BISMILLAH, FIKRI, DAN TARI TOPENG YANG MEMBANGGAKAN

Anak Inspiratif #3

BISMILLAH, FIKRI, DAN TARI TOPENG YANG MEMBANGGAKAN 
@hmad Rasyid 


Namaku Matrasit, kepala SDN Padangdangan I. Pagi itu aku duduk-duduk santai di bawah pohon Ketapang yang rindang di samping kanan kiri halaman sekolah sambil memegang cangkir kopi.
“Pak, kopinya keburu dingin,” sapa Bu Nur, guru kelas IV, sambil tersenyum seraya melintas, namun berhenti sejenak.

Aku tertawa kecil.
“Tenang Bu Nur, kopi dingin masih bisa diminum. Yang penting niatnya tetap hangat,” jawabku bercanda.

Bel belum berbunyi, tapi halaman sekolah sudah ramai. Anak-anak berlarian, ada yang bermain sepak bola, ada juga yang berlatih membaca di bawah pohon ketapang sebelah.

Tiba-tiba terdengar suara kecil namun lantang,
“Bismillahirrahmanirrahim…”

Aku menoleh.
Itu suara Fikri, murid kelas III yang selalu membuatku kagum sejak ia menduduki bangku kelas I.
Ia duduk rapi di bangku taman sambil membuka buku. Sebelum membaca, ia menunduk sebentar, lalu tersenyum.

Bu Nur yang dulu pernah menjadi wali kelasnya ketika di kelas I ikut memperhatikan.
“Masih ingat, Pak? Fikri dulu waktu kelas I, murid saya,” katanya bangga.

Aku mengangguk.
“Mana mungkin lupa. Anak yang apa-apa selalu bismillah,” jawabku.

Tak lama kemudian, Fikri berdiri dan berlari kecil ke arah kami.

“Assalamu’alaikum, Pak Kepala, Bu Guru,” sapanya sopan.

“Wa’alaikumussalam,” jawab kami hampir bersamaan.

“Fikri mau minum dulu,” katanya polos.

“Silakan,” kata Bu Nur.

Fikri membuka botol minumnya. “Bismillahirrahmanirrahim…,” ucapnya lagi.

Aku pura-pura heran.
“Fikri, kalau nanti naik sepeda juga bismillah?”

“Iya, Pak!” jawabnya cepat.

“Kalau makan bakso?”

“Bismillah!”

“Kalau main bola?”

“Bismillah juga, Pak!” katanya sambil tertawa.

Aku langsung mengacungkan tangan dengan jempol kanan. “Wah, itu baru anak hebat!”

Kami bertiga tertawa bersama.

Saat jam istirahat, anak-anak berkumpul di aula kecil. Hari itu ada latihan seni untuk persiapan pentas seni pada agenda kenang pisah kelas VI yang akan ditempatkan di lapangan sepak bola Padangdangan. Fikri diminta tampil sebentar.

“Siap, Fikri?” tanyaku.

Ia mengangguk mantap.
“Siap, Pak. Bismillahirrahmanirrahim,” katanya sebelum melangkah ke depan.

Musik khas Madura mulai terdengar. Dengan wajah serius namun percaya diri, Fikri menari Tari Klono Tunjung Seto. Gerakannya luwes, tangannya tegas, topengnya seolah hidup.

Anak-anak terpukau.

“Wah, keren!” bisik salah satu murid.

“Kayak di TV!” sahut yang lain.

Bu Nur menepuk tangan Bu Indri pelan.
“Bu, ingat waktu dia kelas I? Tampil di gedung Ki Hajar Dewantara.”

Bu Indri tersenyum lebar.
“Tentu. Di depan Bapak Agus Dwi Saputra, Kepala Dinas Pendidikan Sumenep,” jawabnya.

Aku juga masih ingat jelas. Waktu itu Fikri menari dengan penuh percaya diri. Banyak tamu maju ke depan panggung.

“Pak Kepala Dinas nyawer paling depan,” bisik Bu Nur sambil tertawa.

“Iya,” kataku, “Fikri pulang bukan cuma bawa topeng, tapi juga bawa cuan.”

Tiba-tiba Fikri menghampiri kami setelah selesai menari.

“Pak Kepala,” katanya polos, “boleh nggak nanti saya tampil lagi?”

“Tentu boleh,” jawabku cepat.

“Orang tua Fikri selalu ikut ya, Pak,” tambah Bu Nur.

Aku mengangguk.
“Itu tanda dukungan. Anak berbakat perlu didampingi.”

Tak lama, ayah dan ibu Fikri datang menjemput. Mereka tersenyum bangga.

“Terima kasih, Pak Kepala,...” kata ayahnya. “...Fikri senang sekali kalau tampil.”

Aku menepuk bahu Fikri.
“Nak, teruslah mengasah bakatmu,...” kataku pelan namun jelas. “...Insya Allah, dengan bakat itu, kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang kelak dapat membahagiakan orang lain.”

Fikri tersenyum lebar.
“Siap, Pak. Bismillahirrahmanirrahim,” katanya lagi.

Aku, Bu Ririn, Bu Nur juga guru-guru yang saling berpandangan, lalu tertawa kecil.

Di hatiku, aku berkata,
Sekolah ini bukan hanya tempat belajar membaca dan berhitung. Tapi tempat menanam kebiasaan baik, keyakinan, dan mimpi besar.

Dan hari itu, Fikri mengajarkanku satu hal sederhana: Memulai dengan bismillah, bisa membuat langkah kecil menjadi prestasi besar.

Padangdangan, 11 Pebruari 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI