AZIMAT DI ATAS KEPALA


AZIMAT DI ATAS KEPALA 
Karya Ahmad Rasyid 

Pagi itu di Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar, Pangarangan, Sumenep para santri sangat bersemangat pagi dari biasanya. Angin pagi berhembus lembut hingga dedaunan bergoyang riang menyambutnya. 

Aroma wangi khas bunga sedap malam yang tinggal satu-satunya di halaman menyatu dengan wangi kayu jati dari bangunan tua pondok. Di sudut halaman, rombongan santri putra, siswa kelas akhir SMP Islam Yayasan Abdullah, bersiap menuju MTs Negeri Sumenep yang hanya berjarak sekitar empat ratus meter dari pondok. Hari itu mereka akan mengikuti ujian nasional.

Ustadz Mura’e melangkah pelan menuju ndalem, tempat tinggal Kyai Abus Suyuf Ibnu Abdillah. Sesekali ia menatap para santri yang berdiri rapi dengan seragam putih abu dan tas ransel. Di atas kepala mereka, kopiah hitam tampak menonjol, tapi di dalam hati ustadz muda itu ada keraguan.

Di hadapan Kiai Abus Suyuf yang duduk di atas kursi kayu rendah dengan kitab kuning terbuka di pangkuannya, Ustadz Mura’e menunduk hormat.

“Yai, mohon izin. Para santri hendak berangkat ujian ke MTs Negeri. Karena lokasi sekolahnya umum dan bukan pesantren, saya berniat meminta mereka tidak memakai kopiah...”

Kiai Abus Suyuf menutup kitabnya perlahan, menatap Ustadz Mura’e dengan tenang. Sejenak beliau diam, seakan menimbang, lalu berkata dengan suara dalam namun lembut:

“Jangan, Nak. Sebab kopiah itu identitas santri. Apa yang akan membedakan bahwa mereka itu santri jikalau tak memakai kopiah?”

Ustadz Mura’e terdiam. Suara kiai masuk menembus pikirannya.

“Kopiah bisa berguna sebagai azimat,” lanjut beliau. “Yaitu alat untuk mengingatkan dirinya. Jikalau hendak berbuat kesalahan, ia akan teringat bahwa dirinya adalah santri. Yang menampakkan sifat kesantriannya.”

Kemudian, beliau mengangkat tangan pelan. “Semoga Allah memberikan jalan keselamatan dan kesuksesan kepada mereka,” doanya lirih, namun terasa menggema di ruang sempit itu.

---

Di jalan menuju MTs Negeri, rombongan santri berjalan beriringan. Suara sepatu menyentuh aspal terdengar ritmis. Beberapa warga yang melintas mengangguk ramah, mengenali para santri dari kopiah hitam mereka.

“Ustadz,” tanya Faiq, salah satu santri, sambil mempercepat langkah menyamai Ustadz Mura’e. “Apa kita gak malu, pakai kopiah di sekolah umum?”

Ustadz Mura’e tersenyum. “Justru itu kehormatan kita. Kiai sendiri yang berpesan begitu. Kopiah itu azimat.”

“Azimat?” sahut Zainal dari belakang.

“Bukan azimat seperti jimat,” ujar Ustadz Mura’e. “Tapi tanda. Supaya kita ingat siapa diri kita. Saat kita mulai lupa, kopiah ini yang mengingatkan.”

Mereka terdiam. Angin pagi berhembus, menggoyang pelan ujung-ujung kopiah mereka.

---
Setiba di MTs Negeri, para peserta dari sekolah sendiri sudah berdatangan. Beberapa memandang para santri dari pondok dengan heran, ada juga yang tersenyum sopan.

Di ruang tunggu ujian, Rafiq tampak gelisah.

“Faiq, kalau kita salah jawab terus, apa kopiah ini bisa bantu?” bisiknya pelan.

Faiq terkekeh. “Bantu mengingat, bukan mengerjakan.”

“Tapi jujur, tadi waktu aku mau buka contekan, tanganku malah refleks nyentuh kopiah ini. Langsung ingat wejangan Kiai.”

“Berarti azimatnya bekerja,” ujar Zainal. Mereka tertawa kecil.

Tak lama, bel masuk berbunyi. Para santri duduk di bangku masing-masing. Di antara ratusan siswa lain, hanya mereka yang berkepala berkopiah.

Soal dibagikan. Pensil mulai bergerak. Waktu berlalu.

---

Siang itu mereka kembali ke pondok dengan langkah ringan. Wajah-wajah lelah, namun lega terlihat di antara deretan kopiah yang masih setia bertengger.

Ustadz Mura’e menunggu di gerbang pondok.

“Bagaimana?” tanyanya.

“Alhamdulillah, Ustadz,” jawab Faiq. “Tak semua soal bisa kami jawab. Tapi kami menjawabnya dengan tenang.”

“Dan dengan kehormatan,” tambah Zainal sambil menunjuk kopiahnya.

Ustadz Mura’e tersenyum. Dalam hati ia membenarkan, bahwa ada kebenaran yang tak akan lekang oleh zaman - identitas seorang santri, seteguh kain hitam yang sederhana, namun bermakna.

Ambunten, 15 Mei 2025

*Disain gambar: Canva


Komentar

  1. Subhanallah... merinding membacanya. Kopiah, benda 'remeh' dalam pandangan kebanyakan orang, tapi bagi mereka yang selalu bertadabbur dan tafakkur memiliki makna dan pesan mendalam bagi pemakainya.....

    Terima kasih sdh menginspirasi, Kyai...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI