Mengenali Guru
Aku Adalah Guru Profesional
Bila GURU mengajar di depan kelas __siswa diminta "memperhatikan"__, BUKAN GURU TAK TAHU METODE MENGAJAR YANG BAIK. Melainkan karena siswa sedang dididik untuk menghargai orang lain. Mampu menyimak dan fokus terhadap "sesuatu" yang disampaikan oleh siapapun. Seiring dengan hadits Rasulullah, "Lihat (perhatikan) apa yang disampaikan, dan jangan kau lihat siapa yang menyampaikannya."
Bila GURU _nyangoe_ "Pekerjaan Rumah", siswa diminta menyelesaikan, sekali-kali bukan semata ingin memberi "beban" tambahan, tetapi karena siswa sedang diarahkan untuk bisa mengisi waktu di rumah dengan kegiatan belajar berkualitas, di samping hak-hak anak lainnya. Sebab disayangkan bila waktu yang lebih berpeluang di rumah tidak termanfaatkan dengan efektif dan efisien. PR yang terstruktur adalah salah satu solusi pemanfaatan waktu.
Guru ketika suatu waktu harus "merobek kertas ujian" karena menyontek, lalu diminta mengikuti ujian susulan, ingatlah -- bukan karena guru berlaku jahat. Tidak juga biadab. Tetapi karena siswa sedang dididik pentingnya berprilaku kejujuran. Kejujuran sebagai salah satu indikator indah kamil. __ Kejujuran itu (akan) menyelamatkan__ as- shidqu munajjin. (maqala)
Lalu bagaimana jikala GURU menyusun jadwal kebersihan, maaf _ siswa diminta membersihkan lingkungan sekolah, BUKAN karena GURU SEENAKNYA MEMERINTAH, tetapi karena siswa dididik untuk bisa bertanggung jawab terhadap sesuatu yang dibebankan, sekaligus mampu memotivasi diri tumbuhnya cara menghargai diri dan lingkungan sekitar. Bila di sekolah sudah tersedia juru kebersihan dan juru kebun, tetaplah dibutuhkan disain keterlibatan siswa dalam peduli lingkungan secara langsung.
Bila GURU berbicara keras karena siswa kurang memperhatikan atau siswa tak melaksanakan beban pekerjaannya, BUKAN karena GURU BENCI, tapi siswa sedang dididik untuk mampu menyadari akan sikap SALAH yang diperbuatnya. Evaluasi Diri semestinya dibangun secara komperhensif sedari dini, termasuk oleh GURU. Bangun dan tumbuhkan untuk terbiasa tidak mengkambinghitamkan sesuatu yang diperbuatnya sendiri, sebab sadar diri.
Bila Guru menggunakan alat pendidikan, semisal memberikan hukuman fisik yang menimbulkan rasa "sedikit sakit" bagi siswa yang bersikap bandel. Indisipliner. Maaf, BUKAN karena GURU MARAH atau MERENDAHKAN KEHORMATAN -- TIDAK. Melainkan karena siswa sedang dididik untuk menyadari kesalahan, mengerti kebaikan dan kembali pada jalan taat azas.
Hal terakhir yang harus kita pahami bila GURU melarang siswa melakukan hal-hal yang terlihat mengasyikkan, misalnya: bergaul secara intim dengan teman lain jenis, suka mabuk-mabukan, bermain game dengan gaway tanpa mengenal waktu dan seterusnya BUKAN karena GURU TAK MENGERTI KESENANGAN siswa, tetapi karena siswa sedang dididik untuk menatap masa depan lebih baik. Yaitu bagaimana mereka dapat memanfaatkan waktu dan menjaga kesehatan pikiran dan jiwanya.
Sehingga di sinilah GURU mengerti dalam perannya secara aktif bagaimana menumbuhkan daya kreatifitas siswa secara normal dan optimal.
Guru akan dan harus tetap berada di garis terdepan sebagai agen perubahan ke arah yang positif. Perlunya intensitas guru dalam pemanfaatan media digital searah dinamika perubahan dan kebutuhan siswa itu sendiri.
Selamat Hari Guru Nasional ke-74 tgl 25 November 2019
#BANGGALAH MENJADI GURU
#BANGKITLAH BERSAMA GURU MENAPAKI INDONESIA MAJU
#Jatim Expo Surabaya, 24 Nopember 2019
Komentar
Posting Komentar