IBUKU: DIA BUKAN PENGEMIS, TAPI 'BURU AMAEN

Cerpen Cahaya Dhuha #29

IBUKU: DIA BUKAN PENGEMIS, TAPI 'BURU AMAEN'
@hmad Rasyid 


Sore itu langit Sumenep berwarna tembaga. Matahari turun perlahan di balik pohon lontar, meninggalkan garis jingga yang memantul di sawah basah. Angin asin dari laut jauh berembus pelan, membawa aroma garam dan tanah. Di beranda rumah kayu yang sudah renta, Kakek Acit duduk di kursi rotan kesayangannya.

Di tangannya, secangkir kopi hitam mengepul. Asapnya menari-nari, seolah ikut mendengar cerita yang akan segera keluar dari bibir tua itu.

“Jangan lari-lari terus, Daffa. Nadifa. Duduk sini,” panggil Kakek Acit dengan suara serak tapi hangat.

Daffa yang baru saja mengejar capung berhenti. Nadifa, dengan pita biru di rambutnya, segera duduk bersila di tikar pandan.

“Kek,...” tanya Daffa polos, ...“kenapa orang tadi siang dikasih nasi sama Kakek? Dia kan… pengemis.”

Kakek Acit tersenyum tipis. Keriput di wajahnya bergerak pelan, seperti peta panjang kehidupan.

“Pengemis?...” ulangnya. “...Siapa yang mengajarkan kata itu padamu?”

“Teman-teman di sekolah,...” sahut Nadifa lirih. “...Katanya orang yang minta-minta itu pengemis.”

Kakek Acit menghela napas panjang. Ia menatap langit, lalu menurunkan pandangan pada dua cucu kesayangannya.

“Dengar baik-baik, Nak. Di rumah ini, jangan mudah menyebut seseorang pengemis.”

“Terus apa, Kek?” Daffa mendekat.

“Dia itu orang buru amaen,” kata Kakek Acit mantap.

“Buru… apa?” Nadifa mengernyit.

“Buru amaen. Orang yang sedang berkunjung dan lama tak beranjangsana. Orang yang sedang silaturahmi.”

Daffa tertawa kecil. “Tapi Kek, dia minta beras.”

“Dan kamu minta uang jajan tiap pagi,” balas Kakek Acit ringan.

Daffa terdiam.

Kakek Acit menyesap kopinya. “Dulu, ibuku, buyut kalian, Nye Hj. Sa'tun tidak pernah menyebut mereka pengemis. Katanya, manusia ini semuanya peminta.”

“Semua?” Nadifa membulatkan mata.

“Semua,” jawab Kakek Acit. “Termasuk Kakek. Termasuk kalian.”

Angin berembus lebih kencang. Di kejauhan, suara azan magrib mulai merambat dari surau tua.

"Kita salat dulu ya, lanjutkan nanti setelah salat magrib," ajak Kek Acit. Mereka ambil wudhu dan salat berjemaah.

“Ayo kita lanjutkan ceritanya. Kenapa manusia disebut peminta, Kek?” tanya Daffa.

Kakek Acit meletakkan tasbih kayunya. Suaranya berubah lebih dalam.

“Karena sejak lahir, manusia tidak punya apa-apa. Kita hidup dengan meminta. Bahkan kepada Tuhan, kita diwajibkan untuk meminta.”

Ia melafalkan perlahan, “Iyyāka nasta‘Ä«n.”

“Itu di Al-Fatihah,” sahut Nadifa cepat. “Ustazah pernah bilang.”

Kakek Acit tersenyum bangga. “Nah. Meminta kepada Allah itu ibadah. Tapi manusia sering lupa batas.”

“Batas apa, Kek?” Daffa penasaran.

“Batas antara meminta karena butuh… dan meminta karena ingin memperkaya diri.”

Sunyi sebentar.

“Kek,..." Nadifa ragu, “...kalau orang yang minta-minta untuk hidup, salahkah?”

“Tidak selalu,” jawab Kakek Acit pelan. “Banyak yang terpaksa. Perut lapar tidak bisa menunggu nasihat.”

Ia menoleh ke halaman. “Tapi Rasulullah mengingatkan, menjadikan mengemis sebagai profesi itu bukan jalan yang baik.”

“Kenapa, Kek?”

“Karena di hari perhitungan, orang yang menjadikan meminta-minta sebagai kebanggaan akan datang dengan wajah tanpa daging.”

Nadifa menutup mulutnya. “Seram…”

“Karena itu,...” lanjut Kakek Acit, “...ibuku memilih jalan lain. Ia tidak menghakimi.”

Kakek Acit terdiam sejenak, seolah membuka lemari ingatan.

“Dulu,..." katanya, “...setiap burumaen datang, ibuku menyuruhku menyiapkan kursi.”

“Dikasih kopi?” tanya Daffa.

“Ya. Kopi, nasi, dan ikan asin. Mereka duduk seperti tamu. Bukan orang hina.”

“Padahal mereka minta,” Nadifa bersuara pelan.

“Dan ibuku berkata,” Kakek Acit menirukan suara lembut seorang ibu,
‘Cit, orang yang datang membawa tangan kosong belum tentu membawa hati kosong. Jangan tutup pintu rezeki hanya karena matamu sempit.’

Daffa menunduk.

“Bahkan,...” lanjut Kakek Acit, “...ada yang menginap dua malam. Tidur di langgar.”

“Kenapa Kakek nggak marah?” tanya Daffa.

“Karena marah itu tanda kita merasa lebih tinggi.”

Langit semakin gelap. Lampu minyak dinyalakan. Cahaya kuning lembut menyelimuti beranda.

“Tapi Kek,” Nadifa mengingat sesuatu, “kata Bu Guru, sekarang mengemis bisa dapat banyak uang.”

Kakek Acit tertawa pahit.

“Betul. Ada kampung yang menjadikan itu pekerjaan.”

“Serius, Kek?” Daffa membelalakkan mata.

“Serius. Bahkan, orang luar yang ingin menikah harus siap ikut mengemis.”

“Loh kok begitu?”

“Karena dunia kadang mengajarkan jalan pintas.”

“Terus orang-orang itu nggak mau kerja lain?” Nadifa bertanya.

“Gaji tukang kebun tujuh ratus ribu sebulan,” jawab Kakek Acit. “Mengemis bisa lima juta.”

“Banyak!” seru Daffa.

“Dan di situlah ujian,” Kakek Acit menatap mereka dalam. “Bukan pada jumlah uangnya. Tapi pada harga diri."

Daffa menggaruk kepala. “Jadi, Kek… kita harus gimana kalau ketemu orang minta-minta?”

Kakek Acit tersenyum. “Santun.”

“Kasih uang?”

“Kalau ada, beri. Kalau tidak, beri senyum.”

“Terus?” Nadifa menyela.

“Jangan hina. Jangan bentak. Jangan sebut mereka pengemis.”

“Kenapa penting banget, Kek?” Daffa masih penasaran.

“Karena bisa jadi,” suara Kakek Acit bergetar, “doa mereka lebih cepat sampai ke langit daripada doa kita.”

Nadifa terdiam. Matanya berkaca-kaca.

“Kek,...” katanya pelan, “...kalau suatu hari Nadifa miskin, Kakek masih sayang?”

Kakek Acit bangkit, memeluk Nadifa.

“Kemiskinan tidak pernah mengurangi kasih sayang,” katanya lirih. “Yang mengurangi itu kesombongan.”

Azan isya berkumandang. Daffa berdiri.

“Ayo salat, Kek.”

Kakek Acit mengangguk. “Ayo.”

Saat melangkah ke dalam rumah, Kakek Acit berbisik,
“Ingat, Nak… rezeki bukan soal berapa yang kita kumpulkan, tapi seberapa lapang tangan kita melepas.”

Di luar, angin laut terus berhembus. Dan di jalan kecil desa, seorang buru amaen melangkah perlahan. Ia membawa kantong kosong, tapi mungkin berisi doa yang penuh.


AmbuEnten, 23 Januari 2026
#CahayaDhuhaAsaKeluarga 
#CerpenBuatCucunda

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI