ANJALA SOTRA
#02 SERI PAREBASAN MADURA
Anjala Sotra
Entahlah, sudah berapa beribu juta orang yang dicipta dan telah dilahirkan ke dunia. Bisa dipastikan di antara mereka yang terlahir tak ada yang sama, walau mereka terlahir kembar sekalipun. Ada kemiripan so pasti, baik postur tubuh dan roman muka; karakteristik yang hampir tiada beda; gaya hidup, logika berpikir, dan kehendak yang semi sejalan; serta prilaku umum lainnya. Sebab eksistensi yang mendekati kesamaan atau lebarnya perbedaan itulah kemudian mengharuskan antar mereka menjalin adanya kompromi sosial yang mengikat.
Asumsi "anjala sotra" bagi orang Madura sebagai simbol kebijaksanaan dalam permusyawaratan dengan mengedepankan segi kemanusiaan yang adil dan beradab. Dua istilah yang timbul dari laut dan darat. Para nelayan dalam aktifitas keseharian selalu berhubungan dengan jenis alat tangkap ikan. Sebut saja "jala". Ikan apa yang hendak ditangkap tentu akan disiapkan "jala" yang sesuai. Sedangkan "sotra" merupakan jenis pakaian yang tergolong mahal dan langka. "Sotra" memunculkan aura karismatik, agung, dan wibawa.
"Anjala sotra" awalnya merupakan istilah strategi politik yang dikembangkan oleh Sultan Abdurrahman, Raja Sumenep (1811 - 1854) ketika menghadapi penjajahan Belanda. Ia berprinsip "mega' juko' aengnga se ta' lekkowa". Pada gilirannya dalam hubungan sosial, politik, dan budaya menjadi simbol karakteristik luhur seseorang. Pribadi yang demikian akan tercermin pada halus budi pekerti, tutur bahasa yang santun, dan mengedepankan hak-hak kemanusiaan universal, serta prikehidupan yang adil dan beradab. Sikap politisnya tak terlihat semata untuk membunuh karakter lawan. Prilaku "anjala sotra" bagi bangsa Madura sebagai warisan adiluhung budaya ksatria bangsa Madura yang wajib dibudayakan sekaligus dilestarikan.
#ArtikelTigaAlinea
#by. Ahmad Rasyid
#Ambunten, 20 Mei 2020
Anjala Sotra
Entahlah, sudah berapa beribu juta orang yang dicipta dan telah dilahirkan ke dunia. Bisa dipastikan di antara mereka yang terlahir tak ada yang sama, walau mereka terlahir kembar sekalipun. Ada kemiripan so pasti, baik postur tubuh dan roman muka; karakteristik yang hampir tiada beda; gaya hidup, logika berpikir, dan kehendak yang semi sejalan; serta prilaku umum lainnya. Sebab eksistensi yang mendekati kesamaan atau lebarnya perbedaan itulah kemudian mengharuskan antar mereka menjalin adanya kompromi sosial yang mengikat.
Asumsi "anjala sotra" bagi orang Madura sebagai simbol kebijaksanaan dalam permusyawaratan dengan mengedepankan segi kemanusiaan yang adil dan beradab. Dua istilah yang timbul dari laut dan darat. Para nelayan dalam aktifitas keseharian selalu berhubungan dengan jenis alat tangkap ikan. Sebut saja "jala". Ikan apa yang hendak ditangkap tentu akan disiapkan "jala" yang sesuai. Sedangkan "sotra" merupakan jenis pakaian yang tergolong mahal dan langka. "Sotra" memunculkan aura karismatik, agung, dan wibawa.
"Anjala sotra" awalnya merupakan istilah strategi politik yang dikembangkan oleh Sultan Abdurrahman, Raja Sumenep (1811 - 1854) ketika menghadapi penjajahan Belanda. Ia berprinsip "mega' juko' aengnga se ta' lekkowa". Pada gilirannya dalam hubungan sosial, politik, dan budaya menjadi simbol karakteristik luhur seseorang. Pribadi yang demikian akan tercermin pada halus budi pekerti, tutur bahasa yang santun, dan mengedepankan hak-hak kemanusiaan universal, serta prikehidupan yang adil dan beradab. Sikap politisnya tak terlihat semata untuk membunuh karakter lawan. Prilaku "anjala sotra" bagi bangsa Madura sebagai warisan adiluhung budaya ksatria bangsa Madura yang wajib dibudayakan sekaligus dilestarikan.
#ArtikelTigaAlinea
#by. Ahmad Rasyid
#Ambunten, 20 Mei 2020
Komentar
Posting Komentar