JEJAK CINTA YANG TAK PERNAH USAI

Cerpen Cahaya Dhuha #37

JEJAK CINTA YANG TAK PERNAH USAI 
@hmad Rasyid 

Langit sore di kampung itu berwarna jingga keemasan. Di halaman musalla kecil yang teduh, Kakek Acit duduk santai di bangku kayu, ditemani dua cucunya: Daffa dan Nadifa. Suara gemericik air dari tempat wudhu di samping musalla terdengar menenangkan.
“Kek, kenapa sih Kakek selalu senyum kalau lihat tempat wudhu ini?” tanya Nadifa sambil menggoyang-goyangkan kakinya.

Kakek Acit tersenyum lebih lebar. “Karena ini bukan sekadar tempat wudhu, Nak. Ini jejak cinta.”

Daffa mengernyit. “Jejak cinta? Emangnya tempat wudhu bisa jatuh cinta, Kek?”

Nadifa langsung menyahut, “Mungkin airnya lagi kasmaran sama keran!”

Kakek Acit tertawa kecil. “Kalian ini, ada-ada saja. Maksud Kakek, ini adalah bukti cinta orang tua Kakek dulu. Mereka membangun ini agar orang lain mudah beribadah.”

“Oh…” Daffa mulai paham. “Jadi, walaupun sudah meninggal, kebaikannya masih jalan terus ya?”

“Betul sekali,” jawab Kakek. “Dan tugas kita adalah menjaga itu semua. Itu salah satu cara mencintai dan menghormati orang tua yang sudah tiada, Nak.”

Nadifa menatap tempat wudhu itu dengan serius. “Kalau misalnya kita malas bersihin, itu berarti kita nggak sayang sama orang tua, ya?”

Kakek mengangguk pelan. “Bisa begitu. Apalagi kalau sampai merusak atau menghilangkan manfaatnya.”

Daffa tiba-tiba teringat sesuatu. “Kek, kemarin aku lihat ada orang mau nutup jalan ke makam kiai di ujung desa. Katanya biar ‘lebih rapi’. Itu gimana?”

Wajah Kakek Acit berubah teduh namun tegas. “Nak, kalau tempat itu sering didatangi orang untuk berziarah, bertawasul, atau mendoakan orang saleh, jangan sampai dihalangi. Menutup jalan itu sama saja mempersulit orang berbuat baik.”

Nadifa mengangkat tangan seperti sedang di kelas. “Berarti kita harus buka jalan kebaikan, bukan nutup jalan kebaikan!”

“Pintar sekali,” puji Kakek.

Daffa tersenyum jahil. “Kalau jalan ke dapur ditutup, itu termasuk menutup jalan kebaikan juga nggak, Kek?”

Kakek tertawa, “Kalau itu, yang protes pasti perutmu duluan!”

Mereka bertiga pun tertawa bersama, suasana semakin hangat.

Angin sore berhembus lembut. Kakek Acit lalu melanjutkan dengan suara yang lebih dalam, “Rasulullah pernah mengajarkan, mencintai orang tua yang sudah meninggal bisa dengan banyak cara. Salah satunya menjaga amal jariyah mereka.”

“Amal jariyah itu yang pahalanya terus mengalir ya, Kek?” tanya Nadifa.

“Iya. Seperti musalla ini, tempat wudhu ini, atau bahkan jalan menuju tempat orang-orang beribadah atau berziarah itu tadi.”

Daffa mengangguk-angguk. “Berarti kalau kita memperbaiki yang rusak, itu juga bentuk cinta ya?”

“Betul, Nak. Bahkan itu bisa jadi hadiah pahala untuk mereka.”

Nadifa tiba-tiba tersenyum nakal. “Kalau aku bantu bersihin, nanti dapat pahala juga kan, Kek? Lumayan buat ‘tabungan akhirat!”

Daffa menimpali, “Iya, tapi jangan niatnya cuma nabung pahala, harus ikhlas juga!”

“Eh, kamu ceramah banget sih!” balas Nadifa sambil mencubit pelan lengan kakaknya.

Kakek Acit hanya tersenyum melihat mereka. “Kalian berdua benar. Niatnya harus ikhlas, tapi semangatnya juga harus ada.”

Sejenak suasana menjadi hening, hanya terdengar suara air yang terus mengalir.

Kakek kembali berkata, “Selain itu, ada lagi yang penting: jangan memutus silaturahim dengan orang-orang yang dulu dicintai oleh orang tua kita.”

“Seperti teman-temannya?” tanya Daffa.

“Iya. Atau saudara, tetangga, siapa saja yang dekat dengan mereka. Kalau kita menjalin hubungan baik dengan mereka, itu juga bentuk bakti.”

Nadifa tersenyum lembut. “Berarti cinta itu panjang ya, Kek. Nggak berhenti walaupun orangnya sudah nggak ada.”

“Benar,” jawab Kakek. “Cinta itu seperti air di tempat wudhu ini — terus mengalir, memberi manfaat, dan menenangkan.”

Daffa berdiri, lalu berjalan ke arah keran. Ia membukanya perlahan. Air mengalir jernih.

“Kek, aku janji akan bantu jaga tempat ini,” katanya mantap.

Nadifa ikut berdiri. “Aku juga! Tapi aku bagian nyemangatin aja ya… sama ngawasin Daffa biar nggak malas!”

“Lho, kok aku yang diawasi?” protes Daffa.

“Biar kamu nggak kabur ke dapur terus!” jawab Nadifa cepat.

Kakek Acit tertawa hangat. “Kalian ini benar-benar penyejuk hati Kakek.”

Langit semakin redup, dan suara azan 
mulai terdengar dari kejauhan.

Kakek Acit memandang kedua cucunya dengan penuh haru. “Ingat ya, Nak. Mencintai orang tua bukan hanya saat mereka hidup. Tapi juga dengan menjaga amanah, meneruskan kebaikan, dan tidak menghalangi orang lain dalam berbuat baik.”

Daffa dan Nadifa mengangguk bersamaan.

Di halaman kecil itu, di antara tawa dan nasihat, cinta kepada yang telah tiada terasa begitu hidup — mengalir seperti air, menghangatkan seperti senja, dan abadi dalam setiap kebaikan yang dijaga.

AmbuEnten, 12 April 2026 
#CahayaDhuhaAsaKeluarga 
#CerpenBuatCucunda

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI