BAHTERA PAGI
Pagiku di tepian pantai seolah terombang-ambing oleh gemuruh khayal yang harus sesegera kupilih entah jalan mana yang kuasa menghantarkan ke atas pucuk ilalang atau malah tergeletak di bawah akarnya.
Seolah-olah kepastianku masih merana dan ada dimana-mana, walaupun aku tahu takdir sudah dipastikan ketetapannya.
Betapa seolah-olah berat untuk menyebutnya hasbiyallahu wani'mal wakil, bahwa kepasrahan adalah hak seorang hamba kepada Tuannya.
Dan dalam gayung bahtera melupakan bahwa hasbiyallahu wani'man nashir, bahkan terkadang tiada mengakui bahwa segala sesuatu atas pertolongan Tuan terhadap hamba, lalu berjibaku perilaku egois jikalau sesuatunya semata karena usahanya.
Betapa mengabaikan keberadaan diri akan La haula wala quwwata illa Billah yang nyata pada kelas apapun tetap dalam ketiadaberdayaannya.
Semoga pagiku subhanallah wabihamdihi yang berlabuh tiada terhempas, melainkan tetap kokoh dalam jiwa yang penuh puisi cinta
Sumenep, 091018
Komentar
Posting Komentar