Makna Filosofi Lagu GAI' BINTANG
Makna Filosofi Lagu GAI' BINTANG
(Versi Tafsir Penulis)
Sahabat, tentunya bagi masyarakat Madura dimulai dari anak-anak usia SD sudah sangat familiar sekali dengan lagu Gai' Bintang. Liriknya seperti di bawah ini.
Insya Allah pada tulisan ini penulis akan mengobarkan makna filosofis yang terkandung pada lagu tersebut.
Lirik lagu: GAI' BINTANG
Gai' bintang ale’ gaggar bulan
Pagai’na janor koneng
Kaka’ entar ale’ sajan jau
Pajauna gan lon-alon
Leya letes
Gembang kates
Leya letes
Tocca’ toccer
Ga' bintang adhu le'
Gaggar bulan adhu ka'
Pagai'na adhu le'
Janor koneng
Kaka' entar adhu le'
Sajan jau adhu ka'
Pajauna aduhh le'
Gan lon-alon
Terjemahan Bebas dalam bahasa Indonesia, sebagai berikut:
Mengait bintang (adik) yang jatuh (didapat) bulan
Pengkaitnya (menggunakan) janur kuning
Kakak hadir (mendekat), adik semakin jauh
Jauh sehingga lapangan
Leya leetes bunga pepaya tocca’ toccer
Sahabat, terdapat pepatah yang mengatakan "Gantungkan cita-citamu setinggi langit!".
Sebuah lagu yang diciptakan oleh seseorang dapat dipastikan memiliki makna serta pesan, baik yang tersurat maupun tersirat dalam lagu tersebut, termasuk pula dengan Gai' Bintang tentu.
Bintang merupakan benda langit yang memiliki cahaya sendiri yang berkedudukan sangat tinggi. Keberadaannya selalu berkilau indah di kala malam hari. Kelap-kelip atau gemerlap bintang gemintang sangat memukau siapapun yang memandanginya.
Hal ini memiliki makna bahwa bintang yang diraihnya akan menciptakan kemandirian di tengah persaingan global yang semakin ketat, kemudian dapat memberikan manfaat bagi manusia dan makhluk lainnya di bumi.
Gugusan bintang dapat menjadi petunjuk bagi para petani, kapan mereka harus membenih dan atau menanam. Sedangkan bagi kaum nelayan menjadi penanda dan penunjuk arah. Keadaan yang demikian kemudian diperhitungkan berdasarkan ilmu sains yang disebut "tete masa" oleh masyarakat Madura.
Lirik lagu, " Gai' bintang gaggar bulan" memiliki makna filosofi bahwa seseorang bolehlah bercita-cita setinggi langit, walaupun pada akhirnya kita mesti tunduk pada takdir, apakah dapat diraih atau tidak? Mungkin saja maksud hati ingin meraih bintang, tapi bilamana Sang Maha berkehendak bisa jadi bulanlah yang DIA beri. Sebab barangkali bulan itulah yang akan lebih bermanfaat dan sesuai dengan kadar kemampuan dan kebutuhannya.
Bintang dan bulan sama-sama benda langit yang mencerahkan bumi dan seisinya. Keduanya sangat bernilai manfaat pada perikehidupan manusia.
Bulan merupakan benda langit yang tidak memiliki cahaya sendiri namun dapat memantulkan cahaya Bintang yaitu matahari sehingga keberadaan bulan akan selalu nampak berbeda di malam hari yang didasarkan atas posisi antara bulan dengan bumi.
Bulan purnama merupakan gambaran kesempurnaan. Saat itu ia menampakkan kondisi yang utuh dan bundar, cahayanya nampak terang benderang, namun sejuk mendamaikan suasana. Kala itu mungkin saja akan menjadi sebuah momen yang penuh nada indah nan riang bagi penghuni bumi.
"Pagai’na janor koneng", dapat dimaknai bahwa dalam usaha menggapai cita-cita (bintang), harus menyiapkan segala hal yang dibutuhkan yang berupa ilmu, motivasi, dan strategi.
Pada lagu ini alat itu berupa janor (janur) yang berwarna koneng (kuning). Janur Kuning itu merupakan bagian dari daun kelapa yang masih muda biasanya berwarna kuning. Karena daun muda maka tempatnya di pucuk atau di bagian teratas.
Janur kuning oleh orang Madura biasa disebut dengan "ompos" atau"popos". Istilah ompos dapat dikoneksikan maknanya pada kata "ampos" yang bermakna sampai ujung atau titik yang terakhir.
Artinya untuk menggapai cita-cita tidak boleh setengah-setengah melainkan harus dilandasi dengan mujahadah atau jihad (semangat pagi/motivasi tinggi), sabar dan ikhlas. Jadi kalau menginginkan cita-cita tercapai harus menggunakan janor koneng yang memiliki karakteristik tersebut (jihad, sabar, dan ikhlas)
Atau dengan filosofi lain bahwa istilah JANOR KONENG akronem (singkatan) dari "JAlan yang dipenuhi NOR (cahaya) Kaangguy Olle pangaONENGan. Ialah ILMU.
Jadi, jalan atau cara atau media untuk menggapai bintang yang dicita-citakan harus memiliki ilmu yang cukup sesuai dengan kebutuhan.
"Kaka' entar", dimaknai bahwa orang yang dapat mengantarkan tercapainya suatu bintang adalah seorang fasilitator, orang berilmu (alim), orang dewasa yang mumpuni keilmuannya (kakak).
"Ale' sajan jau", maksudnya ketika orang dewasa memfasilitasi, maka harapan dan asa menjadi bertambah luas, keinginan dan cita-citanya bertambah tinggi.
"Pajauna gan lon-alon", keinginannya digambarkan seperti sebuah lapangan yang luas yang berguna untuk menjadi tempat ajang permainan, pertunjukan dan kegiatan lain yang bermanfaat untuk orang banyak.
"Leya letes, Gembang kates
Leya letes, Tocca’ toccer"
Memiliki makna bahwa setelah cita-cita dalam meraih bintang itu tercapai, maka ia akan bersukacita serta bersyukur kepada Allah Sang Maha Pemberi Nikmat. Si orang tua dari sang anak tentu akan merasa bangga dan pasti akan memberikan hadiah walaupun hanya berupa "gembang kates rambay" yang dipasangkan di kepala si anak sebagai sebuah mahkota, penanda rasa syukur dan kebanggaan terhadap tercapainya suatu cita-cita.
Jadi pencipta lagu berharap kepada kita semua bangsa Madura dan atau bangsa lainnya untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit kemudian berikhtiar serta berdoa untuk mencapai cita-cita dimaksud. Insya Allah Allah akan memberikan jawaban yang terbaik untuk cita-cita kita.
Sebagaimana firman Allah bahwa saya berada pada persangkaan hambaku. Jadi bercita-cita yang tinggi merupakan prasangkaan baik kepada Allah bahwa Allah akan mengabulkannya.
Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan menjadi lagu yang inspiratif.
#Ambunten, 21 Juli 2023
#Edisi : BERBAGI ITU INDAH
Komentar
Posting Komentar