TEGAK ILMU DI RUANG SILA

TEGAK ILMU DI RUANG SILA 
Karya: Ahmad Rasyid 
Matahari sore itu menggantung rendah di langit Ambunten Timur, menyiramkan sinarnya yang lembut ke halaman rumah Ahmad Rasyid. Rumah itu tampak lebih hidup dari biasanya. 

Di ruang tamu yang cukup luas, beralas tikar lipat dan wangi dupa halus, para alumni Pondok Pesantren Mathali'ul Anwar duduk bersila. Raut wajah mereka menyiratkan keakraban, dibalut kenangan lama yang masih hangat.

Ahmad Rasyid, tuan rumah yang merupakan alumni tahun 1988, menyambut satu per satu tamu yang hadir dengan senyum dan pelukan hangat. 

Di antara para hadirin yang berjumlah sekitar delapan puluhan itu, tampak sosok muda yang bersahaja, mengenakan pakaian putih ala santri biasa dan sorban menggantung di bahu, nampak sederhana. 

Dialah Gus Abud, asma lengkapnya, Kiai Muhammad Syaifa Abudillah, cucu dari Syaikhona Abdullah bin Husein. Beliau sebagai generasi ketiga yang tengah dipersiapkan untuk melanjutkan estafet kepengasuhan pondok.

Suasana hening seketika saat Gus Abud diminta duduk di depan, mendampingi KH Said Abdullah yang lebih familiar dengan panggilan Syaikhona Abus Suyuf Ibnu Abdillah, ayahandanya. Ia diharapkan untuk menyampaikan tausiyah. 

Setelah salam dan basmalah, ia menatap para hadirin dengan pandangan teduh dan mulai menyampaikan 
“Saudara-saudaraku, para santri sejati...,” ucapnya, suaranya tenang namun mengalun dalam. “...Hari ini kita berkumpul bukan hanya mengenang masa lalu, tapi juga meneguhkan langkah ke depan. Saya ingin mengingatkan tiga hal tentang ilmu — pusaka hidup yang diwariskan para Kiai.”

Para hadirin memperhatikan dengan saksama. Beberapa mulai menunduk, menyimak dalam batin.

“Pertama...,” lanjut Gus Abud, “...realita yang tak bisa kita sangkal: penyerapan ilmu yang paling baik, baik buahnya maupun prosesnya, hanya terjadi di pondok pesantren. Di sanalah hati disucikan, niat dibersihkan. Ilmu tak hanya diajarkan, tapi dialirkan, lewat adab, lewat berkah. Ada nilai keteladanan langsung yang bersifat sentral.”

Seorang alumni yang duduk di sudut, ustadz Basyir, membisik pada temannya, “Benar. Aku masih ingat bagaimana Kiai Sepuh tak pernah mengajar dengan nada tinggi, tapi setiap kata beliau menghunjam ke dada.”

“Yang kedua...,” lanjut Gus Abud, “...tak satu pun kehidupan manusia yang bisa lepas dari ilmu. Hidup yang agung, yang bermakna, hanya bisa ditempuh dengan ilmu, yaitu ilmu agama, juga ilmu hikmah. Tanpa itu, kita hanya berjalan dalam gelap.”

Kali ini, H. Rofiqi, alumni dari Jadung, Batang-Batang, guru madrasah di kampungnya, mengangguk pelan. “Ilmu hikmah itu, sering kita abaikan. Padahal itu yang mengajarkan bagaimana bicara, kapan diam, bagaimana membawa diri.”

Gus Abud menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya kembali. “Dan yang ketiga, ini pesan penting bagi kita semua, khususnya santri. Mencari ilmu itu amanah. Jangan pulang dari pesantren hanya membawa ijazah. Bawalah himmah, semangat hidup yang menuntun ke arah kebaikan. Ilmu harus dibawa sampai mati, bukan disimpan di rak buku.”

Seketika suasana terasa haru. Beberapa alumni menghela napas dalam, mengingat kembali masa-masa ngaji kitab kuning, menjaga wudhu sepanjang hari, dan bersimpuh di hadapan Kiai, sang pengasuh.

Setelah Gus Abud mengakhiri nasihatnya dengan doa dan shalawat qiyam yang dipandu oleh Ustadz Mas’ad, suasana cair kembali. Beberapa alumni berdiskusi pelan, sambil menyeruput kopi atau hidangan lain dari tuan rumah yang telah disuguhkan.

“Gus Abud ini, meskipun masih muda, tapi ucapannya dalam sekali,” bisik Ustadz Ali Wafa, Gadding Manding sambil menyandarkan punggungnya.
“Ya. Lurus turunan Kiai Sepuh. Lihat saja, caranya menyampaikan itu bukan cuma wacana, tapi wejangan hidup,” sahut Saleh Khair, Pasongsongan.

“Kalau beliau benar-benar jadi pengasuh pondok nanti, aku yakin, ruh Mathali’ul Anwar akan tetap menyala,” ujar Abd Rasyidi dengan mantap. “Kita harus terus dukung dan doakan.”

Di luar ruang tamu, suasana cukup panas yang menandakan matahari dengan semburat putih mengkristal sudah berpindah bayangannya ke arah timur. Tapi di dalam, percikan cahaya ilmu masih menyala di mata para alumni. Sebuah pertemuan sederhana, namun penuh makna — menguatkan tali hati, menegakkan warisan ilmu, dan membasuh kembali niat-niat yang sempat kabur.

Dalam keheningan yang mulai turun, Gus Abud berdiri mendampingi Syaikhona Abus Suyuf Ibnu Abdillah, bersalaman dengan para hadirin satu per satu. Tatapan mata indahnya mengajak bukan hanya untuk mengenang, tapi juga untuk kembali meneguhkan: bahwa ilmu bukan tujuan akhir, tapi bekal pulang.*)

Ambunten, 17 Mei 2025

*)Catatan Santri di Pondok Cinta 

Tausiyah Gus Abud :

*_ Realita bahwa penyerapan ilmu yang paling baik, baik dari buah ilmu ataupun dari cara penerimaan ilmu adalah di lembaga Pondok Pesantren.

*_Setiap kehidupan manusia tak akan bisa menyimpang dari ilmu. Fakta bahwa prikehidupan yang agung akan dicapai sebab ilmu, baik ilmu agama ataupun ilmu hikmah.

*_ Amanah bagi Santri, seyogianya dalam usaha mendapat dan membawa ilmu dari pesantren haruslah menjadikannya himmah dalam hidup yang mengarah pada kebaikan.

Komentar

  1. Sungguh luar biasa coretan coretan pengalaman indahnya

    BalasHapus
  2. Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh Sahabat Pena, terima kasih telah membaca kisah ini. Semoga bermanfaat

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI