Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2026

DI BAWAH LANGIT SUMENEP: TAWA, MIMPI, DAN PERSAHABATAN SPGN ’87

DI BAWAH LANGIT SUMENEP: TAWA, MIMPI, DAN PERSAHABATAN SPGN ’87 @hmad Rasyid  Angin sore dari arah tenggara _talangan buja_ Nambakor, Sumenep membawa aroma asin yang samar ketika aku, Matrasit, berdiri di depan gerbang SMKN Sumenep yang catnya masih cantik mengkilap. Sekolah yang pernah merenda mimpi kami, para siswa calon guru profesional, di kawah candradimuka SPGN Sumenep.   Cat SPGN dulu mungkin sudah memudar, tapi kenangan di dalamnya justru semakin terang benderang. “Sit, masih suka bengong ya? Kayak dulu, lihat angka bisa lupa makan!” suara itu menyambar dari belakang. Aku menoleh. “Syaiful Bahri! Astaghfirullah… kamu masih saja tiba-tiba!” Ia tertawa lebar. “Kalau nggak tiba-tiba, bukan aku namanya. Ingat nggak, dulu kamu bilang angka itu sahabatmu?” “Sekarang tetap,...” jawabku, “...bedanya, dulu sahabat, sekarang sahabat quadrat.” Kami tertawa bersama. Satu per satu teman datang, seperti potongan puzzle yang kembali menyatu. Samiaji muncul dengan langkah tegap. ...

SPGN 1987 ANTARA SEPEDA, SENJA, DAN CERITA YANG TAK PERNAH USAI

Gambar
SPGN 1987 ANTARA SEPEDA, SENJA, DAN CERITA YANG TAK PERNAH USAI  @hmad Rasyid  Senja itu selalu datang lebih cepat di halaman sekolah kami. Dulu seolah ia tahu bahwa kami adalah anak-anak sore yang mengejar masa depan di antara bayang-bayang panjang.  Aku, Matrasit, masih ingat betul bagaimana cerita itu dimulai pada tahun 1984, saat kami resmi menjadi bagian dari SPG Negeri Sumenep angkatan kedua. “Sit, kamu yakin ini sekolah guru?” bisik Masturi sambil menyenggol lenganku. “Kenapa?” tanyaku heran. “Lah, kelasnya numpang di SD, masuknya sore lagi. Rasanya kayak sekolah rahasia,” jawabnya sambil terkekeh. Aku tertawa. “Justru itu, Mas. Kita ini calon guru spesial.” Kami memang memulai dari tempat sederhana. Menumpang di SDN Pamolokan I Kecamatan Kota. Kelas-kelasnya terasa sempit, papan tulisnya kadang masih berbekas tulisan anak SD pagi hari. Tapi di situlah mimpi kami bertunas. Urip Junaidi, yang juga terbilang rada serius, pernah berkata, “Yang penting buka...

JEJAK CINTA YANG TAK PERNAH USAI

Gambar
Cerpen Cahaya Dhuha #37 JEJAK CINTA YANG TAK PERNAH USAI  @hmad Rasyid  Langit sore di kampung itu berwarna jingga keemasan. Di halaman musalla kecil yang teduh, Kakek Acit duduk santai di bangku kayu, ditemani dua cucunya: Daffa dan Nadifa. Suara gemericik air dari tempat wudhu di samping musalla terdengar menenangkan. “Kek, kenapa sih Kakek selalu senyum kalau lihat tempat wudhu ini?” tanya Nadifa sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Kakek Acit tersenyum lebih lebar. “Karena ini bukan sekadar tempat wudhu, Nak. Ini jejak cinta.” Daffa mengernyit. “Jejak cinta? Emangnya tempat wudhu bisa jatuh cinta, Kek?” Nadifa langsung menyahut, “Mungkin airnya lagi kasmaran sama keran!” Kakek Acit tertawa kecil. “Kalian ini, ada-ada saja. Maksud Kakek, ini adalah bukti cinta orang tua Kakek dulu. Mereka membangun ini agar orang lain mudah beribadah.” “Oh…” Daffa mulai paham. “Jadi, walaupun sudah meninggal, kebaikannya masih jalan terus ya?” “Betul sekali,” jawab Kakek. “Dan t...