UNTAIAN MUTIARA DI MUSHALLA AL-HIKMAH
Cerpen #02 UNTAIAN MUTIARA DI MUSHALLA AL-HIKMAH
@hmad Rasyid
Langit sore mulai lembayung. Angin berhembus lembut dari arah sawah yang mulai menguning. Di teras Mushalla Al-Hikmah, Ustad Karim duduk bersila, menunggu murid-murid kecilnya datang untuk mengaji selepas Ashar.
Dari kejauhan, terdengar langkah tergesa-gesa.
“Assalamu’alaikum, Ustad!” teriak Daffa sambil menggendong tas lusuhnya. Di belakangnya, menyusul adiknya, Nadifa, dengan jilbab agak miring, wajahnya berkeringat tapi semangat.
“Wa’alaikumussalam, Daffa, Nadifa. Alhamdulillah, datang juga,” jawab Ustad Karim sambil tersenyum.
Tak lama kemudian datang dua santri remaja lain Zakiya, gadis cerdas yang agak keras hati, dan Arifin, pemuda yang sering terlihat ragu-ragu antara dunia remaja dan tanggung jawab.
Ustad Karim membuka pertemuan sore itu dengan doa lirih,
“Yaa Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amal yang diterima.”
Mereka semua mengulanginya, meski dengan nada berbeda. Nadifa penuh semangat, Daffa pelan tapi khusyuk, Zakiya cepat-cepat, dan Arifin hanya setengah hati.
“Anak-anakku,” ujar Ustad Karim, “doa ini bukan sekadar dihafal, tapi dijalani. Ilmu yang bermanfaat itu yang mendekatkan kita pada Allah, bukan yang membuat kalian psombong.”
Zakiya mengangkat tangan. “Ustad, tapi di sekolah saya, yang dihargai itu nilai, bukan akhlak. Kalau nilainya tinggi, semua hormat. Kalau rendah, diremehkan.”
Ustad Karim tersenyum lembut. “Nilai itu penting, tapi akhlak yang menjaga ilmu agar tak sombong. Tanpa akhlak, ilmu seperti pisau tanpa sarung—tajam, tapi bisa melukai diri sendiri.”
Nadifa menatap kakaknya. “Berarti kalau Daffa suka marah waktu belajar, itu ilmunya belum manfaat, ya Ustad?”
Daffa mengerutkan kening. “Heh, aku marah karena kamu cerewet, bukan karena ilmunya!”
Anak-anak tertawa kecil, tapi suasana berubah ketika Arifin tiba-tiba berkata lirih, “Kalau orang mencari rizki tapi belum halal, apa amalnya juga gak diterima, Ustad?”
Semua menoleh. Wajah Arifin tampak murung.
“Kenapa kau bertanya begitu, Fin?” tanya Ustad Karim lembut.
Arifin menarik napas panjang. “Ayah saya… katanya bekerja keras. Tapi akhir-akhir ini, saya lihat beliau sering bawa uang dari hasil judi online. Katanya buat kebutuhan sekolah saya.”
Suasana hening. Daffa dan Nadifa saling pandang. Zakiya menunduk.
Ustad Karim tidak langsung menjawab. Ia menatap mata Arifin dalam-dalam. “Anakku, rizki yang haram memang tampak manis di awal, tapi getir di akhir. Kalau kau tahu itu salah, jangan diam. Tapi nasihatilah dengan lembut, bukan marah.”
Arifin menggigit bibir. “Saya sudah bilang, Ustad. Tapi Ayah malah menampar saya. Katanya, ‘Kamu belum kerja, jangan sok suci!’”
Air mata Arifin menetes.
Daffa spontan berdiri. “Ustad, gak adil! Arifin cuma jujur kok malah disalahin!”
Namun Ustad Karim menenangkan, “Begitulah ujian bagi orang yang ingin menjaga diri. Kadang yang benar justru disalahkan.”
Matahari semakin condong. Mereka melanjutkan mengaji, tapi suasana batin tetap berat. Seusai membaca surat Al-Mulk, Ustad Karim menutup mushafnya.
“Sekarang, mari kita praktikkan akhlak. Bukan hanya bicara.”
“Bagaimana caranya, Ustad?” tanya Nadifa polos.
“Dengan menolong tanpa pamrih.”
Ustad Karim lalu memandang Zakiya. “Kau tahu, Zakiya, hari ini ada kabar dari Bu Mariam, tetangga kita. Suaminya sakit, dan mereka belum makan sejak pagi. Maukah kalian menemani Ustad menjenguk?”
Semua mengangguk, kecuali Arifin yang diam. “Saya… saya malu, Ustad. Ayah saya malah hidup berlebih dari uang haram. Saya gak pantas menolong orang lain.”
Ustad Karim mendekat dan memegang bahunya. “Justru dengan menolong, Allah bisa membuka jalan taubat bagi ayahmu.”
Mereka berjalan ke rumah Bu Mariam di pinggir kampung. Rumah itu reyot, tapi bersih. Bu Mariam tersenyum lemah melihat rombongan kecil itu datang membawa beras dan sayur seadanya.
“MasyaAllah, terima kasih, Ustad… Anak-anak, kalian baik sekali.”
Zakiya membantu menyapu halaman, Nadifa menyuapi anak kecil Bu Mariam, dan Daffa memperbaiki pintu bambu yang rusak.
Namun tiba-tiba terdengar suara teriakan keras dari luar rumah.
“Bu Maryam! Jangan harap lagi bisa ngutang di warung saya!”
Semua menoleh. Ternyata ayah Arifin, datang dengan wajah merah dan suara tinggi. “Saya malu! Kalian dikasihani Ustad sementara saya dianggap penipu karena kalah judi! Dasar bikin malu keluarga!”
Arifin gemetar. “Ayah, saya cuma ingin bantu.”
“Diam! Kau lebih percaya ustad daripada ayahmu sendiri?”
Ustad Karim maju, menundukkan kepala sedikit. “Pak Hasan, maafkan kami jika tindakan ini menyinggung. Kami hanya ingin menolong, bukan menghakimi.”
Namun Pak Hasan justru mendorong Ustad Karim hingga hampir jatuh. Daffa spontan menahan tubuh ustadnya.
“Jangan ikut campur, Ustad kampung!” bentaknya.
Semua terdiam. Hanya suara burung sore yang tersisa.
Zakiya menahan amarah, tapi Ustad Karim tetap berdiri dengan wajah tenang. “Saya tidak marah, Pak Hasan. Tapi saya doakan, semoga Allah beri Ayah Arifin rizki yang halal dan hati yang tenang.”
Pak Hasan menatapnya lama. Nafasnya tersengal, dan tiba-tiba ia terduduk, menutupi wajah dengan kedua tangan. Tangisnya pecah.
“Saya capek, Ustad… saya cuma ingin anak saya makan… saya salah jalan…”
Arifin langsung memeluk ayahnya. “Ayah, gak apa-apa. Kita mulai dari awal. Kita kerja halal sama-sama.”
Suasana berubah haru. Nadifa ikut menangis pelan, Daffa menunduk dengan dada sesak.
Menjelang Maghrib, mereka kembali ke mushalla. Langit sudah berwarna ungu keemasan.
Ustad Karim duduk di serambi, sementara anak-anak mengelilinginya.
“Anak-anakku,” katanya lembut, “sore ini kita belajar bukan dari buku, tapi dari kenyataan. Ilmu yang bermanfaat adalah yang membuat hati lembut. Rizki yang halal mungkin sedikit, tapi cukup. Dan amal diterima bila dilakukan dengan ikhlas.”
Zakiya berkata lirih, “Ustad… tadi saya hampir marah sama Ayah Arifin. Saya lupa sabar itu juga bagian dari akhlak.”
“Ya,” jawab Ustad Karim tersenyum. “Sabar dan memaafkan lebih tinggi derajatnya dari sekadar pintar.”
Daffa menatap adiknya lalu berkata, “Mulai hari ini, aku gak mau marah lagi waktu Nadifa salah baca.”
Nadifa tersenyum lebar. “Alhamdulillah! Ustad, doain kakakku ilmunya manfaat!”
Mereka semua tertawa, mencairkan ketegangan sore itu.
Azan Maghrib pun berkumandang. Sebelum bangkit untuk salat, Ustad Karim memejamkan mata dan berdoa, “Yaa Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amal yang diterima.”
Anak-anak mengulanginya bersama, kali ini dengan hati penuh kesadaran. Arifin menggenggam tangan ayahnya yang kini ikut duduk di barisan jamaah.
Sore itu menjadi saksi: bahwa kejujuran dan akhlak tidak pernah sia-sia, meski harus melalui luka dan tangisan terlebih dahulu.
AmbuEnten, 20 Oktober 2025
#Cahaya Dhuha
#PuisiBuatCucunda
#CerpenBuatCucunda
Komentar
Posting Komentar