SUATU SORE DI RUMAH HAJI TAMAM

SUATU SORE DI RUMAH HAJI TAMAM 
Karya Ahmad Rasyid 

Sore itu selepas shalat ashar, mentari menguning hangat di langit seputaran kota. Bayang-bayang pepohonan memanjang di pelataran rumah Haji Tamam, tetangga dekat, utara pondok pesantren kami. Hari itu, beliau mengundang selamatan atas syukuran kelahiran cucu pertamanya. 

Suasana rumah sederhana itu tampak semarak dengan tamu-tamu yang datang, sebagian besar warga sekitar dan beberapa santri dari pondok kami.

Kami bersebelas, sepuluh santri dan Syaikhona Abus Suyuf Ibnu Abdillah berjalan beriringan dari gerbang pondok. Angin sore menyapu perlahan jubah putih beliau yang sederhana namun bersih. Tak satu pun dari kami berani bersuara. Langkah kami senyap, seakan tak ingin menodai kedamaian sore itu.

Sesampainya di rumah Haji Tamam, kami disambut dengan hangat. Haji Tamam sendiri mempersilakan Syaikhona duduk di tempat utama, dekat tikar hijau yang telah disiapkan untuk doa dan tahlil. Para hadirin duduk bersila rapi. Beberapa anak-anak kecil berlari-lari kecil di pinggiran ruangan, namun segera tenang saat melihat sosok Syaikhona.

Sebelum pembacaan doa dimulai, Syaikhona angkat bicara. Suaranya tenang, dalam, dan penuh keteduhan.

“Alhamdulillah, kita berkumpul sore ini dalam niat baik. Sedikit kami sampaikan, mudah-mudahan jadi pengingat dan pelengkap adab kita dalam menghadiri majelis seperti ini.”

Semua pandangan tertuju pada beliau. Kami, para santri, duduk bersila rapi di sekeliling beliau, mencatat dengan hati, bahkan sebelum mencatat dengan pena.

“Jikalau kita diundang dalam acara selamatan seperti ini...,” lanjut beliau, “...sedikitnya hadiahkanlah surah Al-Fatihah, kemudian surat al-Ikhlas tiga kali, lalu al-Falaq, an-Naas, lima ayat pertama surat al-Baqarah, dan Ayat Kursi. Setelah itu, kita panjatkan doa untuk keselamatan dunia dan akhirat.”

Beliau berhenti sejenak. Udara sore terasa semakin syahdu.

“Itu cukup. Lebih dari itu, kadang justru kurang baik. Karena Allah lebih menyukai amalan yang sedikit namun ikhlas, dibanding banyak tapi penuh kebiasaan kosong. Yang penting: niat. Bahwa kita datang karena Allah, bukan karena makanan, bukan pula karena formalitas. Niat pengunjung dan yang terundang ikhlas lillah.”

Lelaki tua di pojok ruangan mengangguk pelan, matanya basah. Beberapa pemuda terlihat saling menatap, terdiam sejenak dalam perenungan.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan bacaan tahlil dan doa. Syaikhona memimpin dengan suara yang bergetar halus, namun tegas. Hati kami tergerak, bahkan daun-daun di pekarangan seakan ikut berzikir.

Seusai doa, acara menjadi santai. Haji Tamam menyilakan para tamu menikmati suguhan. Beberapa warga mendekat ke arah kami dan mulai berdialog pelan.

“Masya Allah... Syaikhona selalu menyejukkan ya,” kata Pak Leman, tetua RT. “Saya tadi merasa seperti disiram air di hati.”

“Betul, Pak,” sahut yang lain. “Kadang kita datang ke selamatan bawa hape, buru-buru, duduk sebentar, pulang. Tapi tadi, rasanya saya seperti hadir betulan, hati ini ikut.”

Seorang anak muda mendekat wajahnya ke arah kami dan berkata pelan, “Saya baru tahu kalau cukup dengan bacaan itu saja sudah mencakup banyak kebaikan.”

Seorang santri di antara kami, Ahmad Pasongsongan, menjawab sambil tersenyum, “Ya, itu ajaran Syaikhona. Sederhana, tapi dalam. Surat al-Ikhlas tiga kali, nilainya seperti membaca seluruh Al-Qur’an. Tapi yang lebih penting dari bacaan itu: hatinya.”

Syaikhona yang mendengar dari dekat, menoleh pelan, lalu berkata, “Ilmu itu bukan hanya di kepala. Harus turun ke dada dan berwujud perkataan dan perilaku nan indah. Maka jangan banyak bicara, sebab dalam diam itu emas. Cukup lakukan dengan benar.”

Kami semua tertunduk. Perkataan beliau selalu tepat, tak pernah berlebihan.

Saat hari mulai gelap, Syaikhona pamit. Haji Tamam mencium tangan beliau dengan hormat.

“Terima kasih sudah berkenan hadir, Syaikhona,” katanya.

“Semoga anak cucu Haji Tamam menjadi penyambung risalah kebaikan,” jawab beliau lirih.

Kami berjalan kembali ke pondok di bawah langit senja yang mulai ungu. Satu demi satu bintang muncul, seperti menyambut malam yang diberkahi.

Dalam hati kami, Syaikhona bukan hanya guru. Ia lentera dalam senja, penunjuk jalan di antara ramai yang sering lupa. Dan dalam setiap undangan sederhana seperti ini, beliau menjadikan majelis menjadi tempat bersemainya keikhlasan dan adab.

Ambunten, 20 Mei 2025


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI