GEGARA BIGALAN YANG LAGI VIRAL
Tiba-tiba dari kejauhan datang seorang lelaki setengah baya
melewati pintu depan pagar sekolah bergegas menuju ruang guru. nampak dari
roman mukanya ada rasa kekhawatiran yang melingkupi. Tuturnya pun terbata-bata.
"Hei, bapaknya Fairuz," kata teman kelasnya saling
berbisik. Yang lain pun mendongak memandanginya.
"Ya, emangnya ada apa sih?" selidik Irma yang sedang
berdiri di barisan depan bagian kedua.
"Paling masalah kemarin tu," tanggap Ira.
"Ya, tapi masalahnya apa?" Kembali Irma mendesaknya.
"Pokoknya heboh, deh, seru pakai banget lagi!" Ira masih
merahasiakannya sekaligus membuat yang lain tambah penasaran.
"Mana serunya, kalau kamu tak ngomong? Hanya bikin penasaran
gitu. Ni, coba dirasa detak hatiku semakin tak tentu, bawaannya deg-degan saja
lo," sanggah Irma sambil melototinya seraya meraba-raba dadanya.
"Kamu, sih gak update
info,” timpal Ira, meledek.
"Tapi, Ira...." Irma mulai sedikit geram responnya.
Si lelaki itu berusaha menemui Bapak Kepala sekolah yang sedang
berada di ruang guru sendirian.
“Pak, mohon maaf, ya, kalau saya lancang,” suaranya tergopoh-gopoh
sambil membungkuk dalam keadaan berdiri.
“Ya. Silahkan duduk dulu, lalu sampaikan tentang apa. Saya kok
nggak ngerti, Pak,” ucap Kepala Sekolah.
“Saya kan baru datang dari melaut. Kaget sekali, ada apa kok rame-rame
gitu kan? Anak saya, Fairuz itu, sering bandel, Pak” lapornya masih tetap
berdiri.
“Ya, Fairuz itu kelas berapa?” selidik Kepala Sekolah, “… ya,
sedikit wajar lo, Pak, bila anak lelaki itu sedikit agak bandel. Biasanya itu
cerdas lo.”
“Lo, Bapak ini. Anak saya itu perempuan, bukan laki-laki.
Fairuziyawati, panjangnya, dipanggil Fairuz, Pak,” si tamu itu menjelaskan
sambil sedikit tersenyum. Mungkin dirasa sedikit lucu, aneh barangkali baginya,
masak kepala sekolah nggak kenal muridnya.
“O, perempuan, saya pikir dia laki-laki. Mohon maaf, ya, Pak. Saya
memang tidak hafal satu per satu nama-nama siswa kami. Maklum cukup banyak.
Silahkan duduk dulu biar lebih enjoy,” pinta kepala sekolah lagi.
“Kemarin, waktu jam istirahat anak saya itu kan pamit pada Pak
Guru, katanya. Anak itu bersama temannya, si Jesi. Pamitnya, mau ngambil sango,
padahal uang dari ibunya itu sudah cukup. Tapi mereka tidak sampai ke rumah lo,
Pak. Lalu, ibunya dapat telpon dari handphone yang biasa dibawa anak
saya. Kebetulan waktu itu dia tak membawanya. Ditelpon oleh temannya, katanya
Fairuz sudah lama tidak kembali ke sekolah, padahal waktu itu sudah bel masuk
kelas. Ya, otomatis kan bila kami bingung,” tutur si Bapak itu panjang lebar.
Sedangkan kepala sekolah sudah waktunya untuk ke lapangan bersama para siswa.
“O, begitu. Lalu kenapa harus bingung, Pak?” tanya kepala sekolah
lagi.
“Lo, bagaimana tidak bingung, Pak, bukankah sekarang itu telah
terjadi banyak penculikan anak sekolah. Bigalan tu, Pak. Kami
benar-benar takut untuk kehilangan dia, Pak,” jelasnya.
“Hem, baik, saya mulai paham. Mohon maaf, ya, Pak! Biarlah setelah
senam akan dikonfirmasi kepada mereka tentang apa yang telah terjadi. Sekalian
nanti akan saya wanti-wanti agar lebih waspada terhadap isu-isu yang memang
lagi viral saat ini,” ujar kepala sekolah.
“Ya, Pak. Maaf, bila saya sedikit merepotkannya. Tolong titip anak
saya. Mari, Bapak,” ucapnya mengakhiri. Tak lupa ia bersalaman sebelum pergi.
************
Irama Musik senam kebugaran jasmani pelajar 2022
sudah diputar. Para siswa mengikuti musik senam dengan penuh semangat. Walaupun
masih nampak di sana-sini ada keragu-raguan dalam gerakan. Maklum mereka masih
baru menerima pelatihan gerakan senam itu. Itupun hanya diterimakan bagi mereka
yang sudah kelas tinggi, sedangkan untuk kelas awal belum. Mereka hanya
mengikuti dari belakang pada saat senam dilakukan secara bersama-sama untuk
semua kelas.
Yang teramat kentara dalam ketidakseriusan
gerakan adalah Irma. Pasalnya, ia ingin segera mengetahui kehebohan yang
terjadi di rumah Fairuz. Dirinya penasaran dengan cerita Ira.
“Ira, ayo ceritakan!” desak Irma setelah
bapaknya Fairuz jauh dari pandangan.
“Ya, kenapa kalau nanti saja Ir sehabis senam,”
tangkis Ira.
“Ndak! Pokoknya harus cerita sekarang, titik,”
desak Irma.
“Ya, tapi kita nggak fokus, Ir,” kilah Ira lagi.
“Sudah… sudah! Ayo ceritakan sambil senam!,”
desaknya lagi.
Tetiba tanpa diketahui oleh keduanya, guru kelas
enam sudah berdiri tepat di tengah-tengah mereka berdua.
“Irma, Ira… ada apa kalian kok nggak ngikuti
irama. Ayo, fokus!” pintanya. Kemudian berpindah ke tempat lain, memberikan
perhatian bagi siswa yang kurang semangat.
“Baik… ya, Pak. Maaf…!” ucap Irma seraya
merundukkan badannya. “… Ira, ayo ceritakan! Pak Guru sudah menjauh. Tak
mungkin ke sini lagi,” desaknya, sambil lalu melakukan gerakan sekenanya.
“Begini…,” Ira mulai bercerita. “… kemarin
katanya, ibunya Fairuz itu teriak-teriak bagaikan kesakitan. Ia berlarian ke sana
ke mari. ‘Fairuz, kamu kemana, Nak? Begitu teriaknya.” Ira sambil lalu melirik
ke belakang takut bapak ibu gurunya menegurnya lagi.
“Nggak ada. Ayo lanjutkan!” pinta Irma sambil
mengawasi di sekelilingnya.
“Nah, sebab teriakannya itu, warga tetangga
sontak keluar mendatangi di mana suara itu berasal, begitu…,” lanjutnya. “Fairuz
diculik orang, Pak. Dibawa bigalan,
Bu. Sekarang tak ada di sekolah,
katanya.” Mantap sekali cerita Ira, seolah-olah ia tahu langsung apa yang
terjadi.
“Sebentar, Ira. Bukankah kamu juga ada di sekolah
kemarin, kok tahu?” tanya Irma, rada-rada kurang percaya pada yang dikisahkan
Ira.
“Lo, ya, emang. Tapi ibuku yang tahu. Ibuku yang
cerita padaku sepulang sekolah kemarin,” Ira beralasan. “Mau lanjut apa tidak
ini?”
“Ya, harus dong…!”
“Nah, gitu. Kamu sih banyak tanya,” timpal Ira.
“Kamu nanya. Kamu bertanya-tanya…?” intermeso
Irma.
“Mau terus, ni…?”
Irma diam. Ia tak menjawab atas pertanyaan Ira.
Ia cuma mengacungkan jempol tangan kanannya tinggi-tinggi sebagai pertanda
setuju dilanjutkan sambil bergerak bersenam irama.
“Nah, pada saat orang-orang mulai ramai
tiba-tiba bapak si Fairuz itu datang dengan membawa ember di tangannya,
sedangkan sarung yang ia bawa dililitkan pada lehernya, yang terlihat celana
pendek yang dikenakan saat itu basah. Ia berjalan bergegas dan menerobos
segerombolan orang yang masih menganga. Ia juga semakin ketakutan setelah
dikabarkan jikalau Fairuz itu diculik orang. Ia tak kuat untuk berdiri lagi.
Hanya kuasa bersimpuh di tengah halaman rumahnya di mana orang-orang berkerumun.
Ia seolah-olah pasrah pada keadaan saat itu,” jelas Ira.
“Terus, para tetangga itu masak tak ada yang
berusaha mencari tahu tentang Fairuz, ada di mana gitu?”
“Hem, sepertinya nggak ada, kata ibu.”
“Nah, itu masalahnya. Semestinya dalam keadaan
seperti itu bukan semua diam. Apa gunanya bertetangga. Harusnya saling bahu
membahu mencari informasi, entah ke sekolah, atau ke rumah temannya. Siapa tahu
ia ada di sana. Artinya harus ada yang mau berpikiran waras, bukan semua ikut
sakit,” ucap Irma, seolah-olah orang dewasa yang bijak.
“Ya. Kok tak ada yang kepikiran gitu, dan lagi
tumben kamu bisa cerdas seperti itu,” tanggap Ira, keheranan pula.
“Hei, Ira dan Irma! Ayo cepat mengahadap Bapak!
Apa saja kalian yang dibicarakan. Yang lain senam penuh semangat, e… kalian
ngobrol. Ayo, sini, cepat…!” suara wali kelas itu bertambah keras.
Sembari napas ngos-engosan, mereka berdua sampai
juga di hadapan Pak Guru dengan pandangan lengket seolah hanya pada satu titik
sujud saja, diam.
“Hei, kalian ini kelas berapa sih?” tanyanya. Kalimat
tanya yang sebenarnya tidak memerlukan sebuah jawaban. Tapi, pertanyaan semacam
dirasa perlu untuk diungkapkan oleh Pak Guru. “Kalian ini sudah kelas enam,
sudah lebih dewasa daripada yang lain. Mestinya tampilkan perilaku yang lebih
baik, yang dapat diteladani oleh adik-adik kalian. Mereka butuh contoh yang
baik dari kalian. Bukan malah mencontohkan hal keburukan.”
Mereka hanya berdiri pasrah, menyadari hal itu
sebagai perilaku yang negatif, yaitu tidak fokus pada aktifitas pokok saat itu.
“Sebentar, sebenarnya apa sih yang kalian
diskusikan waktu senam tadi? Ayo, siapa di antara kalian yang mau jawab?!”
pinta Pak Guru.
“E…itu, Pak, tentang tamu yang tadi.” Ira
memberanikan diri.
“Tentang bapaknya Fairuz…?” Pak Guru keheranan.
“Apa yang kamu ketahui tentangnya?”
“Saya tak banyak tahu. Sebab, kemarin saya
masuk, Pak.”
“Lalu …,” harap Pak Guru.
“Gini, Pak. Ketika Fairuz izin sama Bapak
kemarin untuk beli buku kan bareng Jesy. Mereka lama sekali untuk kembali. Atas
inisiatif Lia, saya meneleponnya.” Ira berhenti sejenak.
“Sebentar, kamu nelpon siapa?” lanjut Pak Guru.
“Saya maunya nelpon Fairuz, Pak. Tapi, yang
ngangkat kok ibunya. Saya nggak tahu kalau Fairuz nggak bawa hp hari itu,”
jelas Ira.
“Terus, apa yang kamu sampaikan padanya?” tanya
Pak Guru lanjutnya.
“E…, saya ngabari kalau Fairuz sekarang belum
kembali ke sekolah. Katanya mau ngambil sango gitu. Tapi, ibunya membantah
jikalau Fairuz tak pulang ke rumahnya. Uang sango yang diberinya sudah cukup,
katanya. Lalu saya tutup. Tahunya, kata ibuku, di rumah Fairuz rame-rame,
disangkanya tak kembali ke sekolah, takutnya diculik begalan” jelas Ira. Sedangkan Irma di sisinya hanya manggut-manggut,
ia tidak tahu-menahu.
“Coba, mana Fairuz dan Jesy?” panggil Pak Guru.
Mereka bergegas menghadapnya, lalu berjejer
bersama Ira dan Irma di samping depan Pak Guru.
“Fairuz, gimana cerita yang sebenarnya. Apa
benar kamu beli buku bersama Jesy?” selidik Pak Guru.
“Ya, Pak. Kami ke rumah Jesy ngambil uang,
duduk-duduk sebentar, lalu ke toko Mak Um beli buku. Saya juga beli dengan
sango sendiri,” jelas Fairuz.
“Kamu, nggak ke rumah? Nggak tahu apa yang
terjadi?”
“Tidak, Pak.”
“Nah, aku baru tahu sekarang, mengapa bapaknya
Jesy ke sini.”
Kelihatan siswa sudah mulai tak beraturan. Di
sana-sini mereka berkumpul. Tapi Pak Guru tetap tak membubarkan yang lain. “Sollu ‘alannabi Muhammad…,” yel-yel Pak
Guru.
Sontak serempak para siswa menjawabnya, “Sollallahu ‘alaih.”
“Hai, anak-anakku sekalian. Isu tentang
penculikan anak sekarang massif. Video di medsos tak terkendali. Kasus yang
terjadi di tahun-tahun sebelumnya pun diangkat sehingga seolah-olah menjadi
sumber berita yang up to date. Padahal itu lawas. Kita harus hati-hati.
Kalian jangan pulang sendirian kalau belum dijemput. Kalau melihat sesuatu yang
aneh atau mencurigakan, segeralah berlari ke tempat yang ramai. Usahakan
berteriak, paham, kan?” nasehat Pak Guru.
“Berikutnya, kita, para guru harus bersinergi
dengan orang tua siswa, pengawasan harus ditingkatkan. Siswa, jikalau akan
keluar dari sekolah karena kepentingan lain harus seizin Bapak-Ibu Guru kalian.
Lagi, terkait dengan kasus ini, kalau kalian akan memberikan informasi pada
orang lain, harus jelas kondisinya. Kita harus selalu bersandar kepada Allah,
berdoa dan perbanyaklah solawat. Solawat
al-Isyghil penting untuk dibaca setiap akan memulai dan mengakhiri kegiatan
pembelajaran sehingga kita mendapatkan rasa aman dan orang lain tak akan
berbuat menzalimi kita. Gimana, paham…?”
"Paham...," jawab siswa serempak.
"Baik. Itu saja amanah saya, semoga kita selalu dalam
lindungan-Nya. Seperti biasa, silahkan ambil sampah di manapun yang kalian
lihat di sekitar halaman sekolah. Wassalamu alaikum warahmatullah.“ Pak
Guru mengakhiri pembicaraannya.
Seluruh siswa membubarkan diri sambil mencari sampah yang terlihat
di halaman sekolah.
#Padangdangan, 14 Pebruari 2023

Hai Sobat, mohon umpan baliknya ya Sob
BalasHapus