NASEHAT KAKEK ACIT DI BAWAH POHON MANGGA
Cerpen Cahaya Dhuha #11
NASEHAT KAKEK ACIT DI BAWAH POHON MANGGA
@hmad Rasyid
Sore itu, langit tampak lembut berwarna jingga keemasan. Di halaman rumah sederhana Kakek Acit, dua cucu kesayangannya, Daffa dan Nadifa tengah bermain bola kecil dari kain yang sudah lusuh. Tawa mereka memecah kesunyian kampung, hingga bola itu melesat ke arah kursi bambu tempat Kakek Acit duduk sambil membaca kitab tipis berwarna kuning gading.
“Eits! Bola siapa ini?” seru Kakek sambil tersenyum, memungut bola itu dengan tangannya yang sudah mulai berkeriput.
“Itu bola Daffa, Kek!” jawab Daffa tergopoh-gopoh, sementara Nadifa menyusul sambil menahan tawa.
Kakek Acit mengangguk pelan, menepuk bangku di sebelahnya. “Sini, duduk berdua dulu. Kakek mau cerita sedikit tentang sesuatu yang lebih berharga dari permainan.”
Dua bocah itu segera duduk. Nafas mereka masih tersengal karena berlari. “Tentang apa, Kek?” tanya Nadifa, matanya berbinar penasaran.
Kakek Acit menatap jauh ke arah pohon mangga di ujung halaman. “Tentang nasihat dari salah seorang sahabat nabi yaitu Sayyidina Ali bin Abi Thalib, sepupu Rasulullah, yang begitu dalam maknanya. Kakek ingin kalian berdua mendengarnya baik-baik, karena hidup tidak cukup hanya dengan ilmu di kepala, tapi juga dengan kebijaksanaan di hati.”
Daffa mengangguk mantap. “Kami siap mendengar, Kek.”
“Baiklah,...” ujar Kakek sambil menegakkan duduknya. “...Ali bin Abi Thalib berkata, ‘Jauhilah tujuh perkara, maka tubuhmu akan terasa nyaman, hatimu akan terasa tenang.’”
Nadifa mengangkat jari telunjuk kecilnya. “Tujuh? Banyak sekali ya, Kek.”
Kakek tersenyum. “Banyak kalau hanya dihafal, tapi ringan kalau diamalkan. Mari kita mulai satu per satu.”
“Pertama,” kata Kakek Acit dengan nada lembut, “jangan meratapi masa lalu.”
Ia menatap Daffa. “Pernah nggak kamu sedih karena kalah main bola?”
Daffa mengangguk kecil. “Pernah, Kek. Waktu lomba antar siswa di sekolah, Class meeting. Daffa jadi penjaga gawang, tapi kebobolan tiga kali. Daffa sedih banget.”
“Nah,...” kata Kakek sambil menepuk pundaknya, “...itu yang disebut meratapi masa lalu. Kalau kamu terus ingat kesalahan atau kegagalan, kamu tidak akan punya tenaga untuk memperbaiki hari ini. Masa lalu itu guru, bukan tempat tinggal.”
Nadifa berpikir sejenak. “Berarti kalau aku sedih karena nilai ulangan jelek, itu juga termasuk ya, Kek?”
“Betul,...” jawab Kakek lembut. “...Jadikan pelajaran, bukan penyesalan.”
“Kedua,...” lanjut Kakek, “...jangan memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi.”
Ia menghela napas perlahan. “Banyak orang hidup dalam kekhawatiran. Takut miskin padahal rezeki yang kita dapat, itu sudah Allah yang mengatur. Takut gagal padahal belum mencoba. Itu sama saja seperti menanggung beban yang belum datang.”
Daffa menatap tanah. “Kadang Daffa suka takut kalau besar nanti nggak bisa bahagiain Bunda dan Ayah.”
Kakek tersenyum penuh kasih. “Itu niat yang mulia, Nak. Tapi jangan biarkan ketakutan membuatmu lupa berusaha. Fokuslah pada apa yang bisa kamu lakukan sekarang: belajar, berbuat baik, dan berdoa. Masa depan akan mengikuti.”
“Ketiga,...” ujar Kakek, kini suaranya sedikit tegas, “...jangan menghina orang lain.”
Nadifa spontan menunduk. “Kemarin aku sempat ejek temanku karena bajunya sobek, Kek… tapi aku sudah minta maaf.”
Kakek mengangguk pelan. “Itu bagus, Nak. Ingat, setiap orang punya kekurangan. Kalau kita menghina orang, berarti kita sedang buta terhadap kekurangan diri sendiri. Kata Ali bin Abi Thalib, sebelum menunjuk orang lain, lihat dulu tiga jari yang menunjuk ke arah kita.”
Daffa terkekeh kecil. “Oh iya, benar juga, Kek!”
Kakek ikut tertawa. “Nah, itu sebabnya, orang yang rendah hati akan sibuk memperbaiki diri, bukan mempermalukan orang lain.”
“Keempat,...” sambungnya, “...jangan meminta balasan atas kebaikanmu.”
Ia menatap ke langit senja yang mulai berwarna lembayung. “Sekecil apa pun kebaikan, lakukan karena Allah, bukan karena ingin dipuji. Kalau kamu memberi sesuatu lalu berharap ucapan terima kasih, kamu akan kecewa. Tapi kalau kamu memberi karena cinta kepada Allah, hatimu akan tenang walau tak ada yang tahu.”
Daffa mengerutkan dahi. “Jadi kalau aku bantu teman tanpa disuruh, tapi dia nggak bilang terima kasih, aku harus diam aja, Kek?”
“Ya,” jawab Kakek lembut. “Diam, tapi bersyukur. Karena Allah yang mencatatnya, bukan manusia.”
“Kelima,...” katanya sambil menepuk lututnya, “...jangan tamak.”
Nadifa mengernyit. “Tamak itu apa, Kek?”
“Tamak itu rakus, Nak. Selalu merasa kurang walau sudah cukup. Orang tamak itu seperti minum air laut—semakin banyak diminum, semakin haus.”
Daffa mengingat sesuatu. “Kayak teman Daffa, Kek. Dia pengin semua mainan punya dia sendiri, nggak mau bagi.”
Kakek tersenyum. “Nah, itu contoh kecilnya. Ingatlah, yang banyak bukan selalu bahagia. Tapi yang bersyukur, dialah yang tenang.”
“Keenam,...” lanjut Kakek dengan nada bijak, “...jangan marah pada orang yang terlihat tenang.”
Dua cucunya tampak bingung. “Maksudnya gimana, Kek?” tanya Nadifa.
“Kadang kita kesal pada orang yang diam, yang tidak melawan, padahal dia mungkin sedang menahan amarahnya demi kebaikan. Orang tenang bukan berarti lemah, justru dia kuat karena mampu mengendalikan diri. Jangan ganggu orang seperti itu, karena kalau dia marah, akibatnya bisa besar—seperti singa yang dibangunkan dari tidurnya.”
Daffa tertawa. “Berarti jangan ganggu Bunda pas Bunda lagi diem, ya, Kek?”
Kakek ikut tertawa. “Iya, benar juga itu. Diamnya seorang ibu kadang tanda sabar, bukan tanda lemah.”
“Ketujuh,...” ucap Kakek dengan nada perlahan, “...jangan memuji orang yang tidak tahu diri.”
Ia menatap mereka dalam-dalam. “Ada orang yang kalau dipuji malah lupa daratan. Semakin dipuji, semakin sombong. Maka, pujilah hanya orang yang memang pantas, yang rendah hati dan tidak menjadikan pujian sebagai sayap kesombongan.”
Nadifa tampak berpikir lama. “Berarti kalau ada teman yang suka pamer, aku nggak usah muji, ya, Kek?”
“Betul. Cukup diam dan doakan agar ia diberi kesadaran. Jangan menambah kesombongan orang lain dengan pujian palsu.”
Sore semakin gelap. Burung-burung mulai kembali ke sarangnya, dan suara adzan Maghrib terdengar dari surau kecil di ujung jalan.
Kakek Acit menutup kitabnya, lalu berkata lirih, “Itulah tujuh nasihat Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Jika kalian bisa menjaga tujuh hal itu, insya Allah hati kalian akan tenang, tubuh kalian akan nyaman, dan hidup kalian akan penuh keberkahan.”
Daffa menggenggam tangan Kakeknya. “Kek, boleh Daffa tulis tujuh nasihat itu di buku harian?”
“Tentu boleh. Tapi lebih baik lagi kalau kamu tulis di hati,” jawab Kakek sambil tersenyum.
Nadifa bersandar di bahu Kakek. “Kek, nanti kalau aku besar, aku mau juga kasih nasihat ke anak-anak kecil, kayak Kakek.”
Kakek Acit mengelus kepala cucunya dengan lembut. “Itulah harapan Kakek, Nak. Kebaikan itu akan hidup kalau diteruskan, bukan hanya diucapkan.”
Angin senja berhembus pelan membawa aroma tanah dan doa. Di bawah pohon mangga yang mulai merunduk karena usia, tiga jiwa itu terdiam dalam keheningan yang hangat—menyimpan tujuh mutiara nasihat yang akan tumbuh bersama waktu.
Dan di langit yang memerah, seolah terdengar gema lembut
suara Sayyidina Ali bin Abi Thalib:
“Jauhilah tujuh perkara, maka tubuhmu akan terasa nyaman, hatimu akan terasa tenang.”
AmbuEnten, 30 Oktober 2025
#CahayaDhuhaAsaKeluarga
#CerpenBuatCucunda
Komentar
Posting Komentar