DI BAWAH LANGIT SUMENEP: TAWA, MIMPI, DAN PERSAHABATAN SPGN ’87
DI BAWAH LANGIT SUMENEP: TAWA, MIMPI, DAN PERSAHABATAN SPGN ’87
@hmad Rasyid
Angin sore dari arah tenggara _talangan buja_ Nambakor, Sumenep membawa aroma asin yang samar ketika aku, Matrasit, berdiri di depan gerbang SMKN Sumenep yang catnya masih cantik mengkilap. Sekolah yang pernah merenda mimpi kami, para siswa calon guru profesional, di kawah candradimuka SPGN Sumenep.
Cat SPGN dulu mungkin sudah memudar, tapi kenangan di dalamnya justru semakin terang benderang.
“Sit, masih suka bengong ya? Kayak dulu, lihat angka bisa lupa makan!” suara itu menyambar dari belakang.
Aku menoleh. “Syaiful Bahri! Astaghfirullah… kamu masih saja tiba-tiba!”
Ia tertawa lebar. “Kalau nggak tiba-tiba, bukan aku namanya. Ingat nggak, dulu kamu bilang angka itu sahabatmu?”
“Sekarang tetap,...” jawabku, “...bedanya, dulu sahabat, sekarang sahabat quadrat.”
Kami tertawa bersama. Satu per satu teman datang, seperti potongan puzzle yang kembali menyatu.
Samiaji muncul dengan langkah tegap. “Assalamu’alaikum, barisan alumni! Siap-siap, siapa yang telat saya tilang!”
“Waduh, Pak Polisi datang!” seru Hasan Juz.
“Lho, ini bukan jalan raya, Ji,...” sela Buhari, “...ini halaman kenangan.”
Samiaji tersenyum tipis. “Hukum tetap hukum, Ri. Telat itu melanggar aturan hati.”
“Wah, sudah jadi polisi rasa pujangga,” celetuk Misrawi, kakak Buhari, membuat kami kembali pecah dalam tawa.
Kami duduk melingkar di bawah pohon pinus yang dulu jadi saksi kami menghafal rumus dan puisi. Aku menatap wajah-wajah itu — Tayyip yang dulu paling rajin, Fadli yang rada atlet berkelas, Salam yang semakin subur, dan Nurhayati yang senyumnya selalu menenangkan.
“Ingat nggak,...” kataku memulai, “...waktu kelas dua kita dipisah? Ada kelas Matematika dan Bahasa (kelas A), IPA dan Bahasa (kelas B), IPS dan Bahasa (kelas C), sama kelas TK.”
“Jelas ingat,” sahut Nurhayati. “Aku sampai bingung waktu itu, mau jadi guru atau penulis.”
“Dan akhirnya?” tanya Syaiful.
“Masih menulis… tapi daftar belanja,” jawabnya santai.
“Hebat! Itu juga butuh tata bahasa yang benar,” Syaiful menimpali cepat, membuat semua terbahak.
Fadli menggeleng. “Kalau aku, tetap di dunia pendidikan. Walau muridku kadang lebih pintar dari gurunya.”
“Kalau itu, muridnya yang hebat atau gurunya yang jujur?” tanya Salam pelan.
“Dua-duanya,” jawab Fadli sambil tersenyum.
Samiaji menyandarkan punggungnya ke batang pohon. “Kita dulu disiapkan jadi guru, tapi tak semua jalannya ke sana.”
“Seperti kamu,...” kata Tayyip. “...Dari kelas Matematika & Bahasa, malah jadi pak polisi.”
“Bahasa itu penting,...” jawab Samiaji. “...Kalau nggak bisa ngomong baik-baik, susah juga menenangkan orang.”
“Wah, jadi polisi sekaligus motivator,” ujar Hasan Juz.
Aku mengangguk. “Dan si Gani… masih di armada bus Akas, kan?”
“Ya,...” kata Buhari. “...Dia bilang, walau bukan guru di kelas, dia merasa mengajar di jalan. Mengantar orang dengan aman itu juga pelajaran hidup.”
“Dalam,..." kata Syaiful sambil pura-pura mengusap air mata. “...Aku jadi ingin naik bus gratis.”
“Gratis dari mana?...” sahut Misrawi. “...Kamu saja dulu sering ‘gratis’ makan di kantin, alias ngutang!”
“Eh, itu strategi ekonomi kreatif. Benar nggak apa kata Salman dulu, kan?” Syaiful membela diri.
Tawa kembali pecah. Suasana hangat seperti dulu - tanpa jarak, tanpa sekat.
Aku menatap mereka satu per satu. “Kita mungkin berbeda jalan. Ada yang jadi guru, polisi, pedagang… tapi rasanya kita punya satu tujuan yang sama.”
“Mencerdaskan kehidupan bangsa,” jawab Nurhayati pelan.
“Betul,” sambung Fadli. “Dulu kita aktif di pramuka, olahraga, dan kegiatan keagamaan. Semua itu bukan sekadar kegiatan, tapi latihan hidup.”
“Dan latihan sabar,” tambah Salam.
“Terutama menghadapi Syaiful,” kata Hasan Juz.
“Eh, aku ini pelengkap kebahagiaan!” protes Syaiful.
“Lebih tepatnya sumber kegaduhan,” timpal Tayyip.
“Gaduh itu tanda kita masih hidup,” jawab Syaiful mantap.
Aku tersenyum. “Kalian tahu? Kadang aku rindu masa-masa kita belajar matematika sambil bercanda, atau membaca puisi dengan penuh perasaan.”
“Sekarang juga bisa,...” kata Nurhayati. “...Coba, Sit, bacakan satu bait saja!”
Aku menghela napas, lalu berkata pelan, berlaga sok puitis:
_Amendha ngembang bako, bunga talebat_
_Towan romana gumbira, atena noro' rabak lat-nyambilat_
_Sabarengngan pas asilpi e amper adha'_
_Ceplas, ceplos, jeblus - monyena gudrik_
_Salam ban Syaiful pas ngonjur addu buggik_
_Settong, dhuwa', tello'_ _Ceplok_
_Ya tamaso' se noles reya ta' kadinggalan selpok_ _Daaaa..._
“Wah, romantis sekali,” celetuk Syaiful. “Tapi jangan dibagi-bagi, nanti habis!”
“Justru kalau dibagi, kita makin banyak,” jawabku.
Samiaji mengangguk. “Seperti ilmu. Semakin dibagikan, semakin berarti.”
Senja mulai turun, langit berubah jingga. Kami terdiam sejenak, menikmati momen yang tak bisa diulang.
“Teman-teman,” kataku, “mungkin kita tak lagi duduk di bangku yang sama, tapi kita tetap satu kelas - kelas kehidupan.”
“Dan kita lulus?” tanya Syaiful.
“Belum,...” jawab Misrawi. “...Selama masih hidup, kita masih ujian.”
“Waduh… kalau begitu, aku harap tidak ada remedial,” Syaiful berseloroh.
“Kalau kamu, pasti remedial terus,” kata Buhari.
“Tenang,....” Syaiful tersenyum. “...Selama ada kalian, aku siap belajar lagi.”
Kami saling berpandangan. Tak ada yang lebih berharga dari persahabatan yang tumbuh dari mimpi yang sama.
Di bawah langit Sumenep, kami — alumni SPGN ‘87 Kelas MASTEKSA — bukan sekadar kenangan. Kami adalah cerita yang terus berjalan membawa semangat mencerdaskan dengan cara kami masing-masing.
Dan di antara tawa dan candaan, kami tahu — ikatan ini tak akan pernah pudar.
Pasongsongan, 23 April 2026
#BerbagiItuIndah
#Mella'Ate
#KomalaMostekanaAte
#MASTEKSA
Komentar
Posting Komentar