WASIAT KEK ACIT PADA MINGGU PAGI
Cerpen Cahaya Dhuha #15
WASIAT KEK ACIT PADA MINGGU PAGI
@hmad Rasyid
Minggu pagi itu, matahari baru menanjak, menyinari halaman rumah yang dipenuhi embun. Burung-burung gereja ribut seperti sedang rapat besar. Di teras depan, Ke Acit duduk di kursi rotan kesayangannya sambil memegang cangkir kopi pahit panas yang uapnya menari-nari pelan.
Daffa dan adiknya, Nadifa, keluar dengan langkah malas karena baru bangun tidur. Rambut Nadifa masih seperti sarang burung, sedangkan Daffa berjalan sambil menguap panjang.
“Assalamu’alaikum, Kek…” ucap Daffa setengah sadar.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Ke Acit sambil tersenyum. “Lho, ini rambutmu kenapa, Difa? Berantakan kayak ayam kalah debat.”
Nadifa memonyongkan mulut. “Heh, aku abis tidur, bukan abis konferensi pers!”
Daffa tertawa keras. “Kayak habis dimakan kipas angin!”
“DAFFA!” Nadifa mengejar, tapi Ke Acit mengetuk meja.
“Sudah, sudah. Minggu pagi ini bukan buat tinju bebas. Duduk. Kakek mau ngomong sesuatu.” Suaranya lembut tapi tegas.
Keduanya langsung duduk.
Ke Acit menarik napas panjang, wajahnya berubah serius.
“Ini tentang kalian.”
Daffa dan Nadifa saling menatap, tiba-tiba tegang.
“Kakek mau bagi warisan ya?” bisik Daffa.
“Bukan.” Ke Acit memiringkan mata. “Kalian sudah siap miskin tapi sok berharap kaya, rupanya.”
Mereka terkekeh, suasana mencair.
“Yang Kakek maksud bukan wasiat tentang harta… tapi wasiat hidup.”
“Dengar ya,” ujar Kek Acit. “Manusia itu makhluk sosial. Kita hidup di tengah orang lain, apalagi keluarga. Kalau hubungan keluarga rusak, hidup jadi kehilangan berkah.”
Nadifa mengangguk pelan.
“Kadang memang susah, Kek… kadang orang itu bikin kesel.”
“Betul,” jawab Ke Acit. “Tapi justru di situ ladang sabar. Orang baik itu bukan yang hidup sendirian di gunung terus ngaku suci, tapi yang hidup di tengah orang, tetap menjaga hati.”
Daffa bertanya, “Maksudnya menjaga hati itu gimana, Kek?”
Kek Acit mengangkat jari.
“Menjaga hati dari sombong, iri, dengki, ujub, ria, sum’ah… penyakit hati itu seperti api kecil, kalau dibiarkan bisa membakar hubungan keluarga.”
Nadifa menimpali, “Berarti kalau misal sepupu pamer prestasi, kita jangan iri ya?”
“Betul,” jawab Kek Acit. “Kalau dia dapat kebaikan, ikut senang. Kalau kita dapat kebaikan, jangan sombong. Hidup ini bukan lomba siapa paling hebat, tapi siapa paling bermanfaat."
Kek Acit menghela napas panjang, sorot matanya menerawang jauh.
“Kalian tahu, dulu keluarga besar kita sempat renggang.”
Daffa menelengkan kepala, “Kenapa, Kek?”
“Warisan.” Suaranya menjadi berat. “Ada yang merasa berhak lebih banyak, ada yang saling curiga, ada yang merasa lebih berjasa. Padahal sebagian harta itu sudah dihibahkan orang tua sebelum wafat… tapi karena hati tak terjaga, saudara bisa berubah jadi musuh.”
Nadifa menunduk.
“Serius - sampai putus hubungan?”
“Beberapa tahun tidak saling sapa,” jawab Kek Acit lirih. “Dan yang paling sedih… nama orang tua jadi tercemar karena anak-anaknya ribut.”
Daffa terperangah. “Padahal orang tua sudah meninggal…”
“Justru itu.” Kek Acit mengetuk dadanya.
Kek Acit menatap Daffa
“Kakek melihat kamu sempat ngambek sama sepupumu, gak mau saling sapa, kenapa?”
Daffa tersentak. “Itu… dia nyebelin. Ngajak teman lain, aku ditinggalin.”
“Lha kamu ngajak dia belajar waktu kamu dapat nilai bagus juga tidak, kan?” sergah Nadifa.
“Eh kok kamu tau? Kamu mata-mata ya?”
Ke Acit menahan tawa. “Coba pikir. Kamu marah karena merasa tidak dianggap. Itu awal dari penyakit hati. Kecil, tapi bisa jadi besar.”
Daffa akhirnya diam, wajahnya meredup.
“Apa kamu mau persaudaraan rusak hanya karena itu?”
Daffa menggeleng pelan. “Enggak, Ke…”
Ke Acit tersenyum hangat. “Pergilah minta maaf. Silaturahmi itu seperti jembatan. Kadang bolong, tapi kita harus memperbaiki, jangan dibakar.”
Angin pagi berhembus lembut. Suasana jadi hangat dan damai.
Nadifa duduk lebih dekat. “Kek, kalau nanti kami besar dan punya masalah sama keluarga, apa yang harus diingat dulu?”
Ke Acit menatap keduanya bergantian.
“Ingat tiga hal:
Pertama, Jaga nama baik keluarga. Jangan bikin malu, baik di dunia maupun akhirat.
Kedua, Jangan rebutan harta. Harta itu cuma titipan. Yang dibawa hanya amal.
Ketiga, Berlombalah dalam kebaikan, bukan kebanggaan. Kalau ingin dihormati, mulailah menghormati orang lain. ”
Daffa mengangguk mantap.
“Mulai hari ini, aku nggak mau ngambek sama sepupuku. Aku chat nanti siang.”
“Bagus.” Kek Acit tersenyum bangga.
Nadifa menatap Kek Acit dengan mata berbinar. “Kek, kalau aku besar, aku mau bikin perkumpulan keluarga tiap tiga bulan. Biar tetep akrab!”
Kek Acit tertawa haru. “Nah itu baru cucu Kakek! Jangan lupa undang kakek, ya?”
“Ya iyalah, masa undang tetangganya doang.”
Daffa menimpali, “Iya Kek, nanti dapur Kakek jadi tempat produksi rendang massal.”
“Halah, kamu kira kakek ini pabrik daging?” Semua tertawa.
Suasana terasa hangat seperti matahari yang semakin meninggi.
Kek Acit mengakhiri dengan suara lembut namun menggetarkan.
“Anak-anak… hidup ini perjalanan pulang. Persaudaraan itu bekal. Jangan sampai di dunia kalian jauh, lalu di akhirat kalian terpisah lebih jauh lagi.”
Daffa dan Nadifa mengangguk bersamaan.
“InsyaAllah, Kek … Kami jaga keluarga.”
Kek Acit tersenyum, menatap langit biru cerah.
“Mudah-mudahan kita pulang bersama, dalam keadaan saling memaafkan.”
Angin Minggu pagi kembali berhembus, membawa kehangatan yang tak sekadar singgah, tapi tinggal di hati.
#CahayaDhuhaAsaKeluarga
#CerpenBuatCucunda
AmbuEnten, 23 November 2025
Komentar
Posting Komentar