SPG: SATU TITAH DARI SANG KIAI
SPG: SATU TITAH DARI SANG KIAI
Karya: Ahmad Rasyid
Malam itu bukan malam yang biasa kami jalani. Benar adanya ada pengajian kitab seperti biasanya. Namun, tak terdengar suara lantang dari santri senior yang biasa melantunkan baris demi baris dari kitab kuning. Hanya ketenangan... dan kegelisahan.
Aku duduk di saf kelima, bersila dengan kitab di pangkuan, jantung berdegup cepat tanpa alasan yang jelas.
Biasanya waktu maghrib seperti ini digunakan untuk pembacaan kitab, baik oleh santri senior maupun kadang santri junior yang cukup dipercaya.
Tapi malam itu, Kiai datang langsung dan berkehendak lain. Beliau Kiai Abus Suyuf Ibnu Abdillah duduk tenang di mimbar kecil di ujung mushalla, mata bulat indahnya menyapu kami satu per satu.
Lalu suara beliau yang khas dan berat itu terdengar. Satu kata saja, "SPG."
Dada kami mendadak sesak. Para santri saling berpandangan. SPG, Sekolah Pendidikan Guru. Bukan kata asing bagi kami yang mondok sambil sekolah formal di luar. Santri dari SPG cukup banyak.
Ada Muh. Sinal dari Slopeng, Darmo dari kampung yang sama, Endiyono dari Seronggi, Abd Karim dari kecamatan Kota Sumenep, Suni dan aku, Ahmad Rasyid juga dari Slopeng. Dan aku… salah satu dari mereka yang bersekolah formal SPG.
Kiai tidak menyebut nama. Hanya satu inisial: SPG.
Muh. Sinal sebagai santri senior berdiri dengan mantap. Tapi Kiai hanya berkata, "Bukan kamu."
Darmo mencoba. Lagi-lagi, "Bukan kamu."
Satu per satu mencoba berdiri, menampilkan diri sebagai santri SPG yang dimaksud. Tapi Kiai tak bergeming, setiap kali hanya menjawab pelan, “Bukan kamu.”
Aku mulai berkeringat dingin. Bibirku terasa kering. Ada dorongan dalam hati untuk ikut berdiri, tapi juga ada rasa takut. Kenapa malam ini terasa mencekam begini? Hingga akhirnya, dengan ragu dan tubuh gemetar, aku pun berdiri.
Kiai menatapku. Senyumnya samar. Tapi kalimatnya sangat jelas,.
"Ya, Nak."
Deg.
Tubuhku seperti tersengat listrik. Ini bukan panggilan biasa. Ini... panggilan untuk maju, untuk membaca kitab kuning di hadapan Kiai. Sendiri. Di depan semua santri.
Terlebih baru pertama kali aku dipanggilnya dan diberi kesempatan untuk membaca kitab di hadapan beliau, sejak aku dititipkan oleh kedua orang tuaku di pondok suci Pondok Pesantren Mathali'ul Anwar setahun yang lalu.
Aku melangkah ke depan, langkahku kaku. Kutatap lembaran kitab yang mulai kabur oleh keringat dingin. Tapi aku ingat, malam sebelumnya aku belajar bersama santri senior. Baris yang ditugaskan sempat kami bahas dalam diskusi kecil yang penuh tawa dan candaan.
Kini, semua itu terasa begitu berarti.
Kubuka kitab, mulutku mulai membaca. Pelan tapi pasti. Kata demi kata meluncur dari lidah yang sempat kelu. Kiai mengangguk, tak sekalipun memotong. Hingga akhirnya selesai. Alhamdulillah.
Aku kembali ke tempat duduk, dengan napas tersengal namun lega. Malam itu seperti titik tolak, jalan takdir yang mulai menapak.
_______
Sejak malam itu, setiap kali Kiai berkata "SPG", aku langsung berdiri. Bahkan sebelum nama dipanggil. Dan tak pernah sekalipun beliau menunjuk yang lain. Hanya aku.
Teman-temanku mulai memanggilku dengan sebutan, “SPG, o... SPG.”
Kadang sebagai ejekan ringan, kadang sebagai candaan, tapi bagiku, itu sebuah tanggung jawab.
Aku tak berani lagi bermalas-malasan. Kitab kuning kubawa ke mana-mana. Setiap waktu senggang kuhabiskan untuk muthala‘ah, mengulang dan memahami isi kitab.
Kadang aku tak tidur semalaman demi mempersiapkan diri. Karena aku tahu, bisa jadi setiap waktu adalah giliran berikutnya.
Apa yang awalnya kutakuti, perlahan menjadi kebanggaan. Sebuah kepercayaan dari Kiai. Dari semua santri SPG, entah kenapa aku yang beliau pilih.
Tapi aku percaya, tidak ada yang kebetulan. Panggilan itu adalah cara Kiai membentukku, memaksa aku melampaui rasa takut dan gamang.
[Nostalgia Pak Acit di Pondok Cinta]
AmbuEnten, 13 Mei 2025
Komentar
Posting Komentar