SEBERKAS CAHAYA DI MUSHALLA AL-HIKMAH
Cerpen Cahaya Dhuha #16
SEBERKAS CAHAYA DI MUSHALLA AL-HIKMAH
@hmad Rasyid
Sore itu, langit menggantungkan sinar keemasan di atas atap Musholla Al-Hikmah. Angin membawa aroma tanah basah setelah gerimis tadi siang, dan dari kejauhan terdengar suara anak-anak mengaji yang bertalu-talu. Di dalam musholla yang sederhana itu, Ustadz Karim duduk bersila di depan rak kitab, ditemani cahaya lampu yang mulai menyala kekuningan.
"Baik, anak-anak," ucapnya lembut sambil menatap keenam santrinya yang duduk berjejer. "Hari ini kita akan membahas satu doa yang sangat indah dan penuh makna: ‘Yaa Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amal yang diterima.’”
Daffa, anak paling tenang di antara mereka, mengulang pelan, “Allahumma inni as’aluka ‘ilman naafi’an, wa rizqan thayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan…”
Suaranya lembut, seolah menenangkan udara sore.
“Masya Allah,” sahut Ustadz Karim tersenyum. “Doa ini, kalau kalian hayati, akan jadi kunci hidup yang berkah. Tapi…” beliau menatap ke arah Riskiyah dan Ahmadi yang tampak menunduk, “...ada syarat agar doa ini sampai dan dikabulkan.”
“Apakah itu, Ustadz?” tanya Bilqis, gadis berkerudung ungu yang dikenal paling rajin mencatat.
Ustadz Karim menarik napas panjang. “Hati yang bersih dari dosa. Sebab, kata Sayyidina Umar bin Khattab ra, ‘Setiap maksiat adalah rantai tak terlihat yang mengikat rezeki dan nikmat.’”
Hening seketika. Suara adzan Maghrib dari kejauhan mulai terdengar samar.
Namun di antara mereka, Nadifa terlihat gelisah. Ia memandangi lantai musholla tanpa suara. Daffa meliriknya, lalu berbisik, “Kenapa, Nadif?”
Nadifa hanya menggeleng pelan. Tapi matanya basah.
Usai shalat Maghrib berjamaah, musholla itu masih hangat oleh dzikir lembut. Satu per satu anak mulai pulang, tapi Nadifa tetap duduk di pojok, memandangi sajadah. Daffa menghampirinya dengan canggung.
“Kau kenapa, Nadif?” tanyanya lembut. “Dari tadi diam saja.”
Nadifa menggigit bibirnya, lalu berkata lirih, “Aku malu, Daf. Aku merasa doaku tidak pernah dikabulkan.”
Daffa menatapnya. “Kenapa begitu?”
“Karena mungkin aku banyak dosa…” air matanya menetes. “Aku sering berbohong pada Ibu. Tentang uang kas sekolah yang kupakai beli jajan. Tentang nilai ujian yang kututupi. Aku berdoa setiap malam, tapi rezeki keluarga kami malah makin sempit. Ayah sering murung karena jualannya sepi…”
Daffa terdiam. Ia menunduk. Dalam hati, ia juga merasa sama. Beberapa minggu ini, ia diam-diam bolos mengaji demi bermain gim di warnet. Mungkin sebab itu, pikirnya, hidupnya terasa berat belakangan.
Di luar, suara sandal beradu terdengar. Ustadz Karim rupanya belum pulang. Beliau melangkah mendekat, lalu duduk di samping mereka.
“Kalian masih di sini?” tanyanya lembut. “Ada yang ingin disampaikan?”
Nadifa spontan menunduk. Tapi Daffa memberanikan diri, “Ustadz, apakah benar... dosa bisa membuat hidup jadi sempit?”
Ustadz Karim tersenyum tipis, menatap mereka dengan mata teduh. “Benar, Daffa. Dosa itu seperti debu yang menutupi cermin hati. Semakin banyak, semakin buram. Dan ketika hati buram, cahaya rahmat sulit masuk.”
Riskiyah yang dari tadi mendengar ikut bersuara, “Tapi Ustadz, kadang kami tidak sadar kalau sedang berdosa. Bagaimana cara mengetahuinya?”
“Ketika hatimu terasa gelisah meski semua tampak baik,” jawab Ustadz Karim pelan, “ketika tidurmu tidak tenang, ketika doa terasa menggantung di langit yang bisu — itu tanda hatimu sedang dipenuhi sesuatu yang belum dibersihkan.”
Mereka semua terdiam. Kata-kata itu menembus hingga dada.
Keesokan sore, Musholla Al-Hikmah kembali riuh oleh suara anak-anak. Tapi hari itu suasananya berbeda. Daffa datang lebih awal, membawa sapu. Nadifa dan Bilqis membantu menyapu halaman, sementara Ahmadi dan Arifin menggulung karpet yang basah karena bocor hujan.
Riskiyah menatap mereka dengan heran. “Tumben rajin semua. Ada apa, nih?”
Daffa tersenyum. “Ustadz bilang, kalau ingin doa dikabulkan, bersihkan dulu yang bisa dibersihkan. Musholla ini rumah Allah, kan?”
Mereka tertawa kecil. Tapi di sela tawa itu, ada kehangatan yang tumbuh—seperti cahaya baru yang menyusup di antara kisi jendela musholla.
Sore itu, setelah semua bersih, Ustadz Karim datang membawa senyum puas. “Masya Allah… beginilah seharusnya hati orang beriman, selalu ingin memperbaiki.”
Ahmadi, yang biasanya pendiam, tiba-tiba angkat tangan. “Ustadz, saya… ingin minta maaf. Kemarin saya menuduh Arifin makan jajan saya. Ternyata saya sendiri yang lupa naruh.”
Arifin tertawa sambil menepuk bahu temannya. “Sudah, tak apa. Aku juga sering lupa naruh sandal.”
Ustadz Karim mengangguk. “Begitu, anak-anak. Tobat itu bukan hanya menyesal di hati, tapi memperbaiki hubungan dengan sesama. Jika hati sudah bersih, maka langit pun terbuka.”
“Seperti padang surga?” tanya Bilqis polos.
“Ya,” jawab Ustadz Karim sambil tersenyum. “Lapang, tenang, dan bercahaya.
Menjelang Maghrib, mereka kembali duduk membentuk lingkaran. Di tengah keheningan, Ustadz Karim mengulang doa sore itu, “Yaa Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amal yang diterima…”
Kali ini mereka semua melafalkannya dengan penuh rasa. Tidak sekadar hafalan, tapi dengan hati yang bergetar.
Nadifa menutup wajahnya. “Ustadz,” suaranya serak, “bolehkah aku bercerita?”
“Tentu, Nak.”
“Aku sering membohongi Ibu, dan aku takut Allah tidak suka padaku…”
Ustadz Karim menatapnya lembut. “Anakku, Allah tidak menolak orang yang mau kembali. Lihatlah, bahkan malam yang paling gelap pun akhirnya berganti fajar. Bertobatlah, maka langit terbuka, dan hatimu akan lapang.”
Nadifa Air matanya jatuh tanpa suara.
Lalu satu per satu, anak-anak lain ikut berbicara. Daffa mengaku pernah lalai mengaji. Riskiyah menyesal suka menunda shalat. Ahmadi mengaku suka mencela teman. Suasana menjadi hening, tapi indah. Seolah dosa mereka terangkat satu demi satu di hadapan Allah yang Maha Pengampun.
Saat adzan berkumandang, mereka berdiri bersama. Di antara saf-saf kecil itu, wajah-wajah mereka tampak bersinar. Setelah shalat, Ustadz Karim berdoa, “Yaa Allah, bersihkan hati anak-anak ini dari debu dosa. Lapangkan dada mereka. Jadikan ilmu mereka bermanfaat, rizki mereka halal, dan amal mereka diterima…”
Semuanya mengaminkan dengan suara bergetar.
Sore menjelma malam. Di luar, bintang mulai muncul satu per satu. Musholla Al-Hikmah berkilau oleh ketenangan yang tak terlihat—ketenangan dari hati-hati yang baru saja dipeluk oleh ampunan.
Nadifa menatap langit, tersenyum pada Daffa. “Rasanya ringan sekali, Daf.”
Daffa mengangguk. “Ya, seperti kata Ustadz, langit sudah terbuka.”
Di serambi musholla, Ustadz Karim menatap mereka dari kejauhan dengan mata berkaca. Ia tahu, malam ini bukan sekadar pertemuan belajar biasa. Tapi perjumpaan hati dengan Tuhannya.
Dan di antara desir angin malam, terdengar lirih bisikan doa mereka yang naik ke langit:
“Yaa Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amal yang diterima…”
Sementara itu, dari hati yang telah bersih, mereka mulai memahami makna sejati dari harapan — bahwa harapan tidak lahir dari dunia yang memberi, tapi dari hati yang kembali.
#CahayaDhuhaAsaKeluarga
#CerpenBuatCucunda
AmbuEnten, 24 November
Komentar
Posting Komentar