Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerpen

WASIAT SYAIKHONA SYUHAIL IMAM DALAM MIMPIKU

Gambar
WASIAT SYAIKHONA SYUHAIL IMAM DALAM MIMPIKU @hmad Rasyid  Malam itu terasa panjang, seolah waktu berjalan lebih lambat dari biasanya. Tubuhku terbaring lemah, diselimuti rasa gamang dan ketakutan akan keadaanku yang saat itu mendapati ujian nikmat sakit stroke.  Setiap helaan napas seperti membawa beban, dan setiap gerak kecil terasa menguras tenaga. Dalam sunyi itu, aku mulai memahami bahwa sakit bukan sekadar penderitaan - ia adalah panggilan halus dari Allah agar hamba-Nya kembali menunduk. “Ya Allah…,” bisikku lirih, “jika ini nikmat yang tersembunyi, ajarkan aku cara mensyukurinya.” Di luar, angin malam berbisik pelan. Langit tampak redup, seakan turut merasakan rapuhnya tubuh ini. Aku memejamkan mata, membiarkan diri tenggelam dalam keheningan. Entah kapan tepatnya, antara sadar dan tidak, aku pun memasuki sebuah mimpi yang begitu nyata. Aku sedang duduk-duduk di sebuah tempat yang terang namun menenangkan. Tidak ada rasa sakit, tidak ada kegelisahan. Hanya ketenteraman ...

LISAN JENDELA KEPRIBADIAN

Gambar
Cerpen Cahaya Dhuha #34 LISAN JENDELA KEPRIBADIAN  @hmad Rasyid  Senja merayap perlahan di ufuk barat. Langit memerah lembut, seolah menyapa bumi dengan hangatnya akhir Ramadan. Di teras rumah sederhana itu, Kakek Acit duduk bersila sambil mengipasi dirinya dengan kipas bambu. Di sampingnya, dua cucu kesayangannya, Daffa dan Nadifa, tampak sibuk dengan dunia kecil mereka - satu menggambar, satu lagi mengganggu kakaknya. “Aduh, Nadifa! Jangan diwarnain kumisnya jadi ungu dah!” protes Daffa sambil menutup gambarnya. Nadifa terkekeh. “Biar lucu, Kak. Masa kakek-kakek kumisnya hitam terus. Sekali-sekali ungu biar kayak artis.” Kakek Acit tertawa kecil. “Lho, kalau kumis Kakek diwarnai ungu, nanti orang kampung bilang Kakek ikut lomba badut lebaran.” “Wah, Kakek menang pasti!” seru Nadifa. “Menang jadi apa? Badut teraneh?” sahut Daffa cepat. Mereka bertiga tertawa. Dari dapur, aroma kolak pisang dan gorengan mulai menyusup, mengundang perut yang sejak siang menahan lapa...

BISMILLAH, FIKRI, DAN TARI TOPENG YANG MEMBANGGAKAN

Gambar
Anak Inspiratif #3 BISMILLAH, FIKRI, DAN TARI TOPENG YANG MEMBANGGAKAN  @hmad Rasyid  Namaku Matrasit, kepala SDN Padangdangan I. Pagi itu aku duduk-duduk santai di bawah pohon Ketapang yang rindang di samping kanan kiri halaman sekolah sambil memegang cangkir kopi. “Pak, kopinya keburu dingin,” sapa Bu Nur, guru kelas IV, sambil tersenyum seraya melintas, namun berhenti sejenak. Aku tertawa kecil. “Tenang Bu Nur, kopi dingin masih bisa diminum. Yang penting niatnya tetap hangat,” jawabku bercanda. Bel belum berbunyi, tapi halaman sekolah sudah ramai. Anak-anak berlarian, ada yang bermain sepak bola, ada juga yang berlatih membaca di bawah pohon ketapang sebelah. Tiba-tiba terdengar suara kecil namun lantang, “Bismillahirrahmanirrahim…” Aku menoleh. Itu suara Fikri, murid kelas III yang selalu membuatku kagum sejak ia menduduki bangku kelas I. Ia duduk rapi di bangku taman sambil membuka buku. Sebelum membaca, ia menunduk sebentar, lalu tersenyum. Bu Nu...

TAKWIL MIMPI DI SUBUH RAMADAN 1447 H

Gambar
TAKWIL MIMPI DI SUBUH RAMADAN 1447 H @hmad Rasyid  Malam itu adalah malam Senin, 26 Ramadan 1447 Hijriyah—bertepatan dengan 16 Maret 2026. Udara dini hari masih terasa sejuk ketika waktu sahur telah berlalu dan rumah kembali hening. Tidak ada yang menyangka bahwa pada malam yang tampak biasa itu, sebuah mimpi akan menjadi percakapan batin bagi keluarga kami. Pagi harinya, sekitar pukul tujuh ketika matahari mulai meninggi menuju waktu Dhuha, istriku, Zulfa, menghampiriku dengan wajah yang masih menyimpan tanda tanya. Kami duduk di ruang tamu, sementara anakku, Anis, dan kedua anaknya sudah berada bersama kami. “Mas,...” katanya pelan, “...tadi malam aku bermimpi bertemu Ibu.” Aku menatapnya sejenak. “Ibu siapa?” “Ibumu… almarhumah Hajjah Saatun.” Aku terdiam. Zulfa kemudian menceritakan mimpinya. Dalam tidurnya ia melihat ibuku seolah sedang berada di sebuah tempat dan melihat ibu hendak menyeberang. Namun ibuku tidak jadi menyeberang. Ia seperti ragu, lalu berkata dala...

ILHAM, ANAK YANG MENGUATKAN

Gambar
Anak Inspiratif #02 ILHAM, ANAK YANG MENGUATKAN  @hmad Rasyid  Namaku Matrasit, kepala SDN Padangdangan I. Sejak Oktober lalu, kakiku belum bisa memakai sepatu. Aku hanya bisa memakai sandal gunung, sandal yang mengikat erat kedua kakiku ketika aku kemana-mana, termasuk ketika ke sekolah.  Aku masih menjalani ujian sakit. Setiap hari aku diantar sepeda oleh Pak Risqon, guru olahraga kami yang tinggal sedesa denganku. Beliau guru olahraga, ia yang sering mengingatkanku untuk banyak istirahat. Pagi itu, seperti biasa, sepeda berhenti di depan gerbang sekolah. Aku turun perlahan. Belum sempat aku berdiri tegak, sebuah suara kecil menyapaku. “Assalamu’alaikum, Pak…” Aku menoleh. Ilham, siswa kelas IV, sudah berdiri rapi di depanku. Tangannya terulur, matanya bening, senyumnya tipis tapi hangat. “Wa’alaikumussalam,” jawabku sambil menjabat tangannya. Ilham menundukkan kepala. Aku pun refleks mencium keningnya. Kadang kening, kadang ubun-ubunnya. Ilham t...

SYIFA, OBAT DARI LAYAR KECIL

Gambar
Anak Inspiratif #01 SYIFA, OBAT DARI LAYAR KECIL  @hmad Rasyid  Namaku Matrasit, nama kecil dari seorang plt. kepala sekolah di SDN Padangdangan I, Pasongsongan. Sejak 6 Oktober 2025 lalu, hidupku berjalan lebih pelan. Kakiku belum sekuat dulu karena ujian sakit stroke.  Aku belajar sabar, belajar tersenyum, dan belajar kuat. O..., di antara hari-hari itu, ada satu nama kecil yang sering muncul di layar gawaiku: Syifa. Ya SYIFA, siswi kelas III. Pagi hari di sekolah, aku berdiri di dekat gerbang sedang berjalan santai dengan tongkat pramuka usang yang setia menemaniku berkeliling halaman sekolah dan kala aku berjemur ria di bawah terik sang surya. Anak-anak pun berdatangan. “Assalamu’alaikum, Bapak!” Suara kecil itu selalu lebih dulu terdengar. “Wa’alaikumussalam, Nak,” jawabku. Anak itu menatap kakiku. “Pak, hari ini sudah sembuh belum?” Aku tersenyum. “Masih proses pemulihan, Nak.” Anak itu yang ternyata bernama Syifa. Ia mengangguk serius. “Berarti doanya h...

KALA HATI BELAJAR BERSERAH

Gambar
Cerpen Cahaya Dhuha #33 KALA HATI BELAJAR BERSERAH  @hmad Rasyid  Langit malam baru saja menelan sisa jingga Maghrib. Lampu-lampu rumah mulai menyala, dan aroma teh hangat menyeruak dari dapur. Di ruang tengah yang sederhana, Kakek Acit duduk bersila di atas karpet hijau, mushaf Al-Qur’an masih terbuka di pangkuannya. Daffa menutup buku Iqra'nya dengan napas panjang. “Huuu… akhirnya selesai juga,...” katanya sambil meregangkan tangan. “...Huruf ‘ain ini susah banget, Kek. Lidahku kayak keseleo.” Nadifa menoleh cepat. “Salah sendiri, bacanya sambil mikir camilan.” “Heh! Aku serius belajar, tahu,” bantah Daffa. Kakek Acit tertawa kecil. “Belajar Al-Qur’an itu memang butuh sabar. Lidah boleh capek, tapi hati jangan, Nak” Nadifa mengangguk sambil merapikan jilbabnya. “Kek, kok habis Maghrib rasanya adem ya?” “Itu bonus,” jawab Kakek Acit. “Bonus dari salat tepat waktu dan membaca firman Allah, Al-Qur'an.” Daffa mendengus manja. “Kalau gitu, kenapa hidup kad...

PESAN MBAH BUYUT: MENANAM UNTUK MASA DEPAN

Cerpen Cahaya Dhuha #18 PESAN MBAH BUYUT: MENANAM UNTUK MASA DEPAN  @hmad Rasyid  Pagi baru saja membuka tirainya. Embun masih menggantung di ujung daun, memantulkan cahaya matahari yang malu-malu mengintip dari balik genting rumah.  Di belakang rumah sederhana itu, Kakek Acit sudah berdiri dengan caping lusuh di kepala dan cangkul kecil di tangan. Tanah taman kecil itu tampak basah dan gembur, siap ditata ulang. “Daffa... Nadifaa...” panggilnya pelan namun tegas. “Siap, Kek!” teriak Daffa dari dalam rumah sambil berlari tergopoh-gopoh. Nadifa menyusul sambil membawa botol minum. “Kakek ini kalau pagi-pagi suaranya seperti toa masjid.” Kakek Acit terkekeh. “Biar kalian cepat bangun. Kalau kebanyakan tidur, nanti mimpinya kepanjangan, lupa pagi yang semestinya bersemangat.” Mereka bertiga berdiri di depan beberapa batang kamboja yang sudah tumbuh subur. Ada yang berbunga putih bersih, ada yang merah menyala, dan ada pula yang pink lembut seperti pipi Nadifa saat malu-malu...

UNTAIAN MUTIARA DI MUSHALLA AL-HIKMAH

Gambar
Cerpen #02 UNTAIAN MUTIARA DI MUSHALLA AL-HIKMAH @hmad Rasyid  Langit sore mulai lembayung. Angin berhembus lembut dari arah sawah yang mulai menguning. Di teras Mushalla Al-Hikmah, Ustad Karim duduk bersila, menunggu murid-murid kecilnya datang untuk mengaji selepas Ashar. Dari kejauhan, terdengar langkah tergesa-gesa. “Assalamu’alaikum, Ustad!” teriak Daffa sambil menggendong tas lusuhnya. Di belakangnya, menyusul adiknya, Nadifa, dengan jilbab agak miring, wajahnya berkeringat tapi semangat. “Wa’alaikumussalam, Daffa, Nadifa. Alhamdulillah, datang juga,” jawab Ustad Karim sambil tersenyum. Tak lama kemudian datang dua santri remaja lain Zakiya, gadis cerdas yang agak keras hati, dan Arifin, pemuda yang sering terlihat ragu-ragu antara dunia remaja dan tanggung jawab. Ustad Karim membuka pertemuan sore itu dengan doa lirih, “Yaa Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amal yang diterima.” Mereka semua mengulanginya, meski...

MENDIDIK KELUARGA SIBUK DENGAN KEBAIKAN

Gambar
Cerpen #01 MENDIDIK KELUARGA SIBUK DENGAN KEBAIKAN  Oleh: Pak Acit  Embun pagi menetes lembut di jendela rumah sederhana keluarga Bahul dan Anisa. Udara masih segar, burung-burung berkicau, dan lantunan murattal dari kamar Daffa mengalun lirih. Suasana seperti itu biasanya menjadi penanda dimulainya rutinitas Cahaya Dhuha—momen kebersamaan mereka setiap hari Sabtu. Namun pagi itu, suasananya agak berbeda. “Daffa, ayo siap-siap dhuha dulu, Nak,” suara Bunda Anisa lembut dari dapur. Dari kamar, terdengar sahutan tergesa, “Nanti aja, Bun! Lagi seru banget levelnya!” Bunda menarik napas panjang. “Game lagi, game lagi,” gumamnya, antara geli dan lelah. Sementara itu, di ruang tamu, Ayah Bahul sedang melipat sajadah. Ia mendengar semua dengan tenang. “Duhai anak muda zaman digital,...” katanya sambil tersenyum tipis, “...musuhnya bukan syetan merah, tapi waktu yang terbuang.” Tak lama Nadhifa, adik Daffa berlari kecil menghampiri ayahnya sambil membawa mukena mini. “Ayah...

LANGIT KATA, CAHAYA BINTANG

Gambar
LANGIT KATA, CAHAYA BINTANG  @rasid414 Malam itu, hujan baru saja reda. Daun-daun masih meneteskan air, sementara udara membawa aroma tanah basah yang menenangkan. Di sebuah rumah sederhana yang juga menjadi sekretariat kecil komunitas Penulis Kata Bintang, sekelompok orang berkumpul. Ruang tamu telah disulap menjadi lingkar diskusi. Tak ada panggung, tak ada podium. Hanya kursi-kursi melingkar, secangkir kopi, teh panas, dan buku catatan di pangkuan. Malam ini, mereka sepakat membicarakan satu kata: “BINTANG”. “Teman-teman,...” ucap Nok Ir, membuka pertemuan dengan suara yang lembut, “...aku selalu percaya bahwa kita adalah bintang di langit masing-masing. Setiap dari kita punya cahaya sendiri, meski kecil, tapi tak bisa digantikan orang lain.” Beberapa orang di antara hadirin mengangguk. S. Herianto menambahkan, “Ya, dan karena itu teruslah bersinar, ajak yang lain terang. Bintang itu indah justru karena jumlahnya banyak. Kalau hanya satu, mungkin langit a...

LANGKAH KECIL DI KELAS SATU

Gambar
LANGKAH KECIL DI KELAS SATU *) @Pak Acit  Di pagi yang cerah tanggal 1 Agustus 2025, suasana di SDN Padangdangan I tampak seperti biasa: halaman sekolah dipenuhi riuh anak-anak, udara sejuk menyapa dedaunan yang bergoyang perlahan, dan lonceng elektrik di atas kantor ruang guru berdentang nyaring menandai awal kegiatan pagi. Namun, di ruang kelas 1 yang penuh warna dan tempelan gambar-gambar huruf dan angka, hari itu ada nuansa yang berbeda. Meja guru yang biasanya dihiasi bunga kertas dan boneka kecil kini tampak rapi, nyaris hening. Tak ada suara ceria Bu Nurrahmaniyah yang biasa menyapa dengan kalimat lembut, “Selamat pagi anak-anak, semangat ya hari ini.” Zidan, seorang siswa kecil yang duduk di bangku depan, memandangi papan tulis dengan sorot mata kosong. Ia belum tahu benar, tapi ia merasa sesuatu telah berubah. --- Malam Sebelumnya Grup WhatsApp Wali Murid Kelas 1 SDN Padangdangan I ramai dengan notifikasi. [31/7 18.28]  Nurrahmaniyah: Assalamu’alaikum wara...

WASIAT PAGI DARI DESA UNTUK ANAKKU DI KOTA SANTRI

WASIAT PAGI DARI DESA UNTUK ANAKKU DI KOTA SANTRI  [Ahmad Rasyid] Angin pagi menyapu pelan sawah yang menghampar di balik rumah kami. Langit mulai membiru, memudarkan semburat jingga sisa fajar yang baru berlalu. Suara ayam berkokok bersahutan, seakan menyambut datangnya hari baru. Sisa embun malampun bercampur dengan aroma kopi pahit yang mengepul dari cangkir tanah liat. Di depan rumah, di bawah pohon mangga tua yang sudah tidak lagi berbuah, aku duduk sendiri. Di atas meja bambu kecil, ada sebuah surat yang belum rampung kutulis. Surat untukmu, anakku si Abduh, yang kini sedang menuntut ilmu di kota santri Pondok Pesantren Bustanu Usysyuqil Qur'an, Demak. Hari-hariku kini sepi tanpamu. Namun rindu yang membuncah di dada ini tidak pernah kutukar dengan penyesalan, karena kau pergi untuk tujuan mulia—menghafal kalamullah. "Yaa Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amal yang diterima." Doa itu kututurkan lagi pagi ini. Hamp...