CAHAYA DI TENGAH KEBIASAAN
CAHAYA DI TENGAH KEBIASAAN
Karya Ahmad Rasyid
Pondok Pesantren Mathali'ul Anwar perlahan tenggelam dalam senyap senja. Bayangan pepohonan menari-nari di tanah berpasir. Langit jingga merona, sementara para santri sibuk dengan kegiatan sore—ada yang membersihkan lingkungan, ada yang mengaji di beranda, dan ada pula yang tenggelam dalam perenungan di Asta Bujuk Koneng.
Di balik Masjid Aminah yang megah, seorang santri muda bernama Zayyidi duduk bersila. Ia menatap kerikil-kerikil kecil di depannya dengan pandangan gelisah. Wajahnya belum lagi bersih dari peluh usai menyapu halaman, tapi bukan kelelahan yang membuat napasnya berat.
Tak lama, datanglah Faqih, santri senior yang dikenal karena ketenangannya. Ia melihat Zayyidi, lalu duduk di sampingnya, menyodorkan sebotol air minum.
"Aku lihat kamu lebih banyak diam hari ini, Zayyidi. Ada yang mengganjal?" tanya Faqih dengan suara tenang.
Zayyidi menerima air itu, meneguk sedikit, lalu mengangguk pelan.
"Aku hanya... merasa bingung, Kak Faqih."
Faqih menoleh penuh perhatian. "Tentang apa?"
Ziyad menarik napas dalam-dalam. "Aku merasa salah, Kak. Tadi pagi, aku mengingatkan teman-teman untuk tidak meninggalkan tempat makan kotor setelah sarapan. Tapi mereka malah tertawa dan bilang aku sok suci. Sekarang, aku merasa seperti orang asing di antara mereka. Padahal aku hanya ingin berbuat benar."
Faqih mengangguk perlahan. Ia mengambil sebutir kerikil dan melemparkannya ringan ke tanah.
"Zayyidi...," katanya, "...berhati-hatilah dengan orang di sekitarmu. Nasibmu bisa dipengaruhi oleh kebiasaan mereka."
Zayyidi menoleh. "Apa maksudnya, Kak?"
Faqih menatap jauh ke arah matahari yang mulai tenggelam.
"Kadang kita berniat baik. Kita ingin menjaga kebersihan, menjaga adab, taat aturan. Tapi jika lingkungan kita tak terbiasa dengan itu, kebaikan yang kita lakukan malah dianggap aneh, bahkan salah. Kebiasaan buruk bisa jadi norma di mata mereka."
Zayyidi menunduk. “Jadi, aku harus diam saja? Mengikuti mereka agar dianggap biasa?”
Faqih tersenyum tipis. “Tidak. Justru di sinilah ujianmu sebagai santri. Kamu harus membiasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa. Jika lingkungan terbiasa dengan sesuatu yang salah, lalu kamu diam, lama-lama kamu pun akan terbawa. Tapi jika kamu kuat, kamu bisa jadi cahaya yang perlahan mengubah suasana."
Hening sejenak. Angin sore menyapa wajah mereka dengan lembut.
Zayyidi menghela napas. “Tapi Kak... aku takut. Takut dijauhi. Takut dicap sombong. Takut sendirian.”
Faqih menatap adik kelasnya dengan mata yang penuh pengertian.
"Itulah harga dari kebaikan yang teguh. Kebaikan bukan tentang popularitas, tapi tentang ketulusan dan konsistensi. Jika kamu terus melakukan kebaikan, cepat atau lambat, orang akan melihat. Mungkin tidak sekarang. Mungkin kamu akan sendirian untuk waktu yang lama. Tapi Allah selalu melihat."
Zayyidi mengangguk pelan. Kata-kata itu menenangkan hatinya, meski getir masih tersisa.
Faqih melanjutkan, “Dulu, waktu aku seusiamu, aku juga pernah menegur teman yang mencoret-coret dinding pondok. Hasilnya? Aku dikucilkan seminggu. Tapi setelah itu, diam-diam beberapa dari mereka mulai ikut membersihkan dinding setiap pekan. Mereka tak bilang apa-apa, tapi aku tahu, hati mereka berubah sedikit demi sedikit.”
Zayyidi mengangkat wajahnya. “Lalu... aku harus bagaimana, Kak?”
“Lakukan kebaikan dengan lembut dan sabar. Jangan keras kepala, tapi juga jangan mudah goyah. Kalau kamu hanya mengikuti arus, kamu akan kehilangan arah. Tapi kalau kamu jadi batu yang menahan arus, meski kecil, kamu bisa jadi pijakan.”
Senyum tipis merekah di wajah Zayyidi.
Faqih berdiri, menepuk bahu adiknya.
“Jangan takut sendirian dalam kebaikan. Allah akan kirimkan orang-orang baik di sekitarmu, cepat atau lambat. Tapi mulailah dari dirimu. Biasakanlah yang benar, walau tampak berat.”
Langit kini berubah gelap, tapi ada bintang pertama yang muncul di antara awan.
Malam itu, di tengah dzikir dan tilawah, Zayyidi merenung dalam. Ia sadar, pondok bukan hanya tempat menimba ilmu, tapi juga medan perjuangan untuk menjaga akhlak dan prinsip. Kadang, musuhmu bukan keburukan, tapi kebiasaan yang dibiarkan mengakar.
---
Hari-hari berlalu. Zayyidi tetap melakukan kebiasaan baiknya. Ia merapikan tempat tidur, membersihkan kamar, menasihati dengan pelan tanpa memaksa. Teman-temannya masih sering mengejek, tapi beberapa mulai melihatnya berbeda.
Suatu pagi, saat Zayyidi hendak mengangkat baki sisa makanan, seorang santri yang biasanya acuh membantunya.
"Aku ikut, ya," katanya singkat.
Zayyidi tersenyum. “Terima kasih.”
Lalu datang santri lain, yang tiba-tiba menertibkan sendal di depan masjid. Entah kenapa, hari itu banyak yang mulai ikut tertib.
Faqih yang melihat dari kejauhan tersenyum dalam hati. Ia tahu, satu cahaya kecil bisa menular menjadi nyala api yang menghangatkan, jika dijaga dengan istiqamah.
Zayyidi mungkin tak pernah tahu bahwa perjuangan kecilnya adalah bagian dari perubahan besar. Ia hanya menjalani, membiasakan yang benar, dan membiarkan waktu serta akhlak menjadi buktinya.
Karena memang, di dunia ini...
Kebaikan sering kali tampak asing, bukan karena ia salah, tetapi karena lingkungan sudah terlalu terbiasa dengan yang keliru.
Dan tugas para santri adalah menjernihkan, bukan mencampuri keruhnya keadaan.
Mojokerto, 29 Mei 2025
Komentar
Posting Komentar