatkan waktu dengan bahagia.”

Daffa mengangguk-angguk sok paham. “Berarti main game seharian juga bahagia dong, Kek?”

Kakek Acit hampir tersedak kopinya. “Astaghfirullah… bahagia versi Daffa itu baterai HP habis sebelum zuhur, ya?”

Nadifa menepuk bahu kakaknya. “Makanya, Kak, dengarkan dulu nasihat Kakek. Jangan potong jalur Wi-Fi hikmah.”

Kakek Acit tertawa lepas. “Nah itu. Pagi hari di liburan semester ini, dua minggu penuh, itu emas, Nak. Kalau emas dipakai buat ganjel pintu, sayang. Kalau dipakai buat investasi, masa depan ikut bersinar.”

“Investasi apa, Kek? Saham?” tanya Daffa polos.

“Bukan cuma saham. Investasi diri,” jawab Kakek Acit tenang. “Bangun pagi, bantu orang tua, baca buku, belajar disiplin.”

Nadifa mengangguk antusias. “Aku mau bantu Ibu nyapu, Kek. Terus baca buku kisah tokoh sukses.”

“Bagus,” kata Kakek Acit. “Tokoh sukses itu bukan cuma yang kaya harta, tapi kaya sikap.”

“Kaya sikap?” Daffa mengerutkan dahi.

“Iya,” lanjut Kakek Acit. “Orang yang bermental kaya. Dia tidak sibuk meminta, tapi gemar memberi. Kalau diberi, dia terima dengan syukur. Kalau punya, dia berbagi tanpa sombong.”

Daffa terdiam. “Berarti mental kaya itu bukan soal dompet tebal?”

“Bukan,” jawab Kakek Acit mantap. “Dompet tebal tapi hati tipis, itu namanya dompet diet iman.”

Nadifa tertawa sampai menutup mulutnya. “Kakek bisa aja!”

“ Main HP boleh nggak, Kek?” Daffa menyela cepat, takut topik melebar terlalu jauh.

“Boleh,” jawab Kakek Acit ringan. “Tapi dibatasi. Gunakan buat hal bermanfaat. Cari ilmu, dengar kajian, baca kisah inspiratif. Jangan HP jadi tuan, kita jadi budak.”

“Kalau main game?” Daffa menawar.

“Boleh juga,...” kata Kakek Acit sambil tersenyum nakal, “...asal gamenya jangan sampai bikin lupa salat, lupa makan, lupa mandi, apalagi lupa sama Kakek.”

“Kalau lupa sama PR?” tanya Nadifa jahil.

“Wah, itu dosa liburan,” jawab Kakek Acit, membuat mereka tertawa lagi.

Angin pagi kembali berembus. Kakek Acit memandang halaman rumah, seolah melihat masa lalu.

“Kakek mau cerita sedikit,” katanya pelan. “Dulu Kakek bukan siapa-siapa. Rezeki datang bukan karena Kakek paling pintar, tapi karena Kakek niatkan hidup untuk bermanfaat.”

“Kayak gimana, Kek?” tanya Nadifa lembut.

“Kakek pernah usaha kecil-kecilan. Untungnya tidak besar, tapi Kakek niatkan untuk sedekah guru ngaji, bantu dakwah, bantu orang yang butuh. Aneh tapi nyata, setiap niat diperbesar, rezeki ikut membesar.”

Daffa menyimak serius. “Berarti kalau jadi pengusaha, niatnya harus gede?”

“Betul,” jawab Kakek Acit. “Jangan niat cuma buat perut sendiri, dapur sendiri. Niatkan buat umat. Buat sedekah, buat mengumrohkan orang tua, buat kurban besar tiap tahun, buat panti asuhan, rumah tahfidz.”

Nadifa menghela napas kagum. “Indah banget, Kek.”

“Itu semua karena Allah,” ujar Kakek Acit. “Kalau niatnya karena Allah, insyaallah jalannya diluaskan.”

Daffa tersenyum kecil. “Aku jadi pengin jadi pengusaha.”

Kakek Acit menoleh cepat. “Nah, itu baru cucu Kakek!”

“Tapi aku bingung mulai dari mana,” lanjut Daffa jujur.

“Mulai dari niat,” jawab Kakek Acit. “Terus belajar. Baca, bertanya, praktek. Jangan takut gagal.”

Nadifa ikut angkat tangan. “Aku juga mau jadi pengusaha, Kek. Tapi yang jujur.”

“Wajib,” sahut Kakek Acit. “Pengusaha muslim itu jujur, amanah, dan peduli.”

Matahari kini naik sempurna. Ibu dari dalam rumah memanggil mereka sarapan.

“Nah,” kata Kakek Acit sambil berdiri. “Liburan itu bukan berhenti bergerak, tapi mengganti arah gerak. Dari sekolah ke kehidupan.”

Daffa mengangguk. “Hari ini aku bantu Ayah mmempersiapkan bekal ayah kerja.”

“Aku bantu Ibu di dapur,” sambung Nadifa.

Kakek Acit tersenyum bangga. “Itulah liburan yang berkah.”

Saat mereka melangkah masuk rumah, Daffa berbisik, “Kek, nanti kalau aku sudah jadi pengusaha, aku mau traktir Kakek kopi tiap pagi.”

Kakek Acit tertawa bahagia. “Asal jangan kopi sachet tiga ribuan terus, ya.”

“Deal!” jawab Daffa cepat.

Pagi itu, liburan baru saja dimulai. Tapi benih mimpi, niat, dan mental kaya sudah ditanam di hati dua cucu—di teras sederhana, bersama Kakek Acit dan secangkir kopi penuh makna.

#CahayaDhuhaAsaKeluarga 
#CerpenBuatCucunda
AmbuEnten, 14 Desember 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI