DI BAWAH LANGIT SUMENEP: TAWA, MIMPI, DAN PERSAHABATAN SPGN ’87
DI BAWAH LANGIT SUMENEP: TAWA, MIMPI, DAN PERSAHABATAN SPGN ’87 @hmad Rasyid Angin sore dari arah tenggara _talangan buja_ Nambakor, Sumenep membawa aroma asin yang samar ketika aku, Matrasit, berdiri di depan gerbang SMKN Sumenep yang catnya masih cantik mengkilap. Sekolah yang pernah merenda mimpi kami, para siswa calon guru profesional, di kawah candradimuka SPGN Sumenep. Cat SPGN dulu mungkin sudah memudar, tapi kenangan di dalamnya justru semakin terang benderang. “Sit, masih suka bengong ya? Kayak dulu, lihat angka bisa lupa makan!” suara itu menyambar dari belakang. Aku menoleh. “Syaiful Bahri! Astaghfirullah… kamu masih saja tiba-tiba!” Ia tertawa lebar. “Kalau nggak tiba-tiba, bukan aku namanya. Ingat nggak, dulu kamu bilang angka itu sahabatmu?” “Sekarang tetap,...” jawabku, “...bedanya, dulu sahabat, sekarang sahabat quadrat.” Kami tertawa bersama. Satu per satu teman datang, seperti potongan puzzle yang kembali menyatu. Samiaji muncul dengan langkah tegap. ...