HILANGKAN SAMPAH TINGGALLAH SABAR
Cerpen Cahaya Dhuha #24
HILANGKAN SAMPAH TINGGALLAH SABAR
@hmad Rasyid
Senja baru saja turun di halaman rumah kayu tua itu. Angin desa di bulan Desember berhembus pelan, membawa aroma tanah basah sisa hujan sore. Kakek Acit duduk di kursi rotan panjang, bersarung cokelat lusuh dan peci hitam yang sudah setia menemaninya puluhan tahun. Di kanan kirinya, dua cucu kesayangannya sudah siap dengan posisi paling nyaman: Daffa selonjoran sambil menggenggam kerupuk, sedangkan Nadifa bersandar manja di lengan kakeknya.
“Kek,” kata Daffa sambil mengunyah, “cerita dongeng lagi, yuk. Tapi jangan yang sedih. Yang lucu tapi bikin mikir gitu.”
Kakek Acit tersenyum, matanya menyipit penuh kasih. “Lho, kamu itu ya. Mintanya banyak. Seperti warung Madura: lengkap.”
Nadifa tertawa kecil.
“Yang penting ada ketawanya, Kek. Soalnya Mas Daffa kalau nggak ketawa, nanti malah nangis.”
“Heh!” Daffa protes. “Aku nangis itu karena peka, bukan cengeng.”
Kakek Acit terkekeh.
“Dua-duanya betul. Nah, dengarkan baik-baik. Kakek mau cerita tentang sabar. Tapi sabar yang tidak bikin dahi berkerut.”
Daffa dan Nadifa langsung duduk lebih tegak.
“Pada suatu hari,...” mulai Kakek Acit, “...hiduplah seorang Guru Sufi yang terkenal sangat lembut hatinya. Suatu ketika, datanglah seorang lelaki dengan wajah memerah, urat lehernya menegang, mulutnya seperti klakson konslet — bunyi terus.”
“Kayak ayam habis kalah berantem?” sela Daffa.
“Mirip,...” jawab Kakek Acit sambil tersenyum. “...Lelaki itu memaki, mencela, bahkan mengeluarkan kata-kata kasar. Pokoknya, kalau kata-kata itu bisa jadi batu, sang guru sudah jadi candi.”
Nadifa membuka mata lebar-lebar. “Terus, Sang Guru marah, Kek?”
“Tidak,...” jawab Kakek Acit pelan. “...Ia hanya diam. Mendengar. Tidak membalas sepatah kata pun.”
“Lho, kok gitu?” Daffa heran. “Kalau aku, sudah kubalas pakai toa masjid.”
Kakek Acit tertawa kecil.
“Itulah bedanya orang bijak dengan orang yang masih nyimpen… sampah.”
“Sampah?” Nadifa mengernyit. “Di hati?”
“Nah, itu,...” Kakek Acit mengangguk. “...Setelah lelaki itu pergi, seorang murid bertanya kepada Sang Guru:
‘Guru, mengapa engkau diam saja? Mengapa tidak membalasnya?’”
Kakek Acit berhenti sejenak, memastikan kedua cucunya menyimak.
“Lalu Sang Guru bertanya balik: ‘Jika seseorang memberimu sesuatu, tapi kamu tidak mau menerimanya, menjadi milik siapa pemberian itu?’”
Daffa langsung menjawab, “Ya milik yang ngasih dong.”
“Pintar,” kata Kakek Acit. “Begitu pula dengan kata-kata kasar. Kalau tidak kita terima, ia akan kembali kepada pemiliknya.”
Nadifa terdiam, lalu berkata pelan,
“Berarti… kalau ada orang marah-marah ke kita, sebenarnya dia lagi buang sampah di hati?”
“Persis,...” jawab Kakek Acit. “...Sang Guru berkata: ‘Orang itu harus menyimpan sendiri kata-kata kasarnya. Ia tak sadar, suatu hari ia akan menanggung akibatnya. Energi buruk dari pikiran, perasaan, dan ucapan hanya melahirkan penderitaan.’”
Daffa mengangguk-angguk, lalu nyeletuk, “Berarti orang yang marah itu kayak orang meludah ke langit ya, Kek?”
Kakek Acit tersenyum lebar. “Wah, kamu ini cocok jadi murid Sufi. Betul. Ludah itu akan jatuh ke wajahnya sendiri.”
Nadifa tertawa kecil.
“Jadi kalau ada orang marah, kita jangan ikut meludah?”
“Betul,...” jawab Kakek Acit. “...Karena di luar sana, banyak orang berjalan sambil membawa sampah hati: sampah amarah, sampah kebencian, dan sampah iri.”
Daffa tiba-tiba cemberut.
“Kayak si Ujang kemarin, Kek. Gara-gara kalah main bola, dia marah-marah, bilang aku curang.”
“Terus kamu gimana?” tanya Kakek Acit.
“Aku mau marah balik, tapi inget kata Kakek: ‘Jangan buru-buru buka mulut kalau hati lagi panas.’ Jadi aku diam.”
Kakek Acit menepuk bahu Daffa. “Itu namanya sabar. Sabar bukan berarti kalah, tapi memilih tidak membawa sampah orang lain ke dalam hatimu.”
Nadifa tersenyum lembut.
“Berarti sabar itu kayak pintu, ya Kek. Kita bisa milih mau dibuka atau ditutup.”
“MasyaAllah,” kata Kakek Acit haru. “Pintar cucu Kakek.”
Kakek Acit lalu melanjutkan dengan suara lebih dalam, seolah membaca wasiat hidup:
“Dengarkan baik-baik nasihat Sang Guru Sufi itu:
♡ Jika engkau tak mungkin memberi, janganlah mengambil.
♡ Jika engkau sulit mengasihi, janganlah membenci.
♡ Jika engkau tak dapat menghibur, janganlah membuat sedih.
♡ Jika engkau tak bisa memuji, janganlah menghujat.
♡ Jika engkau tak dapat menghargai, janganlah menghina.”
Suasana hening sejenak. Angin berdesir lembut. Daffa mematahkan keheningan dengan suara polos, “Kek… kalau aku lagi kesel banget, tapi pengin marah, gimana?”
Kakek Acit tersenyum bijak. “Tarik napas. Tanya ke hati: Ini mau kubuang atau mau kusimpan? Kalau itu sampah, buang. Jangan dipeluk.”
Nadifa terkekeh.
“Berarti hati itu bukan tempat sampah, ya Kek?”
“Betul,..." jawab Kakek Acit. “...Hati itu tempat cahaya.”
Daffa berdiri, meregangkan badan. “Mulai besok, aku nggak mau jadi pemulung sampah hati orang lain.”
Kakek Acit tertawa terbahak. “Itu cucu Kakek!”
Senja benar-benar turun. Lampu rumah menyala temaram. Di antara tawa kecil dan keheningan yang damai, dua cucu itu belajar satu hal penting:
Sabar bukan sekadar menahan amarah, tapi keberanian untuk menjaga hati tetap bersih.
AmbuEnten, 30 Desember 2025
#CahayaDhuhaAsaKeluarga
#CerpenBuatCucunda
Komentar
Posting Komentar